[1D1H] 25 Agustus, Hari Songun Korea Utara: Antara Militer, Ideologi, dan Legitimasi Kekuasaan

Hari Songun dirayakan di seluruh wilayah di Korea Utara. Foto: KFAUSA

 

JAKARTA – Ketika berbicara tentang Korea Utara, bayangan yang segera muncul adalah parade militer, barisan tentara yang disiplin, dan poster propaganda yang menghiasi jalanan. Semua itu berakar pada sebuah doktrin yang dikenal dengan istilah Songun.

Secara harfiah songun berarti “militer pertama.” atau bisa juga “tentara didahulukan”. Di negeri yang dipimpin oleh dinasti Kim sejak 1948, songun bukan sekadar kebijakan, melainkan sebuah simbol yang menyatukan ideologi, politik, dan bahkan legitimasi kekuasaan.

Namun, seperti banyak konsep politik lain yang lahir dalam situasi krisis, makna songun terus bergeser. Dari semula sebagai strategi bertahan hidup di tengah ancaman, ia perlahan berubah menjadi alat propaganda, hingga akhirnya direduksi menjadi kata pujian tanpa “makna” nyata.

Untuk memahami kenapa tanggal 25 Agustus begitu penting bagi sejarah ini, kita perlu menelusuri akar sejarah dan perjalanan doktrin yang telah mengakar dan terus dirayakan di Korea Utara.

Sejarah: Dari Anti-Jepang hingga Perang Korea

Songun tidak lahir tiba-tiba pada akhir abad ke-20. Benihnya dapat dilacak sejak era perjuangan anti-Jepang pada 1930-an, ketika Kim Il-sung memimpin gerilyawan di Manchuria.

Bagi generasi awal Korea Utara, militer bukan sekadar alat pertahanan, melainkan inti dari revolusi. Narasi ini kelak menjadi landasan legitimasi rezim bahwa kemerdekaan hanya bisa dipertahankan lewat kekuatan senjata.

Tonggak resmi songun sering dirujuk pada 25 Agustus 1960, saat Kim Jong-il muda menemani ayahnya mengunjungi Divisi Tank ke-105 Ryu Kyong Su Seoul. Peristiwa itu kemudian diperingati sebagai titik awal era songun.

Sejak saat itu, militer ditempatkan bukan hanya sebagai penjaga negara, tetapi juga pilar utama revolusi. Tiga dekade kemudian, tanggal tersebut diresmikan Kim Jong-un sebagai Hari Songun, sebuah hari libur nasional yang menegaskan kesinambungan politik keluarga Kim.

Lahirnya Istilah Songun saat Krisis di 1990-an

Meski akar ideologisnya panjang, kata songun sendiri baru muncul dalam wacana resmi pada 1997, di tengah krisis besar. Runtuhnya Uni Soviet pada 1991 membuat Korea Utara kehilangan pelindung sekaligus mitra dagang utama. Situasi diperburuk dengan bencana kelaparan (arduous march) yang merenggut ratusan ribu nyawa.

Dalam konteks itulah, Kim Jong-il mengangkat doktrin songun. Menurut pengamat, alasan utamanya bukan soal strategi militer, melainkan politik internal, yaitu menjaga agar tentara tidak berbalik melawan rezim.

Max Weber, sosiolog dan filsuf asal Jerman, pernah menulis bahwa status sosial ditopang oleh tiga unsur: kekuasaan, kekayaan, dan prestise. Ketika ekonomi hancur dan sumber daya langka, yang tersisa bagi Kim Jong-il hanyalah prestise militer.

Dengan mengedepankan songun, ia bisa membangun citra sebagai pemimpin yang melindungi bangsanya melalui tentara, tanpa perlu memberikan perbaikan nyata dalam kesejahteraan.

Antara Ideologi dan Propaganda

Pada tataran teori, songun diposisikan sebagai kelanjutan ideologi Juche. Bahkan lahirlah istilah Songun-Huro—“militer dulu, kelas pekerja kemudian.” Tentara Rakyat Korea digambarkan sebagai inti revolusi, setara dengan kelas pekerja pada awal abad ke-20.

Namun dalam praktiknya, songun lebih banyak berfungsi sebagai propaganda simbolik. Tidak ada perubahan signifikan dalam struktur negara. Partai Buruh Korea tetap menjadi pusat kekuasaan.

