
JAKARTA – Tanggal 26 Agustus 1968 jadi hari bersejarah buat dunia musik. Pada hari itu, The Beatles merilis single paling panjang dan mungkin paling emosional dalam katalog mereka: “Hey Jude.”
Lebih dari sekadar lagu pop, ini adalah karya yang menyentuh sisi paling manusiawi kita: kesedihan, cinta, perpisahan, sekaligus harapan untuk bangkit. Dan siapa sangka, lagu sepanjang tujuh menit ini lahir dari luka hati seorang anak kecil, nasihat tulus seorang sahabat, dan keajaiban kreativitas The Beatles yang tak ada tandingannya.
Sebuah Lagu untuk Julian, Bukan untuk Dunia
Cerita dimulai bukan di studio Abbey Road, bukan di panggung megah, tapi di rumah keluarga Lennon yang sedang retak. Tahun 1968, rumah tangga John Lennon dan Cynthia Powell hancur berantakan gara-gara cinta John pada Yoko Ono.
Di tengah badai itu, ada seorang bocah kecil bernama Julian Lennon, putra tunggal John, yang tiba-tiba hidupnya berubah.
Paul McCartney, yang saat itu mungkin bisa disebut sebagai “paman terbaik di dunia,” suatu hari memutuskan untuk mengunjungi Julian. Dia mengemudi seorang diri menuju rumah keluarga Lennon di Weybridge, dengan pikiran kalut melihat sahabatnya bercerai.
Dalam perjalanan itu, Paul mulai merangkai kata-kata penghiburan buat anak kecil yang sedang patah hati karena keluarganya hancur.
Awalnya lirik itu berbunyi: Hey Jules, don’t make it bad, take a sad song and make it better.
Jules, tentu saja, adalah panggilan sayang untuk Julian. Paul ingin bilang, “hei, dunia mungkin lagi hancur, tapi kamu bisa bikin itu jadi lebih baik.”
Tapi ketika dia mencoba menyanyikannya, kata “Jude” terasa lebih enak dinyanyikan dibanding “Jules.” Dan begitulah, lahirlah judul “Hey Jude” yang kelak menggema ke seluruh dunia.
Antara Nasihat, Cinta, dan Gosip yang Tak Pernah Usai
Kisah ini terdengar manis, tapi sejarah Beatles selalu penuh gosip. Banyak fans bertanya, “Apakah Hey Jude sebenarnya tentang Julian, atau tentang John dan Yoko?”
Bahkan, ada juga yang percaya Paul sebenarnya menulis lagu itu untuk dirinya sendiri, sebuah mantra personal di tengah kekacauan band yang perlahan pecah.
John Lennon, dengan egonya yang khas, pernah bilang bahwa dia yakin Paul menulisnya untuk dirinya. Katanya, “That’s me, man. Subconsciously, Paul was writing about me leaving Cynthia for Yoko.” Paul, di sisi lain, selalu membantah, “No, mate. Itu buat Julian. Titik.”
Dan begitulah The Beatles: selalu ada drama, selalu ada lapisan makna, selalu ada perdebatan antara cinta, ego, dan interpretasi liar para fans.
Sesi Rekaman: Dari Emosi ke Keabadian
Kalau kita bicara The Beatles tahun 1968, kita bicara periode penuh friksi. Mereka baru balik dari India, hubungan personal semakin renggang, dan “White Album” sedang dalam proses rekaman. Tapi di tengah semua kekacauan itu, mereka masuk ke studio dan menggarap “Hey Jude.”
Paul jadi motor utama. Dia duduk di piano, mulai memainkan akord sederhana, dan suaranya langsung menghipnotis ruangan. Anggota band lain mengikuti. John di gitar akustik, George di gitar elektrik, Ringo di drum, plus orkestra 36 orang yang bikin klimaks lagu jadi meledak.
