Makna Baru Nongkrong: Coffee Shop sebagai Ruang Sosial Anak Muda

Ilistrasi aktivitas yang dilakukan di coffe shop. Foto: Pexels/Viktoria Alipatova

 

JAKARTA – Nongkrong sudah lama jadi bagian dari kehidupan sosial orang Indonesia. Dari warung kopi pinggir jalan, pos ronda, sampai angkringan, nongkrong selalu punya tempatnya sendiri dalam budaya sehari-hari.

Tapi beberapa tahun terakhir, makna nongkrong mulai bergeser. Coffee shop menjamur di berbagai kota, dari pusat urban sampai ke daerah kecil. Ruang yang dulunya identik dengan minum kopi sederhana, kini berubah jadi arena gaya hidup.

Ngopi Bukan Sekadar Minum Kopi

Seperti dicatat dalam sebuah penelitian di Jurnal Santhet pada tahun 2022, coffee shop tidak lagi hanya sekadar tempat menjual minuman, melainkan ruang yang membentuk gaya hidup anak muda dan menjadi simbol identitas sosial baru.

Di coffee shop, kopi hanyalah pintu masuk. Yang dicari bukan lagi sekadar rasa pahit atau aroma biji, melainkan suasana, kenyamanan, hingga citra diri.

Nongkrong di coffee shop sering kali jadi perpanjangan dari identitas anak muda, sebuah cara menunjukkan diri bahwa mereka bagian dari gaya hidup modern, produktif, dan tentu saja “kekinian”.

Dari Warung Kopi ke Coffee Shop

Budaya ngopi sebenarnya bukan hal baru. Di berbagai daerah, warung kopi selalu punya fungsi sosial yang penting. Orang datang bukan semata untuk minum kopi, tapi untuk ngobrol, tukar kabar, atau sekadar mengisi waktu. Warung kopi tradisional adalah ruang rakyat, tempat semua orang bisa berkumpul tanpa sekat.

Namun, sejak era 2000-an, muncul gelombang baru: kafe modern. Awalnya hanya ada di kota besar, kafe-kafe ini menawarkan suasana berbeda: lebih privat, lebih nyaman, dan tentu saja lebih mahal. Dari sinilah istilah “nongkrong di kafe” mulai jadi bagian gaya hidup kalangan menengah ke atas.

Gelombang berikutnya muncul setelah 2010. Coffee shop kekinian tumbuh di mana-mana. Bukan hanya di Jakarta atau Bandung, tapi juga di kota-kota kecil. Konsepnya mengusung estetika minimalis, manual brew, latte art, dan tentu saja WiFi gratis. Coffee shop menjadi ruang ketiga (third place) setelah rumah dan tempat kerja/kampus.

Tren ini tidak hanya terjadi di kota besar seperti Jakarta atau Bandung, tetapi juga menjalar ke kota-kota kecil, di mana coffee shop perlahan menjadi simbol kemodernan sekaligus gaya hidup kekinian.

Nongkrong Sebagai Pengalaman Sosial

Di era coffee shop, nongkrong bukan lagi sekadar aktivitas mengisi waktu. Nongkrong berubah menjadi pengalaman sosial yang kompleks. Interior yang estetik, playlist musik yang dipilih dengan hati-hati, aroma kopi yang menggoda, semuanya dirancang untuk menciptakan suasana tertentu.

Bagi banyak anak muda, nongkrong di coffee shop sama artinya dengan memperluas ruang pergaulan. Coffee shop jadi tempat untuk belajar kelompok, bekerja freelance, rapat komunitas, sampai sekadar berbincang ringan. Kopi mungkin tetap dipesan, tapi sering kali yang lebih penting adalah ruang sosial yang tercipta.

Kehadiran media sosial memperkuat pergeseran ini. Foto di coffee shop bisa jadi “bukti” bahwa seseorang produktif, gaul, atau setidaknya sedang menikmati hidup. Nongkrong bukan hanya aktivitas nyata, tapi juga aktivitas simbolik yang diabadikan di Instagram story atau TikTok.

Pergeseran ini erat kaitannya dengan kapitalisasi budaya ngopi, di mana setiap cangkir kopi yang difoto dan diunggah ke media sosial adalah bentuk performa identitas dan status sosial.

Identitas Baru Anak Muda

Perubahan makna nongkrong di coffee shop erat kaitannya dengan pembentukan identitas anak muda. Di sini, kopi bukan sekadar minuman, tapi simbol. Jenis kopi yang dipesan, cara penyajian, bahkan pilihan tempat duduk bisa jadi representasi diri.

Misalnya, anak muda yang memilih single origin manual brew bisa dianggap lebih serius soal kopi, sementara yang memesan frappuccino manis bisa diasosiasikan dengan pencari kenyamanan.

Pilihan ini tampak sederhana, tapi di baliknya ada makna sosial: bagaimana seseorang ingin dilihat oleh lingkungannya.

Coffee shop juga memberi ruang bagi anak muda untuk membangun citra diri sebagai generasi kreatif dan produktif. Banyak yang sengaja membawa laptop, membuka dokumen, atau menulis skripsi di coffee shop. Bukan hanya karena lebih fokus, tapi juga karena coffee shop menjadi “panggung kecil” untuk menampilkan diri sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Coffee Shop dan Ekonomi Kreatif

Menariknya, coffee shop bukan hanya ruang sosial, tapi juga bagian dari ekosistem ekonomi kreatif. Anak muda tidak hanya nongkrong, tapi juga berbisnis, bekerja, bahkan berkarya di sana. Banyak ide startup lahir di meja coffee shop, banyak komunitas musik atau literasi berkembang di ruang-ruang kecil ini

Bagi pemilik bisnis, coffee shop adalah peluang emas. Tidak heran usaha ini menjamur cepat. Konsepnya pun beragam: ada yang fokus pada specialty coffee, ada yang menjual kopi susu literan dengan harga terjangkau, ada pula yang menggabungkan kopi dengan ruang seni atau toko buku.

