Kemegahan Kristal di Kota Es, Mengulik Sejarah dan Transformasi Festival Es Harbin

Suasana perayaan Hatbin Ice Festival. Foto: Harbin Ice Festival

JAKARTA – Harbin ibu kota Provinsi Heilongjiang yang terletak di timur laut Tiongkok, telah lama menyandang julukan sebagai “Kota Es”. Setiap musim dingin, ketika suhu turun drastis hingga mencapai angka ekstrem minus 30 derajat Celsius, kota ini tidak lantas tertidur dalam kedinginan. Sebaliknya, Harbin justru hidup dan bersinar melalui gelaran Harbin International Ice and Snow Festival atau Festival Es dan Salju Internasional Harbin.

Festival ini bukan sekadar pameran musiman, melainkan sebuah mahakarya arsitektur yang telah diakui sebagai salah satu dari empat festival es dan salju terbesar di dunia, bersanding dengan Festival Salju Sapporo di Jepang, Karnaval Musim Dingin Quebec di Kanada, dan Festival Ski di Norwegia.

Dari lentera nelayan hingga Taman Zhaolin

Sejarah Festival Es Harbin tidak dimulai dari kemegahan lampu LED dan struktur raksasa seperti yang kita lihat hari ini. Menurut catatan sejarah yang dilansir oleh China Highlights, tradisi ini berakar jauh pada masa Dinasti Qing, di mana para nelayan di kawasan tersebut membuat lentera es tradisional.

Mereka membekukan air di dalam ember, mengeluarkan balok es yang terbentuk, lalu melubangi bagian tengahnya untuk meletakkan lilin. Lentera sederhana ini digunakan sebagai alat bantu penerangan saat mereka memancing di musim dingin yang gelap.

Transformasi dari tradisi fungsional menjadi sebuah perayaan seni dimulai pada tahun 1963. Pada saat itu, Pemerintah Kota Harbin menyelenggarakan Ice Lantern Show (Pertunjukan Lentera Es) pertama di Taman Zhaolin.

Acara ini awalnya hanyalah pameran taman musim dingin yang menampilkan ukiran-ukiran es sederhana. Namun, gejolak politik selama Revolusi Kebudayaan di Tiongkok sempat menghentikan kegiatan ini selama beberapa tahun.

Pesta es ini baru benar-benar lahir kembali secara resmi pada 5 Januari 1985. Mengutip data dari Harbin Ice and Snow World Official Guide, tanggal tersebut ditetapkan sebagai pembukaan resmi Festival Es dan Salju Internasional Harbin yang pertama. Momentum ini menandai pergeseran dari sekadar tradisi lokal menjadi sebuah perhelatan pariwisata yang mulai menarik perhatian nasional dan internasional.

Kelahiran “Ice and Snow World”

Memasuki akhir milenium, ambisi Harbin untuk menjadi pusat musim dingin dunia semakin memuncak. Pada tahun 1999, untuk menyambut milenium baru, pemerintah setempat meluncurkan proyek ambisius bernama Harbin Ice and Snow World (Bingxue Dashijie).

Jika pameran di Taman Zhaolin berfokus pada detail lentera es, Ice and Snow World dirancang untuk menampilkan replika bangunan ikonik dunia dalam skala penuh yang terbuat sepenuhnya dari balok es.

Berdasarkan laporan tahunan dari Harbin Municipal Bureau of Culture, Radio, TV and Tourism, proyek Ice and Snow World pertama kali dibangun di tepi utara Sungai Songhua. Sejak saat itu, festival ini berkembang menjadi dua area utama: Sun Island International Snow Sculpture Art Expo yang menampilkan seni pahat salju raksasa di siang hari, dan Ice and Snow World yang menjadi pusat hiburan es bercahaya di malam hari.

Pada tahun 2024, festival ini mencapai rekor baru yang mengagumkan. Menurut laporan dari Guinness World Records, Harbin Ice and Snow World secara resmi dinobatkan sebagai taman hiburan bertema es dan salju terbesar di dunia, mencakup area seluas 816.682,5 meter persegi.

Keajaiban teknik di balik balok kristal es

Salah satu aspek yang paling mengesankan dari festival ini adalah proses konstruksinya. Setiap tahun, ribuan pekerja berkumpul di Sungai Songhua yang membeku untuk memanen es. Seperti yang dilaporkan oleh Xinhua News Agency, lebih dari 10.000 pekerja dikerahkan setiap musim dingin untuk memotong dan mengangkut sekitar 200.000 hingga 250.000 meter kubik es langsung dari sungai.

Proses panen ini dilakukan secara manual menggunakan gergaji besar untuk memastikan balok es yang dihasilkan memiliki kejernihan seperti kristal. Balok-balok es ini kemudian ditumpuk, disemen menggunakan air yang membeku secara instan, dan dipahat oleh seniman profesional.

