Hidup Offline Selamanya: Bagaimana Dunia Bertahan Tanpa Internet?

Ilustrasi tidak ada internet. Foto: Pinterest

 

JAKARTA – Bayangkan suatu pagi yang bersamaan dengan malam hari di penjuru yang lain, seluruh dunia terkejut dan menyadari satu hal: internet lenyap tanpa jejak. Tidak ada lagi WhatsApp, Google, YouTube, atau Instagram. Tidak ada email, e-commerce, bahkan sistem perbankan digital yang kini menjadi tulang punggung ekonomi global.

Dunia yang selama puluhan tahun terhubung dalam satu jaringan mendadak terputus, meninggalkan kebingungan massal. Internet bukan hanya jadi alat hiburan. Ia adalah urat nadi peradaban modern.

Hampir semua aspek kehidupan manusia bergantung padanya: komunikasi, transportasi, perdagangan, hingga penyimpanan pengetahuan.

Kehilangan internet berarti manusia harus menghadapi realitas baru yang benar-benar asing, yaitu kembali ke dunia tanpa koneksi instan.

Pertanyaannya, bagaimana manusia akan bertahan? Bagaimana peradaban akan berkembang dari tahun ke tahun ketika internet sudah tak lagi ada?

Meski tak ada yang tahu pasti, mari kita coba hadirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi berdasarkan beragam sumber riset dan penelitian tentang dunia tanpa internet jika suatu saat benar-benar menjadi kenyataan.

Tahun demi Tahun: Dunia Tanpa Internet & Dampaknya bagi Manusia

Tahun Pertama: Kekacauan Global

Hari-hari awal tanpa internet ditandai dengan kepanikan massal. Sistem transportasi udara yang mengandalkan navigasi berbasis jaringan lumpuh, transaksi perbankan digital berhenti, dan pasar saham runtuh.

Media sosial yang biasanya menjadi sumber informasi hilang begitu saja, membuat masyarakat bingung mencari kabar. Manusia kembali mengandalkan televisi, radio, dan surat kabar cetak.

Dari sisi psikologis, jutaan orang merasakan withdrawal layaknya kehilangan candu, karena ketergantungan terhadap media sosial dan hiburan digital begitu tinggi.

Seperti yang dijelaskan Schachenhofer dkk., “internet outages severely disrupt the flow of information within organizations, leading to delays and loss of coordination” (2023).

5 Tahun Kemudian: Adaptasi Awal

Setelah melalui masa kacau, manusia mulai menemukan cara beradaptasi. Perusahaan kembali menggunakan jaringan kabel lokal, fax, atau bahkan sistem pos untuk komunikasi bisnis.

Perbankan beralih ke transaksi manual berbasis catatan fisik. Masyarakat kembali mengandalkan televisi nasional dan radio komunitas sebagai sumber informasi utama.

Anak-anak tumbuh dengan permainan tradisional, sementara industri hiburan mencari jalan baru dengan distribusi lewat kaset, CD, atau media cetak. Dunia seakan melangkah mundur puluhan tahun.

Dalam penelitian Grandhi, responden menggambarkan bahwa hilangnya internet “disrupt daily routines and personal relationships more than societal structures” (2017).

10–20 Tahun: Struktur Baru Muncul

Dalam dua dekade, manusia mulai membangun struktur alternatif untuk menggantikan internet. Jaringan komunikasi regional berbasis satelit terbatas mungkin diciptakan, tapi tidak pernah benar-benar global.

Pengetahuan kembali tersimpan dalam bentuk fisik: perpustakaan cetak menjadi pusat peradaban. Hubungan sosial menjadi lebih intim karena orang harus berinteraksi langsung.

Namun, ketimpangan muncul: negara dengan teknologi cetak dan penyiaran yang kuat lebih maju, sementara wilayah lain semakin terisolasi.

Hal ini sesuai dengan temuan yang dijelaskan oleh Dunn bahwa “the collapse of digital infrastructures widens inequalities between technologically advanced regions and those less equipped” (2018).

50 Tahun Kemudian: Dunia yang Benar-Benar Berbeda

Generasi baru tumbuh tanpa internet, dan mereka tidak merasakan kehilangan seperti generasi sebelumnya. Hidup tanpa media sosial menciptakan masyarakat yang lebih fokus pada komunitas lokal, tapi juga lebih tertutup dari dunia luar.

Ekonomi global yang dulu saling terhubung kini terfragmentasi menjadi sistem regional. Banyak inovasi teknologi terhambat, namun kreativitas dalam bentuk baru berkembang: seni, musik, dan budaya tumbuh dengan cara berbeda, lebih organik dan berbasis komunitas.

Seperti yang disebutkan Castells, “technology shapes societies not by its mere existence, but by the way humans reorganize social relations around it” (2010).

