
JAKARTA – Pada malam 28 Agustus 2020, dunia terasa berhenti sejenak. Media sosial berubah menjadi lautan duka. Nama Chadwick Boseman memenuhi lini masa, bukan karena film baru atau penghargaan yang dia raih, melainkan karena berita yang tak seorang pun siap mendengar.
Malam itu dia telah meninggal dunia pada usia 43 tahun, setelah diam-diam berjuang melawan kanker usus besar selama empat tahun terakhir.
Kabar itu terasa begitu mengejutkan. Tidak ada tanda-tanda publik bahwa dia sakit. Di layar, Boseman selalu tampil bertenaga, berkarisma, dan seolah tak tersentuh kelemahan.
Bahkan, ketika tubuhnya mulai menyusut dalam beberapa foto terakhir, banyak orang mengira itu hanya persiapan untuk sebuah peran. Tidak ada yang tahu, di balik senyum tenangnya, dia tengah melawan penyakit mematikan.
Semua Bermula di South Carolina
Chadwick Aaron Boseman lahir pada 29 November 1976 di Anderson, South Carolina. Ia tumbuh di keluarga sederhana, ayahnya bekerja di bidang pabrik tekstil, sementara ibunya adalah perawat.
Dari kecil, Boseman sudah akrab dengan kisah-kisah tentang ketekunan dan keberanian. Lingkungan kulit hitam di Selatan Amerika memberinya pelajaran awal tentang identitas, perjuangan, dan arti kebanggaan terhadap akar budaya.
Boseman awalnya tidak bercita-cita menjadi aktor. Dia lebih tertarik pada dunia seni rupa dan menulis. Ketika masih di sekolah menengah, ia menulis dan menyutradarai naskah drama berjudul Crossroads sebagai bentuk penghormatan kepada temannya yang meninggal karena kekerasan bersenjata. Dari situlah bibit ketertarikannya pada seni peran mulai tumbuh.
Dia melanjutkan studi di Howard University, Washington D.C., salah satu universitas paling bergengsi bagi komunitas kulit hitam. Di sinilah pertemuan takdir terjadi.
Salah satu mentornya, aktris legendaris Phylicia Rashad, melihat bakat besar pada dirinya. Rashad kemudian meminta bantuan temannya, Denzel Washington, untuk membiayai Boseman belajar di program musim panas di British American Drama Academy, Oxford. Ya, Denzel Washington lah yang tanpa sadar membuka jalan karier internasional bagi Boseman.
Peran-peran yang Lebih dari Sekadar Hiburan
Karier Boseman tidak langsung meledak. Dia memulai dengan peran kecil di serial televisi seperti Law & Order dan CSI: NY. Namun, titik balik datang pada 2013 ketika dia berperan sebagai Jackie Robinson dalam film 42.
Film itu bukan sekadar biografi atlet baseball legendaris, melainkan juga kisah tentang perlawanan terhadap rasisme. Boseman membawa nuansa elegan, tenang, namun penuh amarah tertahan. Kritikus menyadari bahwa dia bukan aktor biasa, dia adalah seseorang yang memikul beban sejarah di pundaknya.
Setahun kemudian, dia kembali menyalakan layar lebar dengan memerankan James Brown dalam Get on Up. Dari atlet legendaris ke raja soul, Boseman menunjukkan rentang akting yang luar biasa. Dia menari, bernyanyi, dan menyulap energinya menjadi magnet yang menghipnotis penonton.
Namun, puncak segalanya datang pada 2016 ketika Marvel Studios memilihnya memerankan T’Challa alias Black Panther di Captain America: Civil War.
Dua tahun kemudian, Black Panther dirilis sebagai film solo pertamanya dan dunia tidak pernah sama lagi.
Black Panther: Lebih dari Film Superhero
Black Panther bukan sekadar film box office. Itu adalah fenomena budaya. Untuk pertama kalinya, penonton kulit hitam di seluruh dunia melihat pahlawan super yang bukan hanya berdarah Afrika, tapi juga datang dari kerajaan fiksi Wakanda, tanah yang maju, makmur, dan tak pernah dijajah.
Ketika Boseman berkata, “Wakanda Forever,” itu bukan hanya salam fiksi. Itu adalah mantra, doa, dan simbol kebanggaan. Film itu meraup lebih dari $1,3 miliar, menjadi salah satu film terlaris sepanjang masa dan mencetak sejarah sebagai film superhero pertama yang masuk nominasi Oscar kategori Best Picture.
Bagi banyak orang, terutama anak-anak kulit hitam, Boseman adalah simbol harapan. Mereka akhirnya punya superhero yang terlihat seperti mereka, berbicara seperti mereka, dan membawa warisan budaya mereka ke layar lebar.
Pertarungan Senyap Melawan Kanker
Yang membuat kisah Boseman semakin heroik adalah fakta bahwa selama masa kejayaan itu, dia sebenarnya sedang sakit. Pada 2016, dia didiagnosis kanker usus besar stadium III. Alih-alih mundur, dia memilih tetap bekerja.
Bayangkan, dia menjalani operasi, kemoterapi, dan perawatan medis sambil syuting film-film fisik yang menuntut energi besar seperti Marshall (2017), Black Panther (2018), Avengers: Infinity War (2018), Avengers: Endgame (2019), hingga Da 5 Bloods (2020).
Tidak ada keluhan di publik, tidak ada pengakuan, tidak ada drama. Dia merahasiakan semuanya, bahkan dari sebagian besar teman dekatnya. Dalam kesunyian, dia memilih memberikan dunia karya terbaiknya.
Dunia Berkabung
Ketika kabar kematiannya pecah, dunia benar-benar terpukul. Marvel Studios, rekan-rekannya, hingga politisi dunia menyampaikan penghormatan. Barack Obama menulis bahwa Boseman “digunakan untuk menceritakan kisah-kisah yang lebih besar dari dirinya sendiri.” Sementara sutradara Black Panther, Ryan Coogler, mengaku bahkan dia tidak tahu tentang penyakit Boseman.
Anak-anak di seluruh dunia mengunggah foto mereka memegang action figure Black Panther, melakukan salam Wakanda, dengan caption sederhana: “My king.”
“Wakanda Forever!”: Warisan yang Abadi
Chadwick Boseman bukan sekadar aktor. Dia adalah simbol tentang bagaimana seni bisa menjadi senjata perlawanan, bagaimana representasi bisa mengubah cara generasi melihat diri mereka sendiri. Dia mungkin telah pergi, tetapi warisannya tetap hidup.
Film terakhirnya, Ma Rainey’s Black Bottom (2020), dirilis setelah kematiannya dan memberinya nominasi Oscar anumerta. Dalam film itu, dia memerankan Levee Green, seorang musisi muda penuh ambisi namun dihantui trauma. Penampilannya begitu intens, seperti surat perpisahan yang ditinggalkan untuk dunia.
Ketika kita mengingat Chadwick Boseman, kita tidak hanya mengingat seorang aktor. Kita mengingat seorang seniman yang memilih peran-peran yang berarti, seorang manusia yang mengutamakan dampak daripada popularitas, dan seorang raja yang, meski tubuhnya runtuh, meninggalkan kerajaan abadi dalam budaya populer.
“Wakanda Forever!” kini bukan lagi sekadar salam di dalam sebuah film. Ia menjelma warisan seorang pria yang tahu bahwa waktu di dunia ini terbatas, tapi memilih untuk mengisinya dengan cahaya yang tak akan padam.
Harfi Admiral