Di masa modern, teknologi telah mengambil peran besar. Alih-alih menggunakan lilin seperti di abad ke-19, pengembang kini menanamkan ribuan meter kabel fiber optik dan lampu LED yang dikendalikan oleh komputer di dalam struktur es. Hal ini memungkinkan bangunan es raksasa setinggi 40 meter seperti replika katedral atau menara pagoda, untuk berubah warna dan berkilau mengikuti irama musik.

Dampak ekonomi dan lonjakan pariwisata

Secara ekonomi, Festival Es Harbin telah menjadi tulang punggung bagi Provinsi Heilongjiang. Meskipun dunia sempat menghadapi kelesuan akibat pandemi, Harbin menunjukkan pemulihan yang sangat masif pada musim dingin 2023-2024. Data resmi dari Harbin Municipal Bureau of Culture and Tourism mencatat bahwa selama tiga hari libur Tahun Baru 2024 saja, kota ini menerima lebih dari 3 juta kunjungan wisatawan yang menghasilkan total pendapatan pariwisata sebesar 5,91 miliar yuan (sekitar Rp12,9 triliun).

Baca Selengkapnya: Menelisik Sisi Gelap Legenda Natal yang Terlupakan

Lonjakan ini didorong oleh fenomena media sosial di Tiongkok, di mana wisatawan dari wilayah selatan—yang sering disebut dengan istilah populer “Little Potatoes”—berbondong-bondong datang ke utara untuk merasakan pengalaman musim dingin yang ekstrem.

Sebagai respons, pemerintah kota meningkatkan layanan mereka, mulai dari menyediakan tenda penghangat hingga pertunjukan drone dan kembang api yang megah di atas kastil es. The Global Times melaporkan bahwa popularitas Harbin pada tahun 2024 ini bukan hanya karena visualnya yang indah, tetapi juga karena keramahan warga lokal dan inovasi kuliner, seperti pir beku yang diiris cantik dan kopi di dalam gelas yang terbuat dari es.

Di sisi lain, seiring dengan meningkatnya kesadaran akan perubahan iklim, penyelenggara festival mulai mengintegrasikan konsep keberlanjutan. Walaupun es yang digunakan diambil secara alami dari sungai, proses pendinginan dan pemeliharaan struktur membutuhkan energi yang besar.

Mengutip dari South China Morning Post, otoritas Harbin kini mulai menjajaki penggunaan energi terbarukan untuk memasok listrik bagi lampu-lampu di taman es, serta metode penyimpanan es yang lebih efisien agar sebagian struktur dapat bertahan lebih lama sebelum mencair di musim semi.

Selain itu, festival ini tidak lagi hanya tentang melihat patung. Kini pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas seperti seluncuran es raksasa sepanjang 500 meter, bersepeda di atas es, hingga pertunjukan opera es internasional. Integrasi antara seni, olahraga musim dingin, dan teknologi digital menjadi kunci mengapa Festival Es Harbin tetap relevan dan selalu dinanti setiap tahunnya.

Keunikan utama dari Festival Es Harbin adalah sifatnya yang sementara. Setiap tahun, karya seni yang dibangun dengan biaya jutaan dolar dan kerja keras ribuan orang akan mencair dan kembali ke Sungai Songhua saat musim semi tiba. Namun, siklus “mencair dan terlahir kembali” inilah yang memberikan nilai magis pada festival tersebut.

Dari sebuah tradisi nelayan sederhana di tepi sungai yang gelap, Festival Es Harbin kini telah bermutasi menjadi simbol kekuatan ekonomi dan kreativitas manusia yang tak terbatas. Seperti yang dinyatakan oleh World Tourism Organization (UNWTO) dalam ulasan mengenai destinasi musim dingin, Harbin telah berhasil mengubah tantangan geografis yang dingin dan keras menjadi aset budaya yang tak ternilai harganya bagi dunia.

Bagi siapa pun yang berkunjung, Festival Es Harbin bukan sekadar perjalanan melihat es. Festival ini adalah saksi bagaimana sejarah, kerja keras, dan teknologi dapat membekukan waktu dalam wujud kastil-kastil bercahaya yang megah di bawah langit malam Manchuria yang kelam.

Rasinesia

4 komentar untuk “Kemegahan Kristal di Kota Es, Mengulik Sejarah dan Transformasi Festival Es Harbin”

  1. Pingback: GenBio Ajak Anak Indonesia Cegah Pneumonia dan Diare – Rasinesia

  2. Pingback: Pelabuhan Gili Mas Kian Diminati sebagai Destinasi Kapal Pesiar – Rasinesia

  3. Pingback: Maapam, Tradisi Khas Sebelum Ramadan di Kinali, Pasaman Barat – Rasinesia

  4. Pingback: Event Anime Hadir di Januari, JKTANIME FEST 2026 Diselenggarakan di Mall of Indonesia – Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top