Gerakan “Punk” Senyap di London: Seniman Muda Bagikan Kartu Keanggotaan Galeri untuk Masuk Gratis ke Museum Seni

Sebuah kotak kunci berisi kartu anggota Tate terpasang di kotak telepon umum London. Foto: Jay Izzard

JAKARTA – Sebuah inisiatif unik bernama Artist Membership Project kini menjadi perbincangan di dunia seni London. Proyek ini memungkinkan para seniman muda untuk mengunjungi pameran bergengsi tanpa harus membayar tiket masuk yang mahal di lembaga seni ternama Inggris seperti Tate Modern, National Gallery, dan Courtauld Gallery.

Dilansir dari The Guardian, di dekat Tate Modern terdapat sebuah kotak besi kecil dengan kunci sandi. Siapa pun yang mengetahui kodenya bisa membuka kotak tersebut dan menemukan kartu keanggotaan museum di dalamnya. Dengan kartu itu, mereka dapat masuk gratis ke pameran sementara. Setelah digunakan, kartu dikembalikan ke kotak agar bisa dipakai orang lain.

Dalam tiga bulan, proyek ini telah menarik lebih dari 600 anggota. Kebanyakan dari mereka adalah seniman muda dan lulusan baru. Ben Broome, kurator sekaligus pendiri proyek ini, menyebut inisiatif tersebut sebagai “separuh proyek gotong royong, separuh karya seni.”

Broome memperkirakan bahwa para anggota sudah menghemat ribuan poundsterling dari biaya tiket masuk. Ia mengatakan ide ini muncul ketika sedang berbincang dengan seorang seniman muda yang belum lama lulus kuliah.

Ketika ia bertanya apakah seniman itu telah melihat pameran Ed Atkins di Tate Britain, sang seniman menjawab tidak mampu membayar tiket seharga £18.

“Dari situ saya sadar, banyak seniman muda yang ingin terlibat dengan dunia seni tapi terhalang biaya,” kata Broome, sebagaimana dikutip dari The Guardian, Selasa (28/10/2025).

Menurut studi tahun 2024, pendapatan tahunan rata-rata seniman di Inggris hanya sekitar £12.500 atau turun 40% sejak tahun 2010.

Berangkat dari keprihatinan itu, Broome menghubungi sekitar selusin temannya yang menjalankan galeri seni komersial dan meminta mereka menyumbang masing-masing £100. Uang itu digunakan untuk membeli beberapa kartu keanggotaan dari sembilan lembaga seni besar di London.

Semua kartu kemudian disimpan di berbagai kotak dengan kunci kombinasi dan informasi tentang lokasi serta kode dibagikan lewat grup WhatsApp.

“Proyek ini sedikit rahasia, sedikit punk, dengan nuansa anarki ringan. Mungkin karena itulah banyak orang tertarik karena terasa berani dan agak melawan arus.” ujar Broome.

Broome menegaskan bahwa ia memahami alasan lembaga seni memungut biaya masuk, sebab menggelar pameran membutuhkan biaya besar. Namun ia menilai, kebijakan tersebut justru menjauhkan seniman dari ruang yang seharusnya menjadi tempat mereka berkembang.

“Ironis sekali ketika seniman yang menjadi jiwa museum,justru tak mampu menikmati karya di dalamnya,” ujarnya.

Sebagai pembanding, Broome mencontohkan Museum of Modern Art (MoMA) di New York yang menawarkan program keanggotaan dengan harga sangat terjangkau bagi seniman. Mereka cukup menunjukkan bukti praktik seni seperti situs web atau media sosial untuk mendapatkan kartu anggota.

Baca Selengkapnya: Jugun Ianfu dan Hutang Negara Terhadap Penyelesaian Tragedi Kemanusiaan

Antusiasme terhadap inisiatif Broome dkk ini luar biasa. Dalam hitungan hari, grup WhatsApp proyek itu telah dipenuhi permintaan dan kartu-kartu museum digunakan beberapa kali setiap hari.

Pihak Tate memberikan tanggapan resmi, menyatakan bahwa museum nasional di Inggris pada dasarnya sudah gratis untuk publik. Namun, pameran khusus atau sementara tetap berbayar karena menjadi sumber pendapatan utama lembaga tersebut.

Pihak Royal Academy dan V&A juga menegaskan hal serupa, bahwa mereka tetap menyediakan hari bebas tiket, program “bayar seikhlasnya”, serta potongan harga untuk pengunjung muda atau penerima tunjangan sosial.

Broome mengakui situasi sulit yang dihadapi museum dan mendukung upaya mereka bertahan secara finansial. Namun, ia juga menegaskan bahwa banyak seniman yang tetap tidak akan datang jika biaya terlalu tinggi.

“Kalau mereka memang tidak mampu datang, lebih baik kita bantu mereka agar bisa masuk dan terhubung dengan karya seni. Setidaknya begitu mereka masuk, kita sudah menang,” katanya.

Jumlah pengunjung di berbagai lembaga seni London belum pulih sejak pandemi Covid-19, dengan jumlah pengunjung di seluruh lokasi Tate turun lebih dari 30% sejak 2019.

Tampaknya, provokasi Broome mulai membuahkan hasil. Gilane Tawadros selaku direktur Whitechapel Gallery di London, mengatakan bahwa ia secara pribadi belum mendengar tentang proyek ini.

“Banyak staf kami juga merupakan seniman aktif, jadi saya bisa membayangkan mereka mengetahuinya. Saya sepenuhnya memahami kebutuhan para seniman untuk berbagi sumber daya, karena harga tiket pameran sering kali terlalu mahal. Padahal, kemampuan untuk melihat karya seni secara langsung sangat penting. Saya rasa akan sangat baik jika lembaga-lembaga seni mempertimbangkan berbagai cara untuk mendukung dan menumbuhkan komunitas seniman kita.” jelas Gilane Tawadros.

Namun, inisiatif ini tidak berjalan tanpa hambatan. Awal bulan ini, pihak Barbican membatalkan kartu keanggotaan Broome dengan alasan adanya “aktivitas mencurigakan”. Broome kemudian menggalang dana publik untuk membuat kartu pengganti dengan nama baru, tetapi kartu itu juga segera dibatalkan.

Seorang juru bicara Barbican mengatakan bahwa pihak galeri akan menghubungi Broome untuk “mengeksplorasi opsi yang mungkin bisa dijalankan bersama”.

Broome menegaskan bahwa tujuan proyek ini bukan untuk menciptakan sistem permanen yang memungkinkan orang masuk ke pameran secara gratis selamanya.

“Sejak awal, proyek ini memang tidak dimaksudkan untuk bertahan lama,” ujarnya.

Broome mengaku, beberapa kartu sudah rusak karena terlalu lama terkena hujan dan lembap, bahkan ada kotak kunci yang macet dan tidak bisa dibuka.

“Semua ini dirancang untuk menunjukkan betapa rentannya posisi seniman saat ini dan bahwa kita membutuhkan model alternatif dan menurut saya, proyek ini telah berhasil membuktikan hal itu.” kata Broome.

Rasinesia

1 komentar untuk “Gerakan “Punk” Senyap di London: Seniman Muda Bagikan Kartu Keanggotaan Galeri untuk Masuk Gratis ke Museum Seni”

  1. Pingback: Memasuki Tahun Keenam, “Antardunia dalam Puisi” Jadi Tema Besar Pertemuan Lintas Seni di Payakumbuh Poetry Festival 2025 – Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top