Menelisik Sisi Gelap Legenda Natal yang Terlupakan

Krampus, versi jahat Santa Claus dari Eropa. Foto: Smithsonian Magazine

JAKARTA Bayangkan malam Natal. Di luar salju turun dengan lebat, api unggun menyala hangat di perapian, dan anak-anak tidur dengan gelisah menanti hadiah. Namun, bagaimana jika suara gemerincing yang terdengar di atap bukan berasal dari lonceng kereta rusa yang ceria? Bagaimana jika suara itu adalah bunyi rantai besi yang diseret oleh sesosok makhluk bertanduk yang lapar?

Kita terbiasa dengan narasi Natal modern yang serba “steril” dan manis lewat seorang kakek gemuk berjanggut putih yang membagikan hadiah bernama Santa Claus (atau disebut juga Santo Nicholas).

Di era modern, citra Natal didominasi oleh figur Santa Claus yang ramah. Sebuah citra yang menurut sejarawan budaya, dipopulerkan secara masif oleh ilustrator Haddon Sundblom untuk iklan Coca-Cola pada tahun 1931. Namun, jika kita menelusuri literatur cerita rakyat (folklore) Eropa pra-industri, narasi Natal tidaklah sesederhana “kakek baik hati memberi hadiah”.

Jika kita memutar waktu kembali ke Eropa beberapa abad silam, Natal bukanlah sekadar tentang permen dan kebahagiaan. Malam Natal adalah malam yang penuh kewaspadaan. Natal atau perayaan Winter Solstice pada akarnya adalah masa transisi yang penuh ketidakpastian. Berbagai literatur dan riset menunjukkan bahwa masyarakat kuno membutuhkan figur-figur “penghukum” untuk menjaga ketertiban sosial di tengah musim dingin yang keras.

Krampus, simbol dualisme moral dan monster di balik kemeriahan

Dalam tradisi kuno, keseimbangan adalah segalanya. Jika Santa Claus mewakili hadiah bagi mereka yang baik, maka harus ada sosok yang mewakili hukuman bagi mereka yang buruk.

Mari berkenalan dengan Krampus. Berasal dari cerita rakyat Alpen (Austria dan Bavaria), Krampus adalah perwujudan “anti-Santa”. Ia digambarkan sebagai iblis berbulu lebat, memiliki tanduk kambing yang panjang, dan lidah menjulur. Jika Santa membawa hadiah, Krampus membawa cambuk dari ranting pohon birch.

Peneliti Al Ridenour dalam bukunya yang berjudul The Krampus and the Old, Dark Christmas (2016) menjelaskan, bahwa Krampus bukanlah sekadar “iblis Natal”, melainkan bagian tak terpisahkan dari tradisi Katolik di wilayah Alpen.

Krampus dan Santo Nicholas beroperasi sebagai pasangan dualistik: Santo Nicholas memberikan reward (hadiah), sementara Krampus memberikan punishment (hukuman).

Pada malam 5 Desember yang dikenal sebagai Krampusnacht, pemuda di Austria dan Bavaria akan mengenakan topeng kayu berukir dan kulit binatang. Fenomena ini bukan sekadar pesta kostum. Menurut artikel di National Geographic berjudul Who is Krampus? St. Nick’s Devilish Companion, ritual ini berfungsi sebagai katarsis sosial dan pengingat moral bagi anak-anak agar berperilaku baik.

Krampus merepresentasikan ketakutan purba yang diperlukan untuk menyeimbangkan kebaikan yang berlebihan. Krampus tidak hanya memukul anak-anak nakal. Dalam legenda yang lebih gelap, ia akan memasukkan mereka ke dalam karung goni, membawanya ke sarangnya, dan menurut beberapa versi cerita, memakannya. Krampus adalah manifestasi ketakutan anak-anak Eropa Tengah selama berabad-abad agar tetap patuh pada orang tua.

Frau Perchta sang penegak disiplin

Jangan tertipu dengan namanya yang terdengar seperti tetangga yang ramah. Jika Krampus menghukum perilaku buruk secara umum, Frau Perchta adalah penegak disiplin kerja yang spesifik.

Perchta adalah penyihir yang berkeliaran selama 12 hari masa Natal. Ia akan memeriksa apakah anak-anak dan pelayan sudah menyelesaikan pekerjaan memintal wol mereka. Jika sudah, mereka mendapat koin perak. Jika belum? Perchta akan membelah perut mereka, mengeluarkan organ dalamnya, dan menggantinya dengan jerami serta kerikil. Sebuah hukuman yang sangat spesifik dan mengerikan untuk kemalasan.

Legenda ini didokumentasikan dengan sangat baik oleh Jacob Grimm (dari Grimm Bersaudara) dalam karya monumentalnya, Deutsche Mythologie (Teutonic Mythology) tahun 1835. Grimm mencatat bahwa Perchta (atau Berchta) adalah dewi pagan yang diadopsi ke dalam tradisi Natal Jermanik. Ia mengawasi pemintalan wol selama “Dua Belas Hari Natal”.

Hukuman legendarisnya membelah perut pemalas dan mengisinya dengan jerami dapat dianalisis sebagai manifestasi ekstrem dari etos kerja masyarakat agraris. Di musim dingin, kemalasan dalam memintal benang atau membersihkan rumah bisa berakibat fatal bagi kelangsungan hidup keluarga, sehingga diperlukan “ancaman supernatural” untuk memaksakan produktivitas.

