Demam “Demon Slayer” di Indonesia: Penonton Membludak, Pendapatan Global Tembus Ratusan Juta Dolar

Poster Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle Arc Chapter 1: Akaza Returns. Foto: Ufotable

JAKARTA – Gelombang besar penonton mengerubungi layar bioskop Indonesia sejak 15 Agustus 2025 lalu ketika film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle Arc Chapter 1: Akaza Returns resmi tayang perdana. “Demam” Demon Slayer ini dirasakan hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Bahkan, banyak penonton yang membagikan keseruan mereka di sosial media saat datang ke bioskop dengan mengenakan kostum dan menirukan (cosplay) tokoh favorit mereka di dalam film.

Di Indonesia, dalam sehari film ini langsung mencatatkan sejarah baru dengan 461.019 penonton di 4.389 tayangan. Menjadikannya pembukaan terbesar sepanjang sejarah film Asia dan anime di Indonesia. Angka itu melewati capaian film-film populer lain yang sebelumnya bertahan cukup lama di puncak box office.

Laju penonton pun kian deras. Dalam waktu tiga hari, jumlahnya menembus satu juta penonton. Pada hari keempat, angka itu melonjak hingga 1,4 juta. Per 19 Agustus 2025, catatan resmi menunjukkan 1.488.219 penonton telah menyaksikan kisah pertarungan Tanjiro dan kawan-kawan di layar lebar.

Capaian ini secara otomatis menggeser rekor anime sebelumnya, termasuk One Piece Film: Red yang menorehkan 1,36 juta penonton sepanjang penayangan.

Tak hanya di Indonesia, gaung Infinity Castle menggema di panggung internasional. Di negara asalnya, Jepang, dalam sebulan penayangan film ini berhasil meraup sekitar $175 juta atau setara ¥25,8 miliar, menempatkannya sebagai film terlaris keempat sepanjang sejarah perfilman Jepang, melampaui beberapa judul legendaris dunia seperti Frozen dan Your Name.

Secara global, pendapatan box office film ini telah mencapai $209,8 juta, menjadikannya film animasi terlaris kesembilan sepanjang masa. Di Indonesia sendiri, catatan pendapatan sementara mencapai $3,6 juta, sebuah angka besar yang ikut berkontribusi pada prestasi dunia anime ini.

Meski belum ada konfirmasi resmi soal biaya produksi, film garapan studio Ufotable ini diyakini menghabiskan budget besar, sebanding dengan kualitas visual dan sinematografi yang selama ini membuat nama studio tersebut identik dengan standar tinggi dalam industri anime. Tetapi, rumor yang beredar menyebutkan, bahwa anggaran produksinya mencapai sekitar $390 juta, setara dengan Rp6,045 triliun (asumsi kurs $1 = Rp15.500).

Bagian Pertama Trilogi Demon Slayer

Infinity Castle merupakan bagian pertama dari trilogi penutup kisah Demon Slayer. Arc panjang yang berasal dari 43 bab manga karya Koyoharu Gotouge itu dipecah menjadi tiga film. Bagian pertama yang kini tayang mengusung tajuk “Akaza Returns”, sementara dua bagian lanjutan dijadwalkan hadir di bioskop pada 2027 dan 2029.

Strategi ini membuat para penggemar tak hanya sekadar menonton film, melainkan memasuki pengalaman berlapis yang direncanakan selama beberapa tahun ke depan.

Selain capaian dalam angka pendapatan dan jumlah penonton, fakta menarik lain adalah kecepatan distribusi film ini ke berbagai negara.

Setelah rilis di Indonesia pada 15 Agustus, film ini segera tayang di Filipina pada 20 Agustus, Korea Selatan pada 22 Agustus, dan menyusul negara-negara lain di Asia, Eropa, hingga Amerika Utara pada pertengahan September.

Momentum ini menunjukkan bagaimana Demon Slayer telah menjadi fenomena global yang tak lagi terbatas pada pasar Jepang.

Dengan deretan rekor yang sudah ditorehkan—mulai dari pembukaan terbesar di Indonesia, penonton jutaan dalam hitungan hari, hingga pendapatan global yang melampaui $200 juta—Demon Slayer: Infinity Castle – Part 1 tak hanya menjadi tontonan, tetapi juga catatan sejarah baru dalam industri perfilman anime dunia.

Laporan Berbagai Pihak

Situs resmi Polygon melaporkan bahwa film ini mencetak rekor box office di Jepang, mengalahkan film sebelumnya, Mugen Train, dalam pendapatan pekan pembukaan sekitar ¥6 miliar atau sekitar $40,6 juta.

Anime News Network juga menyebutkan bahwa film ini memiliki visual yang menakjubkan, skor musik yang bagus hingga rasa ketegangan yang fantastis. Namun, struktur cerita yang repetitif atau terlalu panjang lagi lambat, menyebabkan tempo film terasa pelan dan mengurangi dampak emosional.

Selain itu, Animemojo menggambarkan film ini sebagai “roller coaster emosi,” dengan kualitas animasi yang bahkan melebihi standar Ufotable sebelumnya. Hal ini tentu menjadi sebuah penghargaan tertinggi bagi studio tersebut.

Laman ScreenRant juga menuliskan, ulasan awal dari Jepang menyebut film ini mungkin “animasi terbaik dan paling emosional” dari Demon Slayer sejauh ini, bahkan menyebutnya sebagai “masterpiece.”

Di sisi lain, di situs web forum diskusi Reddit, beragam komentar bermunculan. Ada yang menunjukkan rasa kagum terhadap laga-laga emosional dan penggambaran tokoh. Tetapi, tidak sedikit juga yang menyebut film ini terasa tidak tuntas dengan alasan, visual yang spektakuler tidak dibarengi dengan ceritanya secara proporsional.

Sejauh ini, situs web agregasi ulasan film Rotten Tomatoes belum mencatat ulasan resmi dari kritikus maupun skor penonton untuk Infinity Castle, sehingga belum ada metrik kuantitatif kritikus maupun audiens global yang tercatat. Tetapi, halaman filmnya sudah tersedia di situs tersebut. Artinya, film ini belum masuk ke dalam sistem penilaian komersial.

Film ini dipuji luas atas visualnya yang spektakuler, musik yang menggugah, dan ketegangan bertarung yang tinggi. Pencapaian ini semakin menegaskan reputasi Ufotable sebagai salah satu studio animasi top dunia.

Dengan torehan prestasi dan pencapaian yang didapatkan dalam waktu singkat, bukan berarti film ini 100% tanpa cela. Beberapa ahli dan penggemar, sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, memfokuskan kritikan mereka pada struktur naratif film yang menempatkan kilas balik terlalu sering dengan durasi panjang, sehingga membuat film terasa lambat di beberapa bagian.

Selain ulasan di media, penggemar film ini pun terbagi. Ada yang terpukau secara emosional, ada pula yang merasa kecepatan narasi atau ritme cerita yang disampaikan melalui film kurang pas. Terlepas dari apapun itu, film ini tetap menyita atensi penonton Indonesia di saat gonjang-ganjing dan perdebatan panas sedang melanda dunia animasi lokal tanah air belakangan ini.

Film Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba – The Movie: Infinity Castle Arc Chapter 1: Akaza Returns masih tayang di bioskop.

Ajak keluarga, teman, atau pasanganmu untuk ambil bagian dari sejarah anime yang menjadi fenomena global dengan basis penggemar loyal dan aktif di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Ikuzo!

Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top