Ilustrasi tentara Korea Utara. Foto: NK News

Militer tidak diberi otonomi lebih, masa dinas tidak diperpanjang, dan bahkan banyak tentara biasa kekurangan makanan hingga terpaksa mencuri dari rakyat. Dengan kata lain, songun tidak pernah benar-benar menjadi kebijakan militerisasi total.

Ironisnya, makna songun semakin meluas hingga kehilangan bobot aslinya. Segala sesuatu yang baik, dari kebijakan ekonomi hingga seni, bisa disebut “bergaya songun.”

Bahkan ada “delapan situs era songun” yang tak ada kaitannya dengan militer, melainkan sekadar tempat wisata di Korea Utara.

Perayaan Diri Sang Pemimpin di Hari Songun

Secara resmi, Hari Songun pada 25 Agustus memperingati kiprah militer Kim Jong-il. Tetapi, bagi banyak pengamat, hari ini lebih tepat disebut sebagai perayaan keluarga Kim.

Poster, parade, hingga siaran televisi menekankan peran pemimpin, bukan kesejahteraan tentara. Apa yang semula dimaksudkan untuk memuliakan militer akhirnya menjadi sarana kultus individu.

Pergeseran makna ini menunjukkan bagaimana songun bertransformasi dari strategi bertahan hidup menjadi alat legitimasi dinasti. Alih-alih memperkuat tentara, ia memperkuat narasi bahwa hanya keluarga Kim yang mampu menjaga kedaulatan.

Dampak Jangka Panjang Identitas Korea Utara yang Militeristik

Terlepas dari kelemahan substansinya, songun meninggalkan jejak mendalam pada identitas nasional Korea Utara. Parade militer di Lapangan Kim Il-sung, pertandingan massal di Stadion May Day, hingga poster propaganda di sudut kota, semuanya menyandingkan songun dengan kata-kata kunci lain seperti Juche (kemandirian) dan Choguk (tanah air).

Bagi warga Korea Utara, songun telah menjadi jendela untuk melihat dunia, bahwa keberlangsungan negara bergantung pada tentara. Hal ini juga menjelaskan mengapa Korea Utara membangun salah satu militer terbesar di dunia, meski ekonominya rapuh.

Di sisi lain, songun ikut melanggengkan isolasi internasional, karena fokus berlebihan pada pertahanan membuat reformasi ekonomi dan diplomasi sering terabaikan.

Antara Realitas dan Simbol

Pada akhirnya, songun adalah kisah tentang jurang antara realitas dan simbol. Di satu sisi, ia lahir dari kebutuhan nyata akan pertahanan diri di tengah krisis. Di sisi lain, ia segera berubah menjadi mitos politik yang lebih berfungsi untuk memuja keluarga Kim ketimbang meningkatkan kesejahteraan rakyat atau kekuatan militer.

Makna songun hari ini lebih dekat dengan simbolisme ketimbang strategi. Ia hidup dalam poster, parade, dan retorika, tetapi tidak selalu tercermin dalam kenyataan sehari-hari para tentara yang kekurangan gizi.

Dalam paradoks inilah, kita melihat bagaimana sebuah ideologi bisa bertahan bukan karena efektivitasnya, melainkan karena kemampuannya memberi legitimasi kepada penguasa.

Songun atau “militer pertama” adalah sebuah cermin dari Korea Utara itu sendiri. Negara yang hidup di antara ancaman nyata dan mitos ideologi, antara kebutuhan pertahanan dan obsesi pada kultus pemimpin.

Ia adalah kisah tentang bagaimana militer dijadikan simbol nasional, tetapi sekaligus dimanfaatkan untuk memperkuat kekuasaan dinasti. Sejarah songun mengajarkan kita bahwa sebuah istilah politik bisa lahir dari krisis, berkembang menjadi doktrin, lalu memudar menjadi sekadar pujian kosong.

Namun, meski maknanya merosot, dampaknya pada identitas dan citra Korea Utara tetap nyata. Sulit membayangkan negara itu tanpa songun, karena setidaknya di mata rakyat dan dunia luar, Korea Utara adalah songun itu sendiri.

Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top