
JAKARTA – Pagi 27 Agustus 1896, langit di atas Stone Town, ibu kota Zanzibar, masih menyisakan cahaya musim panas Samudra Hindia. Pedagang Arab, India, dan Swahili sudah bersiap membuka kios rempah, sementara bau cengkeh dan kayu manis memenuhi udara.
Namun, di balik ketenangan itu, sejarah akan mencatat sebuah peristiwa yang luar biasa: perang tersingkat di dunia. Sebuah konflik yang berlangsung hanya 38 menit, tetapi mencerminkan pertarungan besar antara kekuasaan lokal dan imperium kolonial.
Zanzibar: Pusat Cengkeh Dunia
Akhir abad ke-19, Zanzibar bukan sekadar pulau kecil di lepas pantai Afrika Timur. Pulau ini adalah jantung ekonomi rempah dunia.
Di bawah Kesultanan Oman sejak awal 1800-an, Zanzibar tumbuh sebagai eksportir utama cengkeh, menarik pedagang dari Arab, Persia, India, hingga Eropa.
Stone Town menjadi melting pot: jalan-jalannya dipenuhi rumah batu bergaya Arab, pelabuhan ramai dengan kapal dhow, dan pasar yang hiruk-pikuk menjajakan segala sesuatu dari rempah hingga gading.
Namun di balik kejayaan ekonomi, ada dinamika politik yang rapuh. Kesultanan Zanzibar berada dalam pusaran kolonialisme. Inggris dan Jerman bersaing memperebutkan kendali wilayah Afrika Timur dan Zanzibar menjadi arena diplomasi yang tegang.
Intrik di Balik Tahta
Awal konflik bermula dari wafatnya Sultan Hamad bin Thuwaini pada 25 Agustus 1896. Sultan Hamad dikenal pro-Inggris, menjaga hubungan erat dengan London yang kala itu menguasai sebagian besar perdagangan di Samudra Hindia. Namun, kekosongan takhta memunculkan perebutan kuasa.
Khalid bin Barghash, sepupu mendiang sultan, dengan cepat mengambil alih istana tanpa menunggu restu Inggris. Langkah ini dianggap kudeta diam-diam.
Inggris yang sudah sejak lama memainkan peran sebagai “penjaga” Zanzibar, menolak keras. Mereka mendukung kandidat lain, Hamoud bin Mohammed, yang lebih mudah dikendalikan dan bersedia menandatangani perjanjian protektorat dengan Inggris.
Di sinilah kepentingan kolonial berbenturan dengan aspirasi lokal. Bagi Khalid, tahta Zanzibar adalah hak waris. Bagi Inggris, tahta adalah pion geopolitik.
Ultimatum yang Memicu Perang
26 Agustus, hanya sehari setelah Khalid menguasai istana, konsul Inggris Basil Cave mengirim ultimatum kalau Khalid harus turun takhta sebelum pukul 9 pagi keesokan harinya. Jika tidak, Inggris akan menggunakan kekuatan militer.
Khalid menolak. Ia mengumpulkan sekitar 2.800 pasukan, kebanyakan penjaga istana, prajurit bersenjata karabin lama, serta beberapa meriam antik. Mereka menyiapkan pertahanan di sekitar Istana Beit al-Hukm. Dari jendela batu, bendera kesultanan berkibar menantang.
Sementara itu, di pelabuhan Stone Town, lima kapal perang Inggris sudah berlabuh seperti HMS St George, Philomel, Racoon, Sparrow, dan Thrush. Lebih dari 150 marinir dan pelaut bersenjata modern siap melaksanakan perintah.
38 Menit yang Mengubah Zanzibar
Pagi 27 Agustus 1896, jam menunjukkan pukul 09.00. Ultimatum habis. Khalid masih bertahan. Konsulat Basil Cave, setelah melapor ke London, memberi sinyal, tembak.
Meriam kapal-kapal Inggris langsung melepaskan salvo atau tembakan serentak ke arah istana. Dalam hitungan menit, bangunan batu megah itu berubah menjadi puing, dindingnya runtuh, dan api menjalar. Pasukan Khalid tetap berusaha melawan dengan meriam usang, tetapi tembakan mereka jatuh ke laut tanpa arti.
Sekitar pukul 09.38, pertahanan Khalid hancur. Bendera kesultanan diturunkan. Lebih dari 500 orang Zanzibar tewas, sebagian besar dari kalangan sipil yang terjebak di sekitar istana. Sementara itu, korban Inggris hanya satu pelaut yang terluka.
Khalid bin Barghash berhasil melarikan diri ke konsulat Jerman dan kemudian dibuang ke Dar es Salaam. Takhta Zanzibar akhirnya jatuh ke tangan Hamoud bin Mohammed, boneka Inggris yang segera menandatangani perjanjian protektorat.
Jejak Kolonialisme
Perang Britania–Zanzibar tidak hanya dikenang karena singkatnya durasi. Ia juga simbol dari bagaimana kekuatan kolonial dapat menjatuhkan penguasa lokal dalam hitungan menit.
Setelah perang, Inggris mengonsolidasikan kendali penuh atas Zanzibar. Sistem pemerintahan dikontrol langsung dari London, dan kesultanan hanya menjadi simbol.
Ekonomi rempah tetap berjalan, tetapi hasilnya lebih banyak mengalir ke perusahaan-perusahaan Inggris ketimbang rakyat lokal.
Bagi masyarakat Zanzibar, peristiwa itu meninggalkan trauma. Istana yang dulu berdiri megah berubah menjadi reruntuhan, sementara kehidupan sehari-hari berjalan di bawah bayang-bayang imperium.
Warisan dalam Ingatan
Hari ini, Stone Town yang menjadi saksi perang singkat itu tercatat sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Jalan-jalannya yang berliku masih menyimpan kisah masa lalu, pintu-pintu kayu berukir rumit, rumah batu bergaya Swahili-Arab, dan reruntuhan istana yang pernah diserang meriam Inggris.
Perang Britania–Zanzibar sering disebut anekdot sejarah sebagai “perang tersingkat di dunia.” Tetapi lebih dari sekadar catatan unik, peristiwa itu adalah cermin betapa rapuhnya kedaulatan bangsa kecil di hadapan kekuatan kolonial.
Pulau kecil yang kaya rempah ini pernah menjadi pusat dunia, lalu jatuh dalam genggaman imperium yang jauh. Kini, hampir 130 tahun kemudian, Zanzibar tetap berdiri sebagai bagian dari Tanzania, menyimpan cerita pahit dari 38 menit yang mengubah segalanya.
Harfi Admiral