
JAKARTA – Penulis legendaris Salman Rushdie akhirnya membuka secara terbuka kisah mengerikan di balik serangan brutal yang hampir merenggut nyawanya pada Agustus 2022. Pengakuan itu disampaikan melalui film dokumenter terbaru karya Alex Gibney berjudul Knife: The Attempted Murder of Salman Rushdie, yang akan tayang perdana di Sundance Film Festival pada 25 Januari mendatang.
Dilansir dari The Hollywood Reporter, dalam dokumenter tersebut, publik diajak melihat sisi paling rapuh dari Rushdie, beberapa hari setelah ia ditikam di atas panggung sebuah retret sastra di negara bagian New York. Ia terbaring di ranjang rumah sakit, hampir tak mampu berbicara dengan luka tusukan di leher yang sangat dalam dan satu mata yang rusak parah. Saat itu, Rushdie bahkan sempat meragukan apakah dirinya akan pernah keluar hidup-hidup dari kamar rumah sakit.
Rekaman tersebut diambil oleh sang istri, Rachel Eliza Griffiths—seorang novelis dan penyair—yang juga berperan sebagai sinematografer dalam film ini. Dokumenter Knife membuka sisi yang belum pernah dilihat publik, bukan hanya momen penyerangan yang sempat viral, melainkan fase paling dekat dengan kematian dan teror psikologis yang menyertainya.
“Kami benar-benar tidak tahu apakah kami bisa melewati semua ini,” ujar Rushdie, mengenang hari-hari kritis tersebut, sebagaimana ditulis The Hollywood Reporter, Jumat (16/1/2026).
Sang istri, Griffiths menceritakan kesan pertamanya saat melihat sang suami pascaserangan.
“Ruangan itu sangat dingin, penuh mesin, dengan ventilator besar berwarna biru. Saya langsung berpikir, orang dalam kondisi seperti ini biasanya tidak bangun lagi.” ungkap Griffiths.
Rushdie bukanlah orang asing bagi ancaman pembunuhan. Sejak novel The Satanic Verses terbit pada 1988, ia menjadi target fatwa mati Ayatollah Khomeini. Selama satu dekade, Rushdie hidup berpindah-pindah di Inggris di bawah perlindungan ketat intelijen, tidur di puluhan lokasi berbeda demi menghindari serangan.
Namun sekitar awal 2000-an, ia memilih kembali hidup terbuka dan pindah ke New York. Ia tampil di ruang publik, menghadiri pesta, restoran, hingga acara televisi. Ancaman seolah mereda hingga akhirnya serangan brutal itu benar-benar terjadi, dilakukan oleh seseorang yang bahkan belum lahir ketika The Satanic Verses diterbitkan.
“Rasanya seperti sesuatu dari masa lalu, seperti diserang oleh penjelajah waktu,” kata Rushdie.
Di balik pemulihannya, Rushdie menegaskan bahwa yang menyelamatkannya bukan sekadar prinsip kebebasan berekspresi, melainkan hubungan personal cintanya kepada Rachel Eliza Griffiths. Keduanya bertemu beberapa tahun sebelum insiden, meski terpaut usia 30 tahun. Mereka menikah pada September 2021, hanya sepuluh bulan sebelum serangan terjadi.
“Saya tidak akan berada di sini jika bukan karena dia. Cara dia merawat saya dan memberi saya alasan untuk tetap hidup.” ujar Rushdie.
Griffiths menambahkan bahwa hubungan mereka terasa sangat alami sejak awal tanpa kompromi emosional yang melelahkan. Meski dianggap sebagai simbol perlawanan terhadap sensor dan kekerasan atas kebebasan berekspresi, Rushdie menolak melihat dirinya sebagai legenda.
“Saya hanya seorang pria di sebuah ruangan, memikirkan apa yang akan saya tulis,” katanya.
Hingga kini, Salman Rushdie telah menulis 15 novel, sejumlah esai, memoar—termasuk buku Knife—serta karya jurnalistik. Midnight’s Children mungkin karyanya yang paling terkenal, namun The Moor’s Last Sigh kerap disebut sebagai mahakarya yang kurang diapresiasi.
Trauma, pemulihan, dan kembali ke lokasi serangan
Setelah pulih, Rushdie dan Griffiths memutuskan kembali ke lokasi penyerangan di Chautauqua. Dalam film, mereka terlihat berdiri di panggung tempat Rushdie jatuh bersimbah darah.
“Bagi saya, itu semacam pelepasan. Saya berdiri di tempat saya dulu tumbang.” kata Rushdie.
Baca Selengkapnya: Aktor Legendaris India Naseeruddin Shah Jadi Produser Eksekutif Dokumenter Oscar “Far From Home”
Ia mengaku trauma itu kini sebagian besar telah teratasi dibantu terapi intensif. Namun bekas luka fisik dan psikologis tetap menjadi pengingat akan risiko yang ia hadapi. Rushdie menilai kekerasan yang menimpanya bukan semata soal agama. Menurutnya, ideologi dalam berbagai bentuk telah menjadi pemicu utama kekerasan global saat ini.
“Ideologi kini lebih kuat daripada ekonomi. Dan itu tidak hanya soal Islamisme. Ada hal-hal yang jauh lebih dekat dengan rumah kita sendiri,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan para penulis muda tentang bahaya sensor diri.
“Hal terburuk bagi seorang penulis adalah menyensor dirinya sendiri. Kalau begitu, lebih baik buku itu tidak pernah ditulis.” tambah Rushdie.
Awalnya, Rushdie mengira dokumenter ini akan menjadi kisah kejahatan nyata. Namun pada akhirnya, ia menyadari maknanya jauh lebih personal.
“Ini bukan sekadar kisah kejahatan. Pada akhirnya, ini adalah kisah cinta.” tutup Rushdie.
Rasinesia

