Kala Musik Tak Lagi Dijual di Pinggir Jalan: Menghilangnya Penjual Kaset Bajakan di Indonesia

Ilustrasi seseorang di antara CD bajakan. Foto: Getty Images

 

JAKARTA – Era 1990-an hingga awal 2000-an, suara musik yang pecah dari speaker mungil dan aroma plastik kaset yang baru dibuka adalah bagian akrab dari kehidupan sehari-hari di banyak kota di Indonesia.

Penjual kaset bajakan mudah ditemui di pinggir jalan, terminal bus, pasar tradisional, bahkan di lapak kecil yang hanya bermodalkan meja kayu dan tenda terpal.

Dengan deretan rak sederhana, mereka menawarkan berbagai pilihan: mulai dari dangdut koplo yang sedang naik daun, lagu cinta pop Barat, musik rock klasik, hingga kompilasi lagu-lagu daerah.

Keberadaan penjual kaset bajakan kala itu bukan sekadar soal transaksi musik murah. Mereka adalah gatekeeper tak resmi bagi jutaan orang yang ingin mengikuti tren musik tanpa harus mengeluarkan biaya besar.

Dalam banyak kasus, mereka bahkan menjadi “kurator” selera musik lokal: memilihkan lagu-lagu yang dianggap bakal laku, lalu menyalinnya dalam bentuk kaset siap edar.

Namun, layaknya pita magnetik dalam kaset yang perlahan terhapus, jejak para penjual ini kini kian memudar. Pergeseran teknologi, perubahan kebiasaan mendengarkan musik, hingga penegakan hukum membuat sosok mereka nyaris tak terlihat lagi di ruang publik Indonesia.

Era Keemasan Kaset Bajakan

Masa keemasan kaset bajakan di Indonesia berlangsung kira-kira antara akhir 1980-an hingga awal 2000-an. Di masa itu, musik adalah hiburan utama yang dinikmati secara kolektif.

Radio memang ada, tapi tidak semua orang bisa mendengar lagu favoritnya kapan saja. Kaset menjadi solusi praktis mudah dibawa, bisa diputar berulang kali, dan harganya relatif terjangkau, apalagi jika bukan versi resmi.

Penjual kaset bajakan biasanya membuka lapak di lokasi yang ramai: pasar malam, pusat perbelanjaan sederhana, pinggir jalan protokol, hingga dekat terminal bus dan stasiun kereta.

Rak-rak kayu atau plastik dipenuhi deretan kaset dengan cover yang sering kali hasil fotokopi warna seadanya. Judul lagu kadang salah eja, urutan track pun bisa berbeda dari versi asli. Justru ketidaksempurnaan itu yang membuatnya khas dan dikenang.

Jenis musik yang dijual sangat beragam. Ada album dangdut Rhoma Irama, kompilasi lagu cinta Nike Ardilla, greatest hits Michael Jackson, hingga soundtrack film Bollywood.

Tak jarang, penjual menggabungkan lagu-lagu dari beberapa artis dalam satu kaset kompilasi dan menyesuaikannya dengan tren pasar. Harga yang murah—kadang seperlima dari harga kaset resmi—membuat penjualannya laris, terutama di daerah yang jauh dari pusat distribusi musik legal.

Di masa itu, penjual kaset bajakan menjadi semacam “pintu gerbang” budaya pop. Mereka mempercepat penyebaran tren musik global ke sudut-sudut Indonesia, bahkan sebelum radio atau televisi sempat menayangkannya secara luas.

Faktor yang Membuat Mereka Menghilang

Memasuki pertengahan 2000-an, angin perubahan mulai menggeser keberadaan penjual kaset bajakan. Salah satu faktor terbesar adalah revolusi teknologi.

Masyarakat beralih dari kaset ke CD, lalu dengan cepat menuju format digital seperti MP3. Pemutar musik di ponsel, flashdisk, hingga komputer membuat kaset terasa ketinggalan zaman.

Perubahan ini diperkuat dengan munculnya layanan berbagi file di internet seperti 4shared, LimeWire, dan kemudian YouTube.

Lagu-lagu yang dulunya harus dibeli di lapak pinggir jalan kini bisa diunduh gratis dari rumah. Kebiasaan ini mengubah pola konsumsi musik secara drastis. Konsumen tak lagi mencari kaset fisik, apalagi yang bajakan.

Penegakan hukum juga berperan. Pemerintah mulai gencar melakukan razia terhadap pembajakan, terutama setelah diperkuatnya Undang-Undang Hak Cipta.

Razia di pasar-pasar besar membuat banyak penjual memilih gulung tikar atau beralih ke barang dagangan lain.

