Mengenal Badak, Soda Khas Pematangsiantar yang Bikin Rindu Pulang

Badak minuman soda khas Pematangsiantar, Sumatera Utara. Foto: Tamarind Indonesia

 

JAKARTA – Bicara soal kuliner khas Pematangsiantar, kebanyakan orang mungkin akan langsung mengingat roti ganda atau kok tong. Namun, ada satu lagi minuman soda legendaris bernama Badak.

Dinamai Badak bukan karena minuman soda ini bersumber dari hewan badak, tetapi karena logo yang melekat pada botol kaca minuman soda tersebut bergambar badak bercula satu.

Desain botol kaca tebal dengan ukiran khas tetap dipertahankan sejak puluhan tahun lalu, membuat Badak masih diingat sampai sekarang.

Sejarah Minuman Badak

Dilansir dari website resmi Indonesia.go.id, mulanya pabrik Badak adalah sebuah pabrik es di Siantar yang didirikan pada 1916 oleh Heinrich Surbeck, seorang sarjana teknik kimia asal Swiss.

Kemudian, pada 1920-an pabrik es ini mulai membuat minuman soda bernama Badak. Pada masa-masa itu, bukan hanya soda Badak yang meramaikan pasar.

Tujuh tahun berselang, minuman soda asal Atlanta, Amerika Serikat bernama Coca-Cola juga mulai mengekspansi bisnis ke Indonesia pada 1927. Disusul salah satu kontender terkuatnya hingga hari ini, Fanta pada 1973 yang semakin memperketat persaingan minuman bersoda di Tanah Air.

Setelah kemerdekaan, NV Ijs Fabriek Siantar harus mengubah namanya dari bahasa Belanda ke bahasa Indonesia yang kemudian menjadi PT Pabrik Es Siantar. Pada 1969, Julius Hutabarat membeli pabrik tersebut.

Alih kepemilikan ini justru membawa angin segar. Badak semakin berjaya di Sumatera Utara pada era 1970–1980-an dengan delapan varian rasa, mulai dari jeruk, anggur, nenas, kopi, hingga sarsaparila yang bahkan sempat diekspor ke Swiss, tanah kelahiran Surbeck.

Pada masa kejayaan Badak, produksinya mencapai 40 ribu krat per bulan. Namun, seiring menurunnya permintaan, produksi berkurang menjadi 500 krat per bulan. Namun, kini PT Pabrik Es Siantar hanya memproduksi satu varian yaitu rasa sarsaparilla.

“Dua sejoli” Badak dan BPK

Minuman berkarbonasi dengan varian rasa sarsaparilla menjadi ciri khas bagi masyarakat Sumatera Utara, terutama di Pematangsiantar. Badak biasanya diminum bersama dengan makan BPK (Babi Panggang Karo).

Minum Badak bersama BPK sudah seperti “paket lengkap” yang tak bisa dipisahkan. BPK dengan daging babi panggang berbalut bumbu andaliman memang sudah mempunya cita rasa kuat. Apalagi ditambah dengan Badak yang hadir sebagai penyeimbang.

Rasa sarsaparilla yang manis, segar, dan sedikit herbal mampu meredakan sensasi pedas sekaligus menambah kenikmatan saat menyantap BPK.

Tidak heran, jika di hampir semua rumah makan BPK di Sumatera Utara, Badak selalu tersedia di meja makan. Banyak yang bilang, “makan BPK tanpa Badak rasanya kurang lengkap.”

Bahkan, bagi para perantau dari Siantar, momen pulang kampung dan menikmati BPK sambil meneguk Badak menjadi salah satu bentuk nostalgia yang paling dirindukan.

Meski popularitasnya sempat meredup di era 1990-an akibat gempuran brand global, Badak tetap bertahan hingga kini. Produksi masih dilakukan di Pematangsiantar, dengan varian sarsaparilla yang terus diminati.

*Adela Damanik merupakan seorang mahasiswa aktif jurusan Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas. Saat ini sedang bergiat dalam UKMF Labor Penulisan Kreatif (LPK) FIB Unand

Adela Damanik

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top