Dari Rimba ke Arena: Cara Manusia Menikmati Kekerasan Terhadap Hewan

Rampokan macan di Kediri (1890-1925). Foto: National Geographic Indonesia

JAKARTA – Dalam sejarah yang panjang, manusia punya kebiasaan aneh: menikmati kekerasan selama ia diberi nama “tradisi”. Arena, aturan, sampai penonton bisa diatur dalam konstitusi.

Salah satu contohnya adalah tradisi gladiator di Romawi Kuno dan Rampogan di Pulau Jawa. Sebuah pertunjukan yang hari ini kita kenal kejam, tetapi dulunya dianggap wajar, bahkan membanggakan.

Di balik riuh rendah sorak penonton, terdapat simbolisme yang jauh lebih gelap, yaitu perpindahan paksa dari rimba ke arena. Hewan-hewan buas seperti singa di Colosseum atau macan di Alun-alun Jawa, dicabut dari habitat alaminya untuk dipertontonkan ketidakberdayaannya.

Di dalam rimba, mereka adalah penguasa yang tak tersentuh. Namun di tengah arena, mereka direduksi menjadi objek hiburan. Mekanisme ini memperlihatkan cara manusia memvalidasi superioritasnya. Kekerasan terhadap hewan ini dibungkus rapi.

Gladiator: ketika kekerasan jadi hiburan publik

Pertarungan gladiator bukan sekadar adu fisik. Ia adalah tontonan resmi. Ribuan orang memenuhi arena untuk menyaksikan manusia bertarung sampai luka parah atau bahkan meregang nyawa. Negara menyediakan panggung, hukum mengatur pertarungan, dan penguasa duduk sebagai penonton utama.

Gladiator yang bertarung biasanya berasal dari kelompok yang dianggap tidak penting seperti budak, tawanan perang, atau kriminal. Nyawa mereka bernilai selama mampu menghibur para penonton yang hadir di Colosseum. Kematian mereka saat itu tidak pernah dianggap tragedi, melainkan penutup pertunjukan.

Tak jarang, di Colosseum juga mempertontonkan manusia yang diadu dengan Singa Atlas. Hewan ini dulu pernah hidup di wilayah Maroko, Aljazair, dan sekitarnya. Pada masa Romawi, Singa Atlas sering ditangkap untuk diadu di arena gladiator sebagai simbol kekuatan kekaisaran.

Tradisi ini bertahan lama karena kekerasan dilegitimasi. Selama disebut hiburan dan budaya, hampir tidak ada yang mempertanyakan dampaknya sehingga populasi Singa Atlas berkurang drastis, hingga akhirnya harus benar-benar punah di alam liar pada pertengahan abad ke-20 karena perburuan.

Foto terakhir singa atlas (Panthera leo leo) di alam liar, di pegunungan Atlas, Afrika Utara yang diabadikan pada tahun 1925. Foto: Mercelin Flandrin

Rampogan Macan: kucing besar yang dipaksa masuk arena

Logika gladiator tidak berhenti di Roma. Ia dapat ditemukan pada wilayah bumi lain, termasuk di Nusantara. Arena tidak selalu berbentuk Colosseum. Di Jawa, praktik itu dikenal sebagai rampogan macan.

Rampogan macan juga ditulis rampok macan adalah pertarungan kucing besar tradisional Jawa. Harimau atau macan kumbang dilepaskan dari kandang lalu dikelilingi oleh para prajurit dengan tombak untuk mencegah mereka keluar dari lingkaran dalam arena.

Baca Selengkapnya: Haast’s Eagle: Kepunahan dalam Senyap Elang Raksasa Selandia Baru

Biasanya dipertontonkan untuk melawan banteng atau manusia di hadapan banyak penonton. Rampogan macan biasanya digelar di alun-alun kota.

Awalnya, rampogan macan berkaitan dengan kepercayaan tentang keseimbangan alam dan kekuatan gaib sebagai tradisi. Harimau dipandang sebagai simbol kekuatan liar yang harus dikendalikan. Namun, seiring waktu, terutama pada masa kolonial, praktik ini berubah menjadi hiburan publik dan pertunjukan dominasi kekuasaan.

Harimau tidak bertarung untuk menang. Ia dikepung, diprovokasi, dan diarahkan sampai kelelahan dengan manusia di sekelilingnya sampai benar-benar kehabisan tenaga.

Rampokan macan di Kediri (1890-1925). Foto: National Geographic Indonesia

Harimau Jawa: dari simbol alam ke korban tradisi

Harimau Jawa dulunya tersebar luas di hutan-hutan pulau Jawa. Ia bukan hanya berdiri sebagai predator puncak, tetapi juga bagian penting dari keseimbangan ekosistem. Namun, rampogan macan ikut membentuk cara pandang manusia terhadap harimau sebagai objek tontonan.

Ketika rampogan macan mulai ditinggalkan setelah kebijakan kolonial Hindia Belanda di tahun 1905, kekerasan tidak benar-benar berhenti. Ia berpindah ke perburuan yang masif. Selain hutan yang dibuka untuk keperluan komoditas kolonial sehingga harimau semakin sering bersinggungan dengan manusia, perburuan liar juga menyebabkan kepunahan hewan ini.

Apa yang terjadi pada Harimau Jawa mengingatkan kita pada kisah serupa, seperti Singa Atlas di Afrika Utara yang pernah diadu di arena Romawi, lalu diburu hingga punah. Polanya sama: kekerasan dijadikan hiburan, lalu dilegalkan, hingga akhirnya yang tersisa hanyalah cerita.

Harimau Jawa yang mati diburu pada Mei 1941 di Malingping, Banten. Foto: Tropenmuseum/H.Bartels

Setelah arena ditutup

Tradisi gladiator akhirnya dihentikan ketika nilai kemanusiaan berubah. Arena ditutup dan sejarah mencatatnya sebagai kekejaman masa lalu. Namun, bagi Harimau Jawa dan Singa Atlas, perubahan ini merupakan hal yang terlambat. Ketika manusia mulai berbicara tentang konservasi, mereka lebih dahulu menghilang dari muka bumi.

Arena memang telah ditutup, tapi hutan yang kehilangan penghuninya tidak akan pernah benar-benar kembali!

Rega Maulana

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top