Selain itu, generasi muda yang tumbuh di era digital lebih memilih mendengarkan musik melalui layanan streaming legal seperti Spotify, Joox, atau Apple Music. Dengan biaya langganan yang terjangkau dan koleksi lagu yang nyaris tak terbatas, alasan untuk membeli kaset apalagi bajakan menjadi semakin kecil.

Akhirnya, kombinasi antara perubahan teknologi, penegakan hukum, dan pergeseran budaya mendengarkan musik membuat penjual kaset bajakan satu per satu menghilang dari lanskap kota Indonesia.

Perubahan Lanskap Musik Indonesia

Hilangnya penjual kaset bajakan bukan hanya soal raibnya sebuah profesi, tetapi juga menandai pergeseran besar dalam cara musik diproduksi, didistribusikan, dan dinikmati di Indonesia.

Dulu, musisi bergantung pada label besar untuk merilis album fisik, lengkap dengan distribusi ke toko musik atau lapak-lapak di pasar. Kini, musisi bisa merilis karya sendiri hanya dengan koneksi internet dan akun di platform digital.

Platform streaming seperti Spotify, YouTube, dan Apple Music menjadi panggung utama musik Indonesia. Bahkan, musisi indie pun bisa menjangkau pendengar di seluruh dunia tanpa harus mencetak kaset atau CD. Hal ini membuka peluang baru, tetapi juga memaksa adaptasi: persaingan semakin ketat dan algoritma menjadi “penentu” siapa yang akan didengar banyak orang.

Perubahan ini juga mengubah perilaku pendengar. Musik tak lagi dimiliki dalam bentuk fisik, melainkan diakses kapan saja dan di mana saja. Koleksi lagu yang dulu memenuhi rak kamar kini tergantikan oleh daftar putar (playlist) digital yang tak terbatas.

Di sisi lain, para kolektor dan penggemar vintage mulai melihat kaset sebagai barang nostalgia. Bukan lagi sarana utama menikmati musik, tetapi artefak budaya yang merekam jejak selera dan teknologi masa lalu.

Nostalgia dan Warisan Budaya Pop

Bagi generasi yang tumbuh di era kaset, penjual kaset bajakan adalah bagian dari kenangan masa muda.

Ada sensasi tersendiri saat memilih kaset di lapak membalik-balik deretan plastik bening, membaca daftar lagu yang terkadang salah ketik, atau menemukan kompilasi unik yang tak tersedia di toko resmi. Bahkan bau khas pita kaset dan plastik pembungkusnya pun bisa memicu nostalgia.

Kaset bajakan juga punya ciri khas visual yang sulit dilupakan: sampul hasil fotokopi warna yang kadang buram, huruf judul yang miring, atau gambar artis yang tidak proporsional. Justru “ketidaksempurnaan” itu yang membuatnya memiliki karakter dan menjadi bagian dari identitas budaya pop Indonesia di masanya.

Kini, kaset termasuk bajakan telah bergeser menjadi barang koleksi. Komunitas pecinta kaset di berbagai kota mengadakan pameran, berburu rilisan langka, atau sekadar berbagi cerita tentang lagu-lagu yang menemani masa remaja.

Di tangan para kolektor, kaset tak lagi dipandang sebagai produk ilegal, melainkan artefak budaya yang merekam sejarah distribusi musik di negeri ini.

Kaset bajakan mungkin lahir dari industri bayangan, tetapi warisannya nyata. Ia menyimpan cerita tentang kreativitas, keterbatasan teknologi, dan gairah masyarakat Indonesia terhadap musik, di masa sebelum internet mengubah segalanya.

Menghilangnya penjual kaset bajakan di Indonesia adalah bagian dari dinamika besar perkembangan teknologi dan budaya. Dari sudut pandang hukum, hilangnya mereka berarti satu langkah maju dalam perlindungan hak cipta.

Namun dari sisi budaya pop, ini juga berarti lenyapnya sebuah “ruang temu” informal antara musik dan pendengarnya.

Di era mereka, musik bisa menjangkau desa-desa terpencil, memecah kesunyian terminal, atau menghidupkan suasana pasar. Penjual kaset bajakan menjadi penghubung yang, meski ilegal, punya kontribusi dalam membentuk memori kolektif musik Indonesia.

Kini, musik hadir hanya sejauh ketukan jari di layar ponsel. Praktis, cepat, dan legal. Tetapi bagi sebagian orang, kemudahan itu tak bisa sepenuhnya menggantikan pengalaman memilih kaset di lapak pinggir jalan, mendengar bunyi “klik” saat memutar pita, atau menikmati kejutan ketika lagu yang diputar tak sesuai daftar di sampul.

Kaset bajakan telah menjadi bagian dari sejarah musik Indonesia, sebuah bab yang mungkin kontroversial, tetapi tak bisa dihapus dari ingatan mereka yang pernah merasakannya.

Yogi Pranditia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top