
JAKARTA – Aktris Oona Chaplin tengah menjalani kehidupan yang jauh dari gemerlap Hollywood ketika menerima panggilan audisi dari sutradara legendaris James Cameron. Saat itu, Chaplin bahkan tinggal di sebuah rumah pohon di tengah hutan Kuba yang ia bangun sendiri.
“Tidak banyak hal yang bisa membuat saya turun dari rumah pohon. Tapi panggilan untuk bertemu James Cameron jelas salah satunya.” ungkap Chaplin, sebagaimana dilansir dari The Hollywood Reporter, Kamis (18/12/2025).
Chaplin dikenal luas lewat perannya sebagai Talisa, calon istri Robb Stark yang tragis di serial Game of Thrones. Namun kali ini, tawaran yang datang jauh lebih besar: memerankan Varang, pemimpin suku Ash People yang ganas, sensual, dan penuh amarah dalam film terbaru Cameron, Avatar: Fire and Ash.
“Itu salah satu momen paling surealis dalam hidup saya. Dia adalah salah satu pahlawan saya — Aliens, Terminator, Titanic. Saya benar-benar gugup. Tapi dia cepat membuat saya merasa nyaman. Dia seperti anak kecil yang ingin bermain. Kami langsung bermain adegan dan dia terlibat sepenuhnya secara fisik dan emosional.” ujar Chaplin.
Usai audisi, keduanya bahkan terhubung lewat diskusi soal isu lingkungan seperti permakultur tanah, menunjukkan kesamaan visi ekologis antara aktor dan sutradara.
Audisi yang mengubah keputusan James Cameron
Bagi James Cameron, pertemuan itu mengubah segalanya. Ia menggambarkan audisi Oona Chaplin dengan kata “memukau”, meski sebelumnya sudah ada tiga aktris bintang besar yang juga masuk pertimbangan.
“Ada tiga aktris lain yang ingin sekali saya ajak bekerja sama. Mereka semua bintang film. Mereka luar biasa. Tapi ada sesuatu pada Oona. Dia terkoneksi sepenuhnya dengan karakter itu.” ujar Cameron.
Baca Selengkapnya: “Zootopia 2” Raup US$272 Juta Pada Pekan Pertama di Box Office Tiongkok
Cameron menjelaskan bahwa Chaplin menghadirkan seksualitas, dominasi psikologis, kemarahan, dan lapisan emosi yang kompleks dalam satu kesatuan yang mengalir alami.
“Ada banyak lapisan dalam karakter Varang dan dorongan batin yang menggerakkannya. Oona bisa berpindah dengan sangat cair di antara semua itu, sesuatu yang tidak saya lihat pada kandidat lain,” tambahnya.
Meski begitu, Cameron menegaskan bahwa aktris lain tetap luar biasa. Baginya, secara retrospektif ia bisa saja memilih siapa pun dari mereka. Tapi instingnya selalu mengikuti aktor yang paling memahami karakternya.
Dipuji sejak pemutaran perdana
Keputusan Cameron tampaknya terbukti tepat. Sejumlah ulasan awal menyoroti penampilan Chaplin sebagai energi baru yang liar dan mencuri perhatian dalam waralaba Avatar. Saat proses produksi di Manhattan Beach Studios, Chaplin mengaku terkejut dengan cara Cameron bekerja, terutama dalam sesi performance capture.
“Dia benar-benar hadir secara fisik, psikologis, dan spiritual di setiap momen. Ada sutradara yang hanya mengarahkan dari jauh, tapi dia masuk ke dalam adegan bersama kami. Yang paling mengejutkan adalah betapa banyak waktu yang ia sediakan untuk berdiskusi, menggali inti emosi sebuah adegan.” jelas Chaplin.
Teknologi motion capture justru memberi Cameron ruang lebih luas untuk mendalami karakter bersama para aktor.
Melihat dirinya dalam wujud digital
Pada pemutaran perdana Avatar: Fire and Ash di Los Angeles, Chaplin akhirnya melihat penampilannya secara utuh untuk pertama kalinya, termasuk versi digital dirinya sebagai Varang.
“Bagian yang paling membingungkan adalah pada dasarnya itu tetap saya. Saya bahkan bisa tahu kapan yang bergerak adalah stunt double karena energi geraknya berbeda.” kata Chaplin.
Chaplin yang merupakan cucu legenda Hollywood Charlie Chaplin juga mengungkapkan bahwa pengalaman ini membangkitkan kembali semangatnya untuk berakting setelah sempat vakum.
“Saya fokus menjadi ibu selama dua setengah tahun terakhir dan memilih tidak bekerja. Tapi entah kenapa, bertepatan dengan film ini, saya merasa siap kembali. Saya sangat berharap peran ini bisa membuka lebih banyak kesempatan ke depan.” tutupnya.
Rasinesia

