
JAKARTA – Dalam dunia fiksi, jarang ada tokoh yang membelah opini penonton sedrastis Eren Yeager dari Attack on Titan. Awalnya, ia hanyalah seorang anak penuh amarah yang kehilangan sosok ibu akibat serangan titan.
Namun seiring cerita berjalan, Eren bertransformasi menjadi sosok kompleks yang memikul beban sejarah bangsanya, lalu mengambil keputusan ekstrem untuk “membebaskan” kaumnya dari siklus penindasan.
Pertanyaan pun muncul, apakah tindakan yang lahir dari trauma dan penderitaan bisa dibenarkan?
Di titik ini, Attack on Titan bukan lagi sekadar kisah pertarungan manusia melawan monster raksasa, melainkan arena moral yang penuh abu-abu. Eren dipuja sebagai pahlawan oleh sebagian, namun juga dicap sebagai penjahat terbesar oleh yang lain.
Kontradiksi ini menjadikan ceritanya relevan dengan perdebatan moral di dunia nyata, sampai sejauh mana penderitaan bisa dijadikan alasan untuk menghancurkan pihak lain? Dan apakah “kebebasan” bisa diraih dengan menumpahkan begitu banyak darah?
Anak kecil yang tumbuh bersama api
Eren Yeager bukanlah lahir sebagai monster. Ia lahir sebagai anak kecil yang berani bermimpi tentang kebebasan melihat dunia di luar dinding yang membelenggunya. Namun, bukankah begitu nasib manusia?
Dunia yang keras memaksa anak-anak tumbuh terlalu cepat, mengganti mainan dengan pedang, dan mengganti impian dengan dendam. Dari satu tragedi lahirlah sebuah tekad bahwa dunia harus dibakar habis agar luka pribadi bisa terbalaskan.
Eren adalah cermin dari kita semua. Kita menyukai cerita tentang kebebasan, tapi selalu lupa bahwa kebebasan seseorang sering kali dibangun di atas puing-puing penderitaan orang lain.
Ketika ia berteriak soal kemerdekaan kita ikut bertepuk tangan, padahal artinya kemerdekaan itu adalah vonis mati bagi jutaan manusia lain. Dunia bersorak untuk pahlawan sampai ia berubah menjadi penjahat, lalu pura-pura terkejut saat darah mengalir di jalanan.
Dan begitulah Eren, anak kecil yang dipaksa berlari di atas lintasan api sejarah bangsanya. Kita bisa menyebutnya pahlawan yang tersesat atau penjahat yang terlampau jujur pada luka masa lalunya.
Namun satu hal pasti, di balik wajah penuh amarah itu, ia hanya memainkan peran yang sejak awal ditulis oleh dunia yang lebih besar darinya. Seperti boneka dalam tragedi yang terlalu kejam untuk disebut dongeng.
Apakah kebebasan bisa menjadi kiamat?
Ketika Eren Yeager memutuskan bahwa satu-satunya jalan keluar dari siklus penindasan adalah melalui kekerasan masif (The Rumbling), dia menyalakan obor yang bukan cuma menerangi jalan ke kebebasan, tetapi juga membakar pilar moral yang selama ini diyakini manusia.
Kebebasan yang dia dambakan bukan sekadar melawan titan, melainkan membebaskan bangsanya dari rasa takut, penghinaan, dan penderitaan yang diturunkan bertahun-tahun.
Tapi apakah keadilan bisa ditegakkan dengan menginjak nyawa orang tak bersalah? Ketika Eren melihat dunia yang terus menolak mereka, pilihannya membalas bukan hanya dengan perlawanan tetapi dengan pembinasaan.
Di satu sisi, Eren bisa dianggap benar jika kita melihatnya sebagai korban sistem yang sangat timpang. Jika lawan tidak mau berdamai, jika pembunuhan orang Eldian terus disebabkan oleh prasangka dan propaganda, maka tindakannya bisa dilihat sebagai respons ekstrem dari pihak yang terpojok.
Namun, respons ekstrem tetaplah tindakan ekstrem ketika batas kemanusiaan dilampaui. Ketika masjid, gereja, kota, gedung-gedung, fasilitas umum hingga warga sipil menjadi sasaran, moralitas mulai terseret ke jurang.
Apakah “melindungi rakyat sendiri” masih punya arti jika perlindungannya harus dibayar dengan kematian jutaan orang?
Menurut catatan berbagai sumber, tanggapan terhadap bagian akhir dari karakter arc Eren sangat terpolarisasi. Motivasi Eren, terutama untuk menciptakan “dunia bebas” dengan mengorbankan banyak pihak, memicu kontroversi besar di antara pembaca.
Eren mengakui bahwa tindakannya adalah genosida untuk mencapai kebebasan. Dialog dalam versi anime menunjukkan bahwa tindakan tersebut dibalas oleh karakter lain (Armin) dengan mengatakan bahwa mereka akan “ke neraka bersama-sama untuk tanggung jawab bersama atas pembunuhan massal.”
Pilihan yang tak pernah dipilih
Seringkali kita berkata bahwa selalu ada pilihan lain. Tapi pada Eren, kalimat itu terasa seperti candaan murahan yang diulang-ulang oleh mereka yang tidak pernah berada di posisi terpojok.
