Feuerzangenbowle, Ritual Hangat Tahun Baru Membakar Masa Lalu

Hidangan Feuerzangenbowle. Foto: Chefkoch

JAKARTA – Jerman dikenal luas lewat sejarah kelamnya. Namun di balik semua itu, negara ini menyimpan beragam tradisi unik yang masih hidup hingga kini. Salah satunya adalah Feuerzangenbowle, tradisi yang kerap dijumpai pada malam tahun baru.

Di sebuah kota kecil bernama Karlsruhe pada tahun 2013, saya pertama kali mengenalnya saat berusia delapan belas tahun. Pengalaman itu menjadi momen pembuka dalam memahami bagaimana masyarakat Jerman merawat kebersamaan lewat segelas minuman hangat dan ritual yang teatrikal.

Pada suatu musim dingin, salah satu guru bahasa Jerman saya mengundang saya untuk merayakan malam tahun baru di rumahnya. Undangan ini diberikan karena saya baru saja tinggal di Jerman, negara yang sering disebut dalam pelajaran sejarah sebagai kekuatan besar dunia.

Mengingat ini merupakan pengalaman pertama saya merayakan tahun baru di luar negeri, saya menyanggupi undangannya. Perjalanan dari tempat tinggal saya ke Karlsruhe memakan waktu sekitar empat setengah jam lewat jalur darat dengan menaiki mobil.

Di dalam perjalanan, saya teringat Indonesia dan bagaimana saya merayakan secara kecil-kecilan malam pergantian tahun. Saya terkadang merayakan pergantian tahun baru hanya dengan tidur lebih larut dari biasanya atau sekadar bermain kembang api di depan rumah. Tak ada sesuatu yang spesial.

Namun, kali ini berbeda. Pesta malam pergantian tahun di Jerman merupakan pengalaman baru bagi saya sekaligus pesta tahun baru pertama saya di negeri orang.

Hidangan Chili con Carne dalam merayakan tahun baru. Foto: Rasinesia/Istiqa Suwondo

Guru saya dan suaminya sibuk menyiapkan makanan yang dapat dikonsumsi oleh seorang Muslim. Salah satu hidangan utamanya adalah Chili con Carne. Meskipun bukan makanan khas Jerman, melainkan adaptasi dari hidangan Meksiko, menu ini cukup populer di kalangan masyarakat Jerman karena mudah dibuat dan rasanya kaya dan lezat.

Nah, di sini lah kemudian pertemuan pertama saya dengan Feuerzangenbowle. Selain hidangan utama, ada satu minuman tradisional yang saat itu menarik perhatian saya, yakni Feuerzangenbowle. Secara harfiah, Feuerzangenbowle berarti “punch dengan penjepit api”. Tentu bukan berarti kita meminum alat penjepit—nama itu merujuk pada cara penyajiannya yang melibatkan api dan alat penjepit gula.

Feuerzangenbowle ini terbuat dari anggur merah yang dipanaskan di atas kompor bersama rempah-rempah seperti cengkeh, lemon dan kayu manis. Di atas panci, diletakkan sebongkah gula batu yang telah direndam rum (minuman beralkohol tinggi).

Gula itu kemudian dibakar hingga mencair, dan lelehan karamel yang terbakar perlahan menetes ke dalam anggur hangat di bawahnya.

Dikarenakan kandungan alkoholnya yang tinggi, saya tidak mencicipi minuman ini. Namun, saya penasaran dan bertanya kepada mereka yang meminumnya. Mereka menjawab bahwa rasanya sangat manis, hangat, dan aromatik—seolah menyatukan rasa rempah, buah, dan gula yang terbakar dalam satu tegukan.

Proses “ritual” Feuerzangenbowle oleh seorang rekan. Foto: Rasinesia/Istiqa Suwondo

Meski saya tidak mencobanya secara langsung, saya tetap bisa merasakan atmosfer kehangatan yang diciptakan dari ritual penyajiannya.

Setelah pertunjukan api dari minuman ini selesai, acara dilanjutkan dengan tukar kado sederhana, yang diiringi dengan tawa dan cerita-cerita lucu dari masa lalu. Tak lama setelahnya, kami semua keluar rumah untuk menikmati pesta kembang api di halaman.

Langit malam musim dingin yang gelap seolah hidup oleh ledakan warna dan suara yang meriah. Pesta ini berlangsung hingga pukul tiga pagi.

Momen ini menjadi pengalaman yang sangat membekas. Saya bukan hanya merayakan tahun baru, tetapi juga memperoleh pengetahuan baru tentang sisi budaya Jerman yang tidak pernah saya temui dalam buku-buku sejarah.

Tradisi ini mengajarkan saya bahwa kebudayaan tidak selalu hadir dalam bentuk formal dan tercatat- kadang ia justru hidup dalam kebiasaan kecil; dalam meja makan yang hangat, dalam cerita yang dibagikan sambil menunggu gula meleleh di atas nyala api.

Tradisi Feuerzangenbowle

Akar tradisi Feuerzangenbowle berasal dari kalangan mahasiswa Jerman abad ke-18, yang kala itu memiliki kebiasaan membakar gula yang direndam rum sebagai bagian dari pesta minuman. Salah satu minuman serupa yang populer saat itu adalah Krambambuli, yaitu minuman manis berbasis buah ceri dan rum.

Namun, Feuerzangenbowle mendapatkan popularitas luas pada abad ke-20, terutama setelah terbitnya novel Die Feuerzangenbowle karya Heinrich Spörl pada tahun 1933.

Novel ini mengangkat kisah nostalgia masa sekolah dan minuman yang menyertainya. Kemudian, adaptasi film komedi dengan judul yang sama dirilis pada 1944 turut menjadikan Feuerzangenbowle sebagai bagian dari perayaan tahun baru di banyak rumah tangga Jerman hingga saat ini.

Minum Feuerzangenbowle bukan hanya soal menikmati rasa minuman, tetapi juga tentang menciptakan ruang bersama untuk mengenang masa muda, berbagi cerita, dan menertawakan lelucon klasik lintas generasi.

Proses penyajian makanan sebelum pesta. Foto: Rasinesia/Istiqa Suwondo

Ritual ini tidak bisa dilakukan secara cepat dan sendiri—ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kehadiran orang lain. Momen ini dipenuhi obrolan santai, tawa, cerita keluarga, hingga kehangatan batin yang dalam budaya Jerman disebut sebagai Gemütlichkeit.

Tradisi ini masih terus hidup. Di malam tahun baru, keluarga-keluarga lintas generasi berkumpul dan menyajikan Feuerzangenbowle sebagai bagian dari perayaan.

Mereka berbagi resep keluarga, menghidupkan kembali kenangan lama, dan menciptakan momen baru. Meski terlihat sederhana, tradisi ini tetap populer karena ia menyentuh sisi terdalam manusia: kerinduan akan kebersamaan dan rasa memiliki.

Feuerzangenbowle bukan sekadar minuman. Ia adalah medium untuk membangun dan merawat hubungan sosial melalui proses kolektif, suasana hangat, dan makna tradisionalnya. Dalam tiap tetesan gula yang meleleh, ada cerita yang mengalir dan hubungan yang menguat.

Kira-kira kamu ingin buat Feuerzangenbowle di Indonesia untuk merayakan tahun baru 2026?

Istiqa Suwondo

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top