Alasan Mengapa Netflix dan AMC Theatres Akhirnya Bekerja Sama untuk “KPop Demon Hunters,” “Stranger Things,” dan Lainnya

Huntrix, girl grup K-pop fiksi dari film anime Netflix “KPop Demon Hunters”. Foto: Netflix

JAKARTA – Kesepakatan baru antara dua raksasa hiburan, AMC Theatres dan Netflix, menandai babak baru dalam hubungan mereka yang selama ini tegang antara dunia bioskop dan streaming.

AMC, jaringan bioskop terbesar di dunia, kini sepakat untuk menayangkan ulang film animasi musikal KPop Demon Hunters di 300 bioskop selama akhir pekan Halloween. Langkah ini mengejutkan banyak pihak, mengingat AMC sebelumnya menolak keras memutar film Netflix karena perbedaan pandangan tentang durasi eksklusivitas film di layar lebar sebelum dirilis secara digital.

“Selama ini, kepentingan utama Netflix dalam menayangkan film di bioskop hanyalah untuk memenuhi syarat penghargaan atau menyenangkan para aktor dan pembuat film. Namun, kini Netflix lebih fokus untuk memperluas jangkauan penontonnya.” ujar Alicia Reese, Analis dan Wakil Presiden Riset Ekuitas di Wedbush Securities, dilansir dari laman Variety, Selasa (28/10/2025).

Dengan pendapatan box office yang masih tertinggal 20% dibandingkan masa pra-pandemi, AMC jelas tidak bisa menolak film yang berpotensi menarik banyak penonton. Menariknya, KPop Demon Hunters yang sebelumnya sempat ditolak AMC, justru menduduki posisi no. 1 box office dengan pendapatan sekitar $18 juta saat Netflix merilis versi karaoke-nya pada Agustus lalu.

Dari rival menjadi mitra strategis

Selama bertahun-tahun, AMC menolak menjalin kerja sama serius dengan Netflix meskipun industri bioskop sangat membutuhkan lebih banyak film untuk diputar. Satu-satunya film Netflix yang pernah tayang di jaringan AMC adalah Glass Onion (2022), sekuel dari Knives Out karya Rian Johnson.

Namun kini nada AMC mulai melunak. Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa kedua pihak melihat peluang yang saling menguntungkan dari kerja sama ini.

Netflix pun membalas langkah itu dengan merencanakan penayangan perdana episode final dua jam Stranger Things di bioskop AMC pada malam Tahun Baru dan Hari Tahun Baru bersamaan dengan perilisan episode tersebut di platform streaming.

Netflix mulai melirik layar lebar

Perubahan strategi Netflix ini disebut-sebut sebagai bentuk pengakuan bahwa film yang tayang di bioskop memiliki daya tahan budaya lebih lama atau reaksi terhadap kehilangan sejumlah proyek besar ke studio lain, seperti Wuthering Heights garapan Emerald Fennell yang diambil alih Warner Bros., atau para kreator Duffer Brothers yang kini bekerja sama dengan Paramount.

Berbeda dari studio tradisional, Netflix melihat bioskop bukan sebagai sumber keuntungan utama, melainkan alat pemasaran untuk membangkitkan antusiasme penggemar dan menarik mereka kembali ke platform streaming.

Dengan menggandeng AMC, Netflix kini dapat memperluas jangkauan film-filmnya ke lebih banyak kota dan pasar. Bagi AMC sendiri, acara spesial semacam ini bisa menjadi sumber pendapatan tambahan, terutama di masa-masa sepi penonton.

Langkah berikutnya Narnia, Cliff Booth, dan strategi selektif

Setelah kesepakatan ini, sejumlah proyek baru mulai disiapkan. Salah satunya adalah adaptasi Narnia (2026) garapan Greta Gerwig yang akan mendapat penayangan eksklusif dua minggu di IMAX AMC sebelum berpotensi diperluas ke layar reguler.

Netflix juga sedang mempertimbangkan perilisan bioskop yang lebih besar untuk film Adventures of Cliff Booth karya David Fincher, spin-off dari film Quentin Tarantino Once Upon a Time in Hollywood yang dibintangi oleh Brad Pitt.

Baca Selengkapnya: “KPop Demon Hunters” Berpotensi Jadi Tonggak Sejarah Anime di Ajang Bergengsi Oscar

Namun, tidak semua film Netflix akan mendapat perlakuan serupa. Film seperti Wake Up Dead Man: A Knives Out Mystery hanya akan ditayangkan secara terbatas untuk memenuhi syarat penghargaan.

Sikap konsisten Netflix streaming tetap nomor satu

Meski kini lebih terbuka terhadap bioskop, CEO Netflix Ted Sarandos menegaskan bahwa strategi utama perusahaan tetap memberikan akses eksklusif bagi pelanggan Netflix. Ia bahkan sempat menyebut pengalaman menonton di bioskop sebagai “gagasan yang sudah usang.”

Jadi, jangan berharap Netflix mengikuti jejak Amazon MGM yang telah berkomitmen merilis 15 film teater per tahun. Netflix akan tetap selektif dan hanya membawa film ke bioskop ketika proyek tersebut dianggap “spesial” atau memiliki basis penggemar besar.

“Netflix tidak akan mengumumkan daftar tayang bioskop besar-besaran. Tapi mereka akan memilih dengan hati-hati dan itu sebenarnya yang diinginkan semua orang.” ujar salah satu pemilik teater dalam keterangan Variety.

Keuntungan bagi bioskop

Sebagai kompensasi, Netflix menawarkan syarat distribusi yang lebih fleksibel dibanding studio besar. Misalnya, bioskop tidak diwajibkan memutar film Netflix sepanjang hari dan bisa menjadwalkannya sesuka mereka seperti dalam kasus KPop Demon Hunters.

Namun, beberapa studio besar Hollywood mengingatkan agar Netflix tidak mengganggu jadwal rilis utama atau mengambil alih format layar premium seperti IMAX secara berlebihan.

“Kami hadir untuk bioskop sepanjang 52 minggu setahun. Kami tidak ingin tersisih oleh Netflix,” ujar salah satu eksekutif bioskop besar.

Kolaborasi Netflix dan AMC Theatres menandai era baru hubungan antara streaming dan layar lebar bukan sebagai persaingan, tetapi sebagai strategi sinergi promosi. Dengan memanfaatkan popularitas global film seperti KPop Demon Hunters dan Stranger Things, kedua raksasa ini tampaknya siap membangun model baru yang menggabungkan kekuatan bioskop dan digital.

Rasinesia

1 komentar untuk “Alasan Mengapa Netflix dan AMC Theatres Akhirnya Bekerja Sama untuk “KPop Demon Hunters,” “Stranger Things,” dan Lainnya”

  1. Pingback: Netflix Akan Mengakuisisi Warner Bros. Setelah Pemisahan Discovery Global – Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top