Bahkan, ada juga cerita lucu dari sesi rekaman. Ketika Paul lagi take, Ringo tiba-tiba pergi ke toilet. Paul tidak sadar dan mulai menyanyi dengan penuh perasaan. Tiba-tiba, Ringo masuk lagi, duduk di drum dengan santai, tepat sebelum bagian masuknya ketukan. Hasilnya? Take itu yang dipakai di rekaman final. Pure Beatles magic.
Dan tentu saja, bagian paling ikonik adalah outro sepanjang empat menit, di mana Paul mengulang-ulang “na-na-na-na” seperti mantra. Banyak label awalnya ragu, siapa yang mau dengar single sepanjang tujuh menit? Tapi, The Beatles bukan band biasa. Mereka bukan ngikutin tren, mereka bikin tren.
Perilisan: Single Panjang, Efek Panjang
Tanggal 26 Agustus 1968, “Hey Jude” resmi dirilis. Hanya butuh hitungan hari untuk menduduki puncak tangga lagu di seluruh dunia. Di Amerika, lagu ini nongkrong di nomor satu Billboard Hot 100 selama sembilan minggu, rekor untuk The Beatles.

Bagi banyak orang, “Hey Jude” bukan sekadar lagu. Itu jadi semacam doa kolektif. Bayangkan, dunia lagi kacau. Perang Vietnam masih panas, revolusi budaya mengguncang Eropa, mahasiswa turun ke jalan.
Lalu muncul lagu ini yang bilang, “take a sad song and make it better“. Pesan sederhana tapi mengena, seolah-olah dunia butuh Paul McCartney buat bilang, “hei, semua bisa jadi lebih baik, kok.”
Kenapa “Hey Jude” Abadi?
Pertanyaan yang selalu muncul: kenapa lagu ini masih relevan sampai sekarang? Jawabannya ada di kesederhanaannya. Tidak ada lirik yang rumit, tidak ada aransemen yang terlalu pretensius. Hanya piano, suara yang tulus, dan repetisi yang membuatnya seperti lagu pengantar doa massal.
Di konser-konser Paul McCartney hingga hari ini, “Hey Jude” selalu jadi momen klimaks. Puluhan ribu orang bernyanyi bersama, dari generasi yang lahir di 60-an sampai anak-anak Gen Z yang kenal The Beatles lewat Spotify.
Lagu ini menolak mati, karena pesannya terlalu universal untuk ditelan waktu.
Dari Julian untuk Dunia
Ironisnya, Julian Lennon sendiri baru tahu bertahun-tahun kemudian bahwa lagu ini ditulis khusus untuknya. Dia bilang, “It’s kind of weird to think one of the greatest songs ever was written for me”. Tapi, mungkin justru di situlah keajaibannya.
Sesuatu yang ditulis dengan niat tulus untuk menghibur seorang anak, ternyata bisa menghibur jutaan orang di seluruh dunia.
“Hey Jude” adalah bukti bahwa musik bisa melampaui tujuan awal penciptaannya. Dari ruang kecil mobil Paul McCartney menuju ruang hati miliaran manusia di seluruh dunia.
Lagu yang Lebih dari Sekadar Lagu
Kalau harus mendeskripsikan “Hey Jude” dalam satu kalimat, mungkin begini: ini adalah lagu pop yang terdengar seperti pelukan. Hangat, panjang, kadang terlalu repetitif, tapi justru di situlah keindahannya.
Hari ini, lebih dari lima dekade sejak perilisannya pada 26 Agustus 1968, “Hey Jude” tetap hidup. Tidak ada tanda-tanda lagu ini akan berhenti dinyanyikan.
Setiap kali bagian “na-na-na-na” menggema, kita seperti diajak mengingat bahwa meski dunia sering kejam, selalu ada ruang untuk nyanyian sederhana yang bilang, “don’t be afraid, take a sad song and make it better“.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar The Beatles, mereka tidak hanya menulis lagu, mereka menulis pengingat untuk jadi manusia.
Harfi Admiral