
JAKARTA – Lintas Resonan menutup rangkaian etape empat kotanya di Pos Bloc Jakarta pada 22 Januari 2026. Penutupan ini tidak dimaknai sebagai garis akhir, melainkan sebagai simpul, titik temu dari seluruh gagasan, percakapan, dan resonansi yang telah dibangun sejak Semarang, Bandung, hingga Tangerang. Jakarta menjadi ruang refleksi, tempat perjalanan ini dibaca ulang sebagai proses kolektif yang terus bergerak.
Sejak dimulai di Semarang, Lintas Resonan telah memposisikan diri bukan sebagai tur musik konvensional, melainkan sebagai ruang lintas disiplin yang membuka dialog antara musik, kota, dan komunitas. Di Semarang, proyek ini menegaskan pentingnya lokalitas dan keberanian untuk memulai dari pinggir. Di Bandung, Lintas Resonan menemukan denyut eksperimentasi dan pertemuan lintas generasi. Di Tangerang, ia hidup di ruang kota yang cair, bergerak cepat, dan mempertemukan beragam arus kreatif.
Baca Selengkapnya: Lintas Resonan Memulai Perjalanan dari Semarang, Menggerakan Kolektif Meretas Batas Suara
Jakarta hadir sebagai penanda akhir etape bukan karena posisinya sebagai pusat, tetapi karena kompleksitasnya sebagai titik temu. Di kota ini, berbagai lapisan industri, komunitas, dan wacana budaya saling bertabrakan sekaligus bernegosiasi. Lintas Resonan memilih Jakarta sebagai tempat untuk menarik benang dari seluruh perjalanan tersebut.
“Menutup etape empat kota di Jakarta bukan berarti menutup perjalanan. Justru di sini kami menarik benang dari semua kota yang telah disinggahi, melihat apa yang beresonansi dan apa yang bisa diteruskan. Lintas Resonan kami posisikan sebagai proses yang terus belajar, bukan format yang berhenti di satu bentuk,” kata Iksal Harizal, perwakilan People of The Right Project yang menginisiasi Lintas Resonan tahun ini, sebagaimana keterangan pers, Senin (19/1/2026).
Di panggung Jakarta, entitas kolaboratif Portura kembali tampil sebagai representasi dari semangat “Meretas Batas”. Unit ini mempertemukan Iga Massardi, John Paul Patton (Coki), Fathia Izzati, Bilal Indrajaya, dan Enrico Octaviano.
“Kami datang ke tiap kota bukan untuk mengajarkan atau memberi contoh. Justru kami ingin mendengar energi kotanya seperti apa, talenta lokalnya bergerak ke mana, dan percakapannya berkembang ke arah mana. Dari situ musik dan kolaborasi bisa tumbuh dengan sendirinya,” ujar Iga Massardi.
Di titik akhir etape ini, Portura entitas musik yang berisi Iga Massardi, John Paul Patton (Coki), Fathia Izzati, Bilal Indrajaya, dan Enrico Octaviano akan memberikan pengalaman meretas batas musik lebih liar lagi dengan melibatkan Baskara Putra (Hindia, .Feast, Lomba Sihir). Kehadiran Baskara tentu akan membuat kita semua menunggu kejutan aransemen apa yang akan mereka suguhkan kali ini. Tak hanya Portura, band indie-pop asal Jakarta, The Cottons, turut tampil di etape akhir Lintas Resonan ini sebagai representasi skena lokal.
Seperti di kota-kota sebelumnya, Lintas Resonan Jakarta turut menghadirkan sesi live podcast sebagai ruang dialog terbuka. Di sini, musisi dan pelaku kreatif berbagi perspektif tentang praktik kolaborasi, dinamika industri, serta tantangan menjaga keberlanjutan tanpa kehilangan integritas artistik. Percakapan ini menegaskan bahwa Lintas Resonan tidak berhenti pada panggung, tetapi hidup dalam pertukaran gagasan.
Seniman visual Arswandaru turut menutup rangkaian visual Lintas Resonan dengan lanskap yang merespons Jakarta sebagai kota yang menjadi titik lebur dari ragam muara kesenian dan industri.
Sebagai penutup etape empat kota, Lintas Resonan Jakarta tidak menawarkan kesimpulan final, melainkan sebuah kesinambungan sebagai gerakan kolektif.
Tiket dijual seharga Rp100 ribu dan dapat dibeli melalui situs lintasresonan.com. Tersedia juga paket eksklusif terbatas tiket dan merchandise resmi Lintas Resonan.
Rasinesia