100 Tahun Kemudian: Evolusi Peradaban Baru

Seratus tahun tanpa internet, manusia telah membentuk cara hidup yang sepenuhnya baru. Dunia tidak lagi terbayang dengan konsep online atau offline, semua adalah realitas nyata.

Komunikasi kembali berbasis tatap muka, surat, atau jaringan kabel lokal. Peradaban menjadi lebih lambat namun stabil.

Ironisnya, sebagian orang mungkin menganggap internet hanyalah mitos dari masa lalu, sesuatu yang terlalu ajaib untuk dipercaya pernah ada.

Dampak Bagi Manusia: Sosial, Ekonomi, Budaya, dan Psikologis

Hilangnya internet membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Dari sisi sosial, hubungan antarindividu kembali terpusat pada interaksi tatap muka dan komunitas lokal. Hal ini menciptakan kedekatan yang lebih intim, tetapi pada saat yang sama mengurangi keragaman budaya lintas negara.

Castells (2010) menegaskan bahwa “the disappearance of global communication networks leads to stronger local ties but also reduces cultural diversity”. Dalam dunia tanpa internet, masyarakat lebih menyatu dengan lingkungan sekitarnya, namun kesempatan untuk bertukar budaya lintas batas menjadi sangat terbatas.

Secara ekonomi, krisis besar terjadi di awal ketika perdagangan global runtuh karena tidak adanya jaringan digital. Sistem perbankan digital terhenti, pasar saham kolaps, dan rantai pasok internasional terganggu parah. Dalam jangka panjang, manusia berusaha membangun sistem ekonomi baru yang lebih lokal, mengandalkan catatan manual, mata uang fisik, atau bahkan barter.

Schachenhofer (2023) menemukan bahwa “internet outages disrupt not only communication but also entire economic transactions, delaying productivity and causing systemic risks”. Artinya, tanpa internet, perekonomian modern harus benar-benar direstrukturisasi agar bisa berjalan kembali.

Dari segi budaya, hilangnya internet berarti matinya dunia digital yang selama ini mendominasi hiburan global: media sosial, film streaming, musik daring, hingga game online.

Namun, kondisi ini justru membuka ruang bagi lahirnya bentuk kreativitas baru. Seni pertunjukan, musik akustik, teater, dan sastra kembali mendapatkan tempat utama dalam kehidupan masyarakat.

Seperti yang ditulis Dunn (2018), “cultural resilience emerges when technological infrastructures collapse, as communities reinvent forms of expression”. Dengan kata lain, hilangnya teknologi mendorong manusia untuk kembali menciptakan bentuk ekspresi yang lebih organik dan berakar pada komunitas nyata.

Secara psikologis, dampaknya berbeda antar generasi. Bagi generasi pertama yang hidup di masa transisi, kehilangan internet menimbulkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi, karena ketergantungan mereka pada dunia digital sangat tinggi.

Grandhi (2017) menyebut bahwa pemadaman internet dapat, “create severe anxiety in the short term, but also force individuals to adapt and rediscover offline interactions”.

Namun, bagi generasi berikutnya, kondisi ini dianggap sebagai hal normal. Mereka tumbuh tanpa internet, sehingga tidak memiliki beban emosional yang sama dan perlahan-lahan menemukan keseimbangan baru dalam interaksi sosial maupun keseharian.

Internet yang Hilang dan Masa Depan yang Baru

Menghilangnya internet adalah skenario yang tampak mustahil, namun membayangkan konsekuensinya memberi kita perspektif baru tentang ketergantungan manusia pada teknologi.

Internet bukan sekadar alat komunikasi atau hiburan, tetapi fondasi utama peradaban modern yang mempengaruhi hampir semua aspek kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan psikologis.

Tanpa jaringan global ini, manusia dipaksa membangun ulang cara hidup mereka, menemukan struktur sosial baru, mengembangkan kreativitas alternatif, dan menyesuaikan diri dengan sistem ekonomi lokal atau regional.

Generasi pertama mungkin mengalami stres dan kehilangan. Tetapi, generasi selanjutnya akan terbiasa hidup di dunia yang lebih lambat, lebih lokal, dan lebih nyata.

Dari perspektif yang lebih luas, hilangnya internet menunjukkan bahwa teknologi membentuk masyarakat bukan hanya melalui keberadaannya, tetapi melalui cara manusia menata kembali relasi sosial dan budaya di sekitarnya.

Mungkin suatu hari, internet akan dianggap sebagai mitos atau legenda masa lalu, sebuah ingatan tentang dunia yang dulunya penuh koneksi instan, tetapi sekaligus membuktikan bahwa manusia selalu mampu beradaptasi dan menemukan keseimbangan baru di tengah keterbatasan.

Yogi Pranditia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top