
JAKARTA – Tulum Peyniri merupakan salah satu keju tradisional Turki yang dikenal karena proses pembuatannya yang unik dan cita rasanya yang khas. Menurut pemaparan dari Cheese Atlas, keju ini telah diproduksi selama berabad-abad dan menjadi bagian penting dari warisan kuliner Turki.
Keunikan utama Tulum Peyniri terletak pada proses pematangannya, yakni menggunakan kantung kulit kambing yang disebut tulum, yang memberikan karakter rasa dan aroma tersendiri.
Tulum Peyniri berasal dari Turki, khususnya dari Provinsi Erzincan yang terletak di bagian timur negara tersebut. Wilayah ini memiliki kondisi geografis berupa pegunungan dengan iklim yang relatif keras, sehingga sangat mendukung peternakan domba dan kambing.
Hewan-hewan ternak di daerah ini merumput di padang rumput alami dan tumbuhan liar, yang kemudian memengaruhi kualitas serta rasa susu yang digunakan dalam pembuatan keju.
Secara historis, Tulum Peyniri telah dikenal sejak masa Kekaisaran Ottoman. Pada masa itu, keju ini kerap disajikan dalam jamuan istana dan dikonsumsi oleh kalangan bangsawan. Seiring berjalannya waktu, Tulum Peyniri tidak lagi terbatas pada kalangan elit, melainkan dinikmati oleh masyarakat luas dan menjadi salah satu ikon keju tradisional Turki.
Proses pembuatan Tulum Peyniri dimulai dari fermentasi susu segar yang dapat berasal dari susu kambing, domba, atau sapi. Secara tradisional, susu mentah digunakan, meskipun dalam praktik modern sebagian produsen telah beralih ke susu pasteurisasi.
Baca Selengkapnya: Laba-Laba Goreng (A-Ping): Kuliner Unik dari Skuon, Kamboja
Setelah difermentasi, susu disaring menggunakan kain khusus untuk memisahkan dadih. Dadih kemudian didiamkan semalaman sebelum dihancurkan, diberi garam kering, dan ditekan untuk mengeluarkan sisa cairan. Proses pengeringan ini berlangsung selama sekitar sepuluh hari.
Tahap paling khas dalam pembuatan Tulum Peyniri adalah proses pematangan. Keju yang telah dibentuk dimasukkan ke dalam kulit kambing yang telah dibersihkan dan diolah secara khusus. Kulit tersebut dijahit rapat dan disimpan di lingkungan dengan kelembapan tinggi, biasanya di dataran tinggi, selama kurang lebih tiga bulan. Dalam proses inilah Tulum Peyniri mengembangkan tekstur yang padat namun mudah hancur, serta rasa yang kompleks.
Dari segi karakteristik, Tulum Peyniri memiliki rasa yang tajam, asin, dan sedikit asam, sering kali disamakan dengan keju feta. Namun, teksturnya lebih kering dan renyah dibandingkan feta. Aroma keju ini juga cukup kuat dengan nuansa tanah yang khas akibat proses pematangan dalam kulit hewan.
Dalam penyajian, Tulum Peyniri dikenal sebagai keju yang sangat serbaguna. Masyarakat Turki kerap menyajikannya sebagai bagian dari mezze, dipadukan dengan zaitun, tomat, buah ara, serta sayuran segar. Keju ini juga cocok dinikmati dengan sedikit minyak zaitun. Selain dikonsumsi langsung, Tulum Peyniri sering digunakan dalam berbagai hidangan tradisional seperti börek, pide, saus pesto, serta sebagai pelengkap salad, daging panggang, dan sayuran bakar.
Bagi mereka yang sulit menemukan Tulum Peyniri, terdapat beberapa alternatif keju yang dapat digunakan. Keju feta merupakan pilihan yang paling mendekati dari segi rasa, sementara halloumi menawarkan tekstur yang lebih lembut. Selain itu, chevre muda juga dapat menjadi pengganti karena cita rasanya yang tajam dan mudah hancur.
Afny Dwi Sahira

