
JAKARTA – Setiap 9 Agustus, dunia merayakan Hari Masyarakat Adat Internasional, momen spesial untuk mengapresiasi kekayaan budaya dan kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun oleh komunitas adat di berbagai belahan dunia.
Dilansir dari laman UNESCO, sejarah Hari Masyarakat Adat Internasional berawal dari pertemuan pertama United Nations Working Group on Indigenous Populations (WGIP) pada 9 Agustus 1982 di Jenewa, Swiss.
WGIP dibentuk oleh Komisi Hak Asasi Manusia PBB sebagai forum resmi pertama yang memberikan ruang bagi perwakilan masyarakat adat untuk berbicara langsung di tingkat internasional.
Dalam forum ini, mereka membahas persoalan mendasar seperti hak atas tanah, pelestarian budaya, identitas, serta kebebasan menentukan nasib sendiri (self determination).
Masyarakat adat di seluruh dunia memiliki, menempati, atau menggunakan sekitar 22% dari luas daratan dunia. Dengan jumlah setidaknya 370-500 juta jiwa, masyarakat adat mewakili sebagian besar keragaman budaya dunia. Mereka berbicara dalam mayoritas dari sekitar 7.000 bahasa di dunia dan mewakili 5.000 budaya yang berbeda.
Masyarakat adat juga dikenal luas memiliki pengetahuan tradisional dan praktik berkelanjutan dalam menjaga lingkungan hidup. Mereka melihat alam bukan sebagai objek yang bisa dieksploitasi, melainkan sebagai mitra kehidupan yang harus dihormati dan dilestarikan.
Di tengah krisis lingkungan global yang semakin mengkhawatirkan, cara pandang masyarakat adat tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam menjadi semakin relevan. Salah satu contoh kearifan ini dapat ditemukan dalam adat Minangkabau, yang sejak ratusan tahun lalu memegang filosofi “Alam Takambang Jadi Guru”.
Filosofi ini melihat alam bukan sekadar sumber daya yang bisa dieksploitasi, tetapi sebagai partner kehidupan yang layak dihormati dan dijaga.
Melalui sistem nilai, norma, dan praktik tradisionalnya, masyarakat Minangkabau telah membuktikan bahwa manusia dapat hidup berdampingan dengan alam, menjaga kelestariannya, sambil tetap memenuhi kebutuhan hidup secara berkelanjutan.
Pandangan A.A. Navis tentang filosofi Minangkabau
A.A. Navis adalah seorang sastrawan dan budayawan Minangkabau yang terkenal sering mengangkat nilai-nilai adat Minangkabau dalam karya-karyanya, terutama yang berkaitan dengan hubungan manusia dan alam. Menurut Navis, budaya Minangkabau bukan sekadar aturan-aturan sosial biasa, tetapi merupakan sistem nilai yang menempatkan alam sebagai partner hidup yang harus dihormati dan dijaga.
Dalam bukunya A Man and A Culture: The Heritage of the Minangkabau (1984), A.A. Navis menjelaskan bahwa “alam takambang jadi guru” menjadi falsafah yang mengajarkan orang Minangkabau untuk belajar dari alam.
Alam bukan hanya sebagai sumber kehidupan, tapi juga tempat belajar tentang keharmonisan, kesabaran, dan keseimbangan hidup. Sikap ini membimbing mereka untuk tidak merusak alam, melainkan menjaga dan memanfaatkannya dengan bijak demi kelangsungan generasi mendatang.”
Navis juga menekankan pentingnya prinsip “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” yang dipegang teguh masyarakat Minangkabau. Prinsip ini tidak hanya mengatur hubungan antar manusia, tetapi juga menuntun bagaimana manusia seharusnya memandang dan memperlakukan alam.
Di dalam bukunya Navis menuliskan, adat yang berlandaskan syarak ini menegaskan bahwa alam adalah amanah dari Tuhan yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab. Dalam praktiknya, hal ini terlihat dari aturan adat yang melarang perusakan lingkungan dan mengatur pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Sastra dan Ritual sebagai media edukasi lingkungan
Yang menarik dari kajian Navis adalah bagaimana ia menunjukkan peran budaya sastra dan ritual sebagai cara untuk mengajarkan nilai-nilai pelestarian alam. Melalui penelitiannya tentang randai dan seni pertunjukan Minangkabau, ia memperlihatkan bahwa cerita rakyat, pantun, dan randai tidak sekadar berfungsi sebagai hiburan.
Semua bentuk seni tradisional tersebut merupakan sarana penting untuk menanamkan rasa hormat terhadap alam kepada generasi muda. Pesan moral tentang keharmonisan dengan alam disampaikan secara turun-temurun melalui media yang mudah dipahami dan menghibur.
Selain itu, sebuah penelitian terhadap kaba (sastra lisan tradisional Minangkabau) yang dilakukan oleh mahasiswa Program Studi Sastra Minangkabau Universitas Andalas menunjukkan bahwa dalam karya sastra tradisional ini, manusia dan alam membangun hubungan saling ketergantungan yang mencerminkan keharmonisan di antara keduanya. Kemegahan alam menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi manusia, dan nuansa lingkungan alam dalam kaba merupakan upaya untuk menjaga kelestarian alam (Ilham, 2023).
Relevansi untuk masa kini
Dari kearifan masyarakat adat Minangkabau, kita diajak untuk lebih menghargai dan menjaga alam sekitar. Merawat alam bukan hanya soal tanggung jawab lingkungan, tetapi juga bagian dari budaya yang harus terus dilestarikan.
Di tengah masalah lingkungan yang semakin serius, pelajaran dari masyarakat adat ini dapat menjadi inspirasi agar kita dapat hidup lebih harmonis dengan alam, demi terciptanya masa depan yang lebih berkelanjutan.
Filosofi “Alam Takambang Jadi Guru” mengajarkan bahwa dengan belajar dari alam, kita tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga kebijaksanaan untuk hidup selaras dengan lingkungan.
Ridho Ilham