Fenomena ini juga membuka jalan bagi tumbuhnya UMKM kopi lokal. Petani kopi dari berbagai daerah mendapat ruang baru untuk dikenal, karena banyak coffee shop mengusung konsep farm to cup. Dari sini, nongkrong di coffee shop bukan hanya soal gaya hidup, tapi juga mendukung rantai ekonomi lokal.

Antara Ruang Inklusif dan Elitis

Meski terlihat positif, fenomena coffee shop juga tidak lepas dari kritik. Tidak semua orang merasa nyaman di coffee shop. Harga kopi yang relatif mahal bisa menciptakan jarak sosial. Nongkrong di coffee shop kadang dianggap “elit” atau hanya untuk kalangan tertentu.

Di sisi lain, coffee shop juga bisa menimbulkan gaya hidup konsumtif. Ada tekanan sosial terselubung untuk ikut nongkrong di tempat keren, membeli kopi mahal, atau setidaknya terlihat seperti bagian dari tren. Nongkrong yang dulunya sederhana kini bisa menjadi ajang pembuktian sosial.

Namun, tidak bisa dipungkiri coffee shop juga membuka ruang inklusif bagi banyak komunitas. Di satu sisi elit, di sisi lain bisa jadi tempat anak muda berkumpul tanpa harus memikirkan formalitas. Kontradiksi inilah yang membuat coffee shop menarik untuk dibahas.

Lebih dari Sekadar Kopi

Nongkrong di coffee shop bukan sekadar minum kopi. Ia adalah fenomena budaya, ruang sosial, sekaligus panggung identitas. Dari warung kopi sederhana ke coffee shop estetik, perjalanan nongkrong menunjukkan bagaimana anak muda Indonesia terus mencari ruang untuk mengekspresikan diri.

Coffee shop menjadi simbol perubahan zaman: dari tempat santai menjadi gaya hidup, dari kopi pahit menjadi cita rasa identitas. Nongkrong kini bukan hanya soal menghabiskan waktu, tapi juga tentang bagaimana kita memaknai kebersamaan, produktivitas, dan diri sendiri di tengah arus modernitas.

Kembali ke Warkop Sederhana

Fenomena menarik beberapa tahun terakhir adalah munculnya tren kembali nongkrong di warkop sederhana. Setelah bertahun-tahun coffee shop estetik mendominasi, sebagian anak muda mulai mencari suasana yang lebih apa adanya. Warkop menawarkan sesuatu yang tidak selalu ada di kafe modern: keterbukaan, kehangatan, dan harga yang ramah di kantong.

Di warkop, orang bisa berlama-lama hanya dengan segelas kopi hitam murah atau teh manis. Tidak ada tekanan untuk terlihat produktif, tidak ada tuntutan gaya hidup tertentu. Obrolan mengalir lebih cair, mulai dari gosip ringan, bola, hingga isu politik. Warkop menjadi ruang sosial yang inklusif, di mana kelas sosial bercampur tanpa batasan.

Tren ini juga menunjukkan semacam kejenuhan terhadap lifestyle serba estetik. Nongkrong di warkop bisa dianggap sebagai bentuk perlawanan kecil terhadap konsumtivisme coffee shop modern. Ada kebanggaan tersendiri saat bisa bilang, “Ngopi di warkop aja cukup.”

Dengan begitu, nongkrong tidak lagi soal tempat yang mewah atau kopi yang rumit, tapi tentang kebersamaan yang tulus dan sederhana.

Antara Coffee Shop dan Warkop: Dua Dunia yang Berjalan Bersama

Menariknya, kembalinya tren nongkrong di warkop tidak serta-merta menghapus eksistensi coffee shop. Keduanya justru berjalan beriringan, melayani kebutuhan yang berbeda.

Anak muda bisa nongkrong di coffee shop saat ingin suasana estetik, mengerjakan tugas, atau sekadar update media sosial. Namun di waktu lain, mereka memilih warkop untuk ngobrol lepas, menghemat uang, atau mencari keakraban tanpa formalitas.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa nongkrong di Indonesia punya banyak wajah. Ia fleksibel dan cair, bisa mengikuti suasana hati maupun kondisi kantong. Coffee shop melambangkan gaya hidup modern dan aspirasi urban, sementara warkop mengingatkan pada akar budaya nongkrong yang sederhana, egaliter, dan penuh kehangatan.

Daniel Kahneman (2011) dalam bukunya Thinking, Fast and Slow menjelaskan bahwa manusia sering merindukan pengalaman yang lebih “nyata” dan sederhana ketika terlalu lama hidup dalam pilihan yang terkesan artifisial atau penuh rekayasa sosial. Fenomena kembali ke warkop bisa dipahami sebagai bentuk pencarian otentisitas dalam interaksi sosial.

Pada akhirnya, baik coffee shop maupun warkop sama-sama menjadi ruang sosial penting. Keduanya menunjukkan bahwa nongkrong bukan sekadar aktivitas membuang waktu, tetapi sarana membangun relasi, memperkuat identitas, dan memahami diri di tengah perubahan zaman.

Yogi Pranditia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top