Dunia Eren bukan dunia seminar motivasi, di mana kata-kata manis bisa menghentikan dentuman meriam. Dunia Eren adalah dunia di mana diplomasi selalu diakhiri dengan darah dan janji perdamaian hanya topeng untuk rencana pembantaian berikutnya.
Namun, ironi tetap ada. Bukankah Mikasa, Armin, bahkan Hange menunjukkan bahwa selalu ada jalan tanpa harus membantai dunia? Bukankah jalan itu pernah terbuka, walau kecil, sebelum Eren menutupnya dengan rumble jutaan kaki Colossal Titan?

Satirnya adalah manusia lebih mudah percaya pada kebinasaan ketimbang keberlangsungan hidup bersama. Dan Eren, alih-alih menjadi simbol harapan, memilih menjelma sebagai malaikat maut yang berjalan di bawah bendera “kebebasan.”
Apakah Eren tidak punya pilihan lain? Mungkin ada. Tapi, apakah ia akan didengarkan? Di sinilah absurditas moral itu bermain. Pilihan tanpa jaminan sama buruknya dengan tidak punya pilihan sama sekali.
Baca Selengkapnya: Tragedi di Atas Piring, Berapa Nyawa yang Mati Demi Satu Sajian?
Eren memilih jalan yang paling pasti meskipun jalannya menuju neraka. Sebab dalam logika kebebasan versi Eren, lebih baik menjadi monster yang bebas daripada manusia yang diperbudak.
Saat moral jadi baju yang bisa dilepas-pasang
Dalam pikiran Eren Yeager, moralitas tidaklah permanen seperti jaket tebal yang bisa dia lepaskan saat terik peperangan menampar kulitnya.
Ia mengklaim bahwa dirinya tak punya pilihan lain. Segalanya yang selama ini ia perjuangkan adalah soal membebaskan kaumnya, bahkan jika “kebebasan” itu harus dicapai dengan tragedi masif.
Orang yang mendukung Eren melihat perbuatannya sebagai tindakan heroik atas pembelaan kaumnya. Tetapi, ada pula pihak yang mengecam dan melihatnya sebagai genosida.
Di sinilah teori psikologi muncul bahwa manusia punya cara-cara untuk membenarkan kekejaman lewat proses mental yang menghilangkan rasa bersalah dan memperkecil penderitaan korban dalam pikirannya sendiri.
Salah satu teori yang paling relevan adalah dehumanisasi, di mana pelaku kekerasan mulai melihat korban bukan sebagai manusia penuh, melainkan sebagai “objek”, “ancaman”, atau “musuh”.
Penelitian dalam jurnal PNAS menunjukkan bahwa dehumanisasi meningkatkan jenis kekerasan instrumental bukan kekerasan yang dipandang bermoral karena pelaku merasa korban mereka “kurang manusiawi”, sehingga rasa bersalah dan empati bisa diabaikan.
Jika diterapkan ke Eren, saat ia melihat Marley dan dunia luar sebagai ancaman yang terus menyerang rakyatnya, Eren memproyeksikan citra bahwa “mereka” bukan hanya musuh, tapi figur yang mengizinkan dan pantas dihukum secara ekstrem.
Satirnya, moralitas menjadi alat yang bisa didesain sesuai kebutuhan, tergantung siapa yang menilai siapa yang pantas dibebaskan dan siapa yang pantas dihapuskan.
Kebebasan yang dibangun dari tengkorak
Pada akhirnya, apa arti kebebasan bila jalan yang ditempuh untuk meraihnya dilapisi darah dan tengkorak?
Eren Yeager mungkin ingin menghancurkan rantai perbudakan bangsanya, namun ia memilih untuk menciptakan rantai baru: ketakutan, teror, dan genosida. Dalam usahanya menjadi penyelamat, ironinya ia justru menjadi monster yang sama atau bahkan lebih besar daripada yang ia lawan.
Inilah paradoks yang tak bisa dihapuskan. Membebaskan satu kaum dengan mengorbankan seluruh umat manusia.
Lalu, apakah Eren benar atau salah? Pertanyaan itu sendiri sebenarnya absurd karena dalam dunia yang sudah kehilangan arah moral, “benar” hanyalah kata lain untuk “menang”, dan “salah” hanyalah label yang ditempelkan pada pihak yang kalah. Seperti pisau yang bisa digunakan untuk menyelamatkan atau membunuh, moralitas dalam tangan Eren hanyalah alat bukan prinsip.
Satir paling pahitnya adalah manusia selalu terjebak dalam lingkaran yang sama. Dari generasi ke generasi, kita berulang kali melahirkan Eren-Eren baru, mereka yang merasa “terpaksa” mengorbankan dunia demi sesuatu yang mereka sebut kebebasan.
“Kebebasan tanpa batas bukanlah surga, ia hanyalah penjara baru yang dibangun di atas tulang belulang mereka yang disingkirkan”
Yogi Pranditia


Pingback: Ketika Hobi Jadi Investasi Semu, Fenomena Monkey Business di Indonesia – Rasinesia