Jólakötturinn (The Yule Cat) si monster ekonomi

Bergeser ke utara, di Islandia, teror datang dalam bentuk Jólakötturinn atau The Yule Cat. Ini bukan kucing lucu yang bisa Anda elus. Ini adalah kucing raksasa setinggi rumah yang berkeliaran di malam Natal. Targetnya? Siapapun yang tidak mengenakan pakaian baru.

Baca Selengkapnya: Mundur ke Masa Lalu dengan Reenactment Natal Kolonial di Museum Tate House, Portland

Berdasarkan arsip dari National Museum of Iceland, monster ini memangsa mereka yang tidak memiliki baju baru saat malam Natal. Legenda ini terdengar konsumtif di telinga modern, namun pada masa itu, “pakaian baru” adalah simbol bahwa seseorang telah bekerja keras memproses wol domba sebelum musim dingin tiba. Jika Anda malas dan tidak punya baju baru, Anda adalah santapan Yule Cat.

Smithsonian Magazine dalam artikelnya Why Iceland’s Christmas Cat Eats People memberikan konteks sejarah yang krusial. Pada abad ke-18 dan 19, wol adalah komoditas ekspor utama Islandia. Yule Cat adalah mitos yang diciptakan oleh para tuan tanah dan peternak untuk memotivasi buruh agar memproses wol secepat mungkin sebelum Natal tiba.

“Baju baru” adalah upah bagi mereka yang rajin. Jadi, legenda ini sebenarnya adalah alat kontrol ekonomi yang dibungkus dalam narasi horor.

Mengapa butuh rasa takut di hari Natal?

Pertanyaan besarnya adalah mengapa orang zaman dulu merusak momen bahagia Natal dengan cerita horor seperti ini? Legenda-legenda ini berfungsi sebagai alat kontrol sosial yang krusial. Musim dingin di Eropa masa lampau adalah periode yang mematikan. Malam sangat panjang, makanan langka, dan hawa dingin bisa membunuh siapa saja yang tidak siap.

Komunitas membutuhkan ketertiban mutlak untuk bertahan hidup. Anak-anak tidak boleh berkeliaran keluar rumah (bahaya hipotermia atau serigala), dan setiap anggota keluarga harus bekerja keras memintal wol hingga mengawetkan makanan.

Kisah perut yang dibelah Frau Perchta atau dimakan Yule Cat bukanlah sekadar dongeng sebelum tidur, itu adalah peringatan keras tentang konsekuensi dari kemalasan dan ketidakpatuhan di masa sulit.

Profesor Psikologi David Rudd dari University of Memphis, dalam opininya mengenai fenomena ketakutan pada anak, menjelaskan bahwa dalam masyarakat tradisional, “rasa takut” adalah metode pengasuhan yang pragmatis dan efektif untuk memastikan kepatuhan instan demi keselamatan anak itu sendiri.

Dalam konteks musim dingin kuno yang gelap dan berbahaya, kepatuhan anak untuk tetap di dalam rumah dan bekerja adalah masalah hidup dan mati. Figur seperti Krampus adalah manifestasi eksternal dari otoritas orang tua yang absolut.

Apakah benar Natal terlalu “steril” dan bagaimana dampak lingkungan dari perayaannya?

Melihat kembali legenda-legenda ini, kita mungkin merasa ngeri. Namun, ada sesuatu yang hilang dari perayaan Natal modern. Hari ini, Natal seringkali terasa seperti kewajiban konsumerisme. Data dari Stanford University dalam Waste Reduction, Recycling, Composting and Solid Waste, memperkirakan bahwa orang Amerika saja membuang 25% lebih banyak sampah selama periode Natal dibandingkan waktu lain dalam setahun.

Hari ini, kita mungkin sudah meninggalkan Krampus, namun kita menciptakan “monster” baru: limbah. Sebuah studi yang dikutip dari Stanford University mengungkapkan fakta mengejutkan: volume sampah di Amerika Serikat meningkat sebesar 25% antara Thanksgiving dan Tahun Baru. Ini setara dengan tambahan 1 juta ton sampah per minggu.

Sebagian besar sampah ini berasal dari kertas kado sekali pakai (yang seringkali mengandung lapisan plastik/glitter sehingga tidak bisa didaur ulang), pita, dan kemasan belanja. Jika Frau Perchta menghukum pemalas, mungkin “monster” modern akan menghukum kita karena ketidakpedulian terhadap lingkungan.

Kita sibuk membeli barang, membungkus kado, dan memaksakan senyum di foto keluarga. Segalanya harus terlihat sempurna, terang, dan bahagia. Kita telah mensterilkan Natal dari unsur mistis dan kegelapannya.

Padahal, esensi dari perayaan titik balik matahari musim dingin (Winter Solstice)—akar dari perayaan Natal—adalah tentang menemukan cahaya di tengah kegelapan yang paling pekat. Tanpa mengakui adanya kegelapan (Krampus), cahaya (Santa) menjadi kurang bermakna.

Mungkin kita tidak perlu menakut-nakuti anak-anak dengan ancaman dibelah perutnya tahun ini atau tahun-tahun berikutnya. Tapi, mengingat kembali kisah-kisah folklore ini menawarkan perspektif yang menyegarkan, bahwa hidup tidak selamanya tentang hadiah manis.

Kadang, ada konsekuensi, ada ketakutan, dan ada musim dingin yang keras yang harus dihadapi dan justru itulah yang membuat kehangatan berkumpul bersama keluarga menjadi begitu berharga.

Jadi, tahun ini, saat Anda mendengar suara di atap rumah, berdoalah itu hanya kakek tua dengan rusa kutubnya. Bukan si monster bertanduk yang datang menagih janji karena Anda kurang berbuat baik tahun