
JAKARTA – Di balik gaun elegan dan senyum sempurna, drama Tiongkok berjudul Love’s Ambition menyembunyikan luka yang terasa terlalu nyata. Zhao Lusi yang memerankan Xu Yan, seorang wanita yang tampak memiliki segalanya, suami tampan, apartemen mewah, dan karier gemilang, tapi kehilangan dirinya di tengah semua itu.
Bersama William Chan sebagai Shen Haoming, drama yang tayang di Viu ini menguliti sisi tergelap dari cinta yang dibangun di atas kebohongan dan gengsi.
Bagi Zhao Lusi, peran Xu Yan bukan sekadar karakter, melainkan cermin dari banyak wanita yang hidup dalam tekanan untuk terlihat baik-baik saja. Xu Yan menyimpan masa lalunya bukan karena ingin menipu, melainkan karena takut kehilangan cinta yang sudah ia perjuangkan.
Ia tumbuh tanpa kasih sayang dan membawa keyakinan keliru bahwa hanya mereka yang sempurna yang layak dicintai. Ketika cinta datang dalam wujud Shen Haoming, Xu Yan menciptakan versi dirinya yang ideal, yaitu lembut, berpendidikan, dan selalu terkendali.
Namun, di balik ketenangan itu, ia perlahan kehilangan kejujuran terhadap dirinya sendiri. Kebohongan yang dulu lahir dari rasa takut, akhirnya menjadi dinding tinggi yang memisahkan keduanya.
Zhao Lusi menampilkan lapisan emosi itu dengan luar biasa, melalui tatapan yang lembut tapi penuh kecemasan, senyum yang terasa berat, dan diam yang panjang tapi bermakna. Xu Yan mencintai Haoming sepenuh hati, namun tidak pernah benar-benar mencintai dirinya sendiri. Karena itu, di balik wajahnya yang tenang, ada kecemasan dan ketakutan karena merasa tidak cukup baik untuk dicintai apa adanya.
Ambisi yang menyala, cinta yang perlahan padam
Lewat Love’s Ambition yang terdiri dari 32 episode, Zhao Lusi membawa kita ke sisi lain dari cinta wanita modern yang ambisius tapi rapuh, mandiri dan haus akan pengakuan. Bagi Xu Yan, ambisi bukan sekadar dorongan untuk berhasil, melainkan kebutuhan untuk membuktikan nilai dirinya.
Baca Selengkapnya: Film “Air Mata di Ujung Sajadah 2” Resmi Tayang Hari Ini di Bioskop
Ia ingin menunjukkan bahwa ia pantas berdiri sejajar dengan siapapun, termasuk Haoming. Namun, dalam upayanya untuk menjadi cukup, ia justru menjauh dari cinta yang tulus. Ia terus berlari dari rasa takut, dari kegagalan, bahkan dari kelembutan yang dulu membuatnya jatuh cinta.
Zhao Lusi memerankan konflik itu dengan kepekaan yang mungkin jarang terlihat di layar. Ia menunjukkan bahwa kebohongan Xu Yan bukan hanya tentang cinta, melainkan tentang perlawanan terhadap hidup yang tidak adil. Dunia sering menilai wanita hanya dari latar belakang, bukan dari kemampuan. Xu Yan menantang itu semua, meskipun caranya penuh luka.
Pada akhirnya, Love’s Ambition yang memiliki genre romantis berbalut drama keluarga dan slice of life ini bukan hanya kisah tentang perpisahan, melainkan tentang keberanian untuk memulai ulang. Setelah hampir berpisah, Xu Yan dan Haoming menemukan sesuatu yang selama ini hilang, yaitu kejujuran.
Perceraian yang nyaris terjadi itu menjadi titik balik, bukan titik akhir. Xu Yan belajar mengakui luka tanpa merasa kalah, sementara Haoming belajar menurunkan gengsinya untuk memahami. Zhao Lusi dan William Chan berhasil menampilkan momen-momen itu dengan penuh ketulusan, seolah-olah dua hati yang lelah akhirnya saling menemukan ritme yang sama lagi.
Bagi Xu Yan, kebebasan kini berarti mampu berdiri sejajar, bukan menjauh. Selain memperbaiki hubungan, ia juga menata kembali kariernya tanpa tekanan untuk menjadi sempurna dan hanya ingin menciptakan sesuatu yang lahir dari ketulusan.
Haoming pun belajar menghargai perjuangan itu sebagai bagian dari cinta, bukan ancaman terhadap egonya. Zhao Lusi menggambarkan transisi ini dengan natural, dari seorang wanita yang terluka menjadi sosok yang tenang, percaya diri, dan berani mencintai lagi tanpa kehilangan jati dirinya.
Love’s Ambition yang tiap episode berdurasi sekitar 45 menit ini tidak menutup kisahnya dengan kebahagiaan yang berlebihan, tetapi dengan kejujuran yang terasa nyata. Xu Yan dan Haoming tidak kembali seperti semula, tapi menjadi dua pribadi baru yang lebih dewasa.
Drama ini memotret wanita yang berani memilih dirinya tanpa harus kehilangan cinta dan laki-laki yang belajar bahwa kelembutan bukanlah kelemahan. Melalui peran ini, Zhao Lusi mengajak penonton untuk melihat bahwa cinta sejati mungkin tidak selalu bahagia, tetapi berani tumbuh di tengah rasa sakit.
Tonton akting penuh chemistry Zhao Lusi dan William Chan di Viu. Rasakan bagaimana cinta yang nyaris hancur bisa tumbuh kembali ketika dua hati berani saling terbuka.
Rasinesia

