
JAKARTA – Suatu sore di Kyoto, angin musim gugur membawa aroma manis matcha yang baru diseduh. Seorang tuan rumah upacara teh menyambut tamunya dengan senyum tipis, menunduk dengan penuh hormat.
Cangkir teh disajikan perlahan, seakan setiap gerakan adalah tarian yang sudah berlatih selama puluhan tahun. Di dinding ruangan tatami, sebuah kaligrafi tergantung dalam bahasa Jepang yang jika dibaca berbunyi Ichi-go Ichi-e, yang berarti “satu waktu, satu pertemuan”.
Ternyata, kalimat itu tidak sekadar hiasan. Kalimat itu adalah pengingat bahwa momen yang sedang dialami tak akan pernah terulang dengan cara yang persis sama.
Akar Sejarah: Dari Zen hingga Upacara Teh
Konsep ichi-go ichi-e diyakini mulai populer pada abad ke-16 melalui pengaruh Sen no Rikyu (1522–1591), maestro upacara teh yang merevolusi chanoyu (upacara minum teh tradisional Jepang) dengan kesederhanaan dan keheningan ala Zen.
Rikyu mengajarkan bahwa setiap pertemuan dalam ruang teh (chashitsu) adalah unik, meski orang yang sama bisa bertemu lagi, situasinya tak akan identik: cuaca, suasana hati, percakapan, dan kondisi hidup selalu berubah.
Pada abad ke-19, ungkapan ini dipopulerkan oleh Ii Naosuke (1815–1860), seorang daimyo dan ahli upacara teh yang menulis esai Chanoyu Ichie-shū. Dalam karyanya, ia menekankan bahwa tuan rumah dan tamu harus memperlakukan setiap pertemuan seperti pertemuan terakhir dalam hidup.
Filosofi ini kemudian menjadi bagian penting dari budaya Jepang, melampaui upacara teh hingga ke kehidupan sehari-hari.
Makna Filosofis: Kehadiran Penuh di Momen Kini
Secara harfiah, ichi-go ichi-e berarti:
-
Ichi-go : “Satu periode dalam kehidupan” atau “sekali dalam seumur hidup”
-
Ichi-e : “Satu pertemuan”
Maknanya selaras dengan prinsip Zen dan Buddhisme yang menekankan ketidakkekalan (mujo). Dalam pemahaman Jepang, setiap pertemuan adalah kesempatan yang tidak dapat diulang persis sama, sehingga layak dihargai sepenuhnya.
Dalam praktiknya, filosofi ini mengajak orang untuk hadir sepenuhnya dalam interaksi dengan orang lain. Menghargai detail kecil yang mungkin terlewat jika tergesa-gesa. Kemudian, filosofi ini juga mengajak untuk mengurangi penyesalan karena setiap momen dijalani sepenuh hati.
Ichi-go Ichi-e di Kehidupan Modern
Walau lahir dari chanoyu, ichi-go ichi-e kini menjadi prinsip hidup yang relevan di berbagai konteks kehidupan di Jepang, seperti pendidikan, bisnis, hingga wisata.
Di pendidikan, misalnya, guru di Jepang sering mengingatkan muridnya untuk menghargai setiap kelas, karena kesempatan belajar tidak selalu datang dua kali.
Jika beralih ke bisnis, di dalam pertemuan kerja, prinsip ini mendorong keterbukaan dan fokus penuh pada pembahasan.
Sedangkan di wisata, banyak pemandu wisata di Kyoto yang menggunakan ungkapan ini untuk mengajak wisatawan menikmati perjalanan seolah itu kesempatan satu-satunya.
Bahkan dalam budaya populer, konsep ini muncul di novel Ichi-go Ichi-e: Once in a Lifetime Encounters karya Yoshimoto Banana dan juga di acara televisi perjalanan yang mengusung tema pertemuan unik dengan orang asing.
Resonansi Global
Filosofi ini kini diapresiasi di luar Jepang, sering disejajarkan dengan konsep mindfulness di Barat. Bedanya, mindfulness menekankan kesadaran terhadap diri sendiri, sedangkan ichi-go ichi-e menekankan nilai relasi antarmanusia dan pertemuan sosial.
Sebagaimana yang dikatakan oleh penulis Jepang Shinichi Nagata dalam bukunya berjudul Ichi-go Ichi-e: The Art of Making the Most of Every Moment, “Setiap momen adalah bunga sakura: indah, singkat, dan tak terulang. Siapa pun yang melihatnya dengan sepenuh hati akan membawa kehangatan itu seumur hidup.”
Ichi-go ichi-e mengajarkan bahwa hidup ini terdiri dari pertemuan-pertemuan yang berharga, meski sering kita anggap sepele.
Dengan memandang setiap interaksi sebagai satu-satunya dalam hidup, kita belajar untuk hadir sepenuhnya, mengapresiasi yang kecil, dan meninggalkan momen dengan hati yang utuh.
Mungkin itulah mengapa, di ruangan teh yang sederhana, cangkir matcha terasa lebih dari sekadar minuman: ia adalah perayaan sekali seumur hidup.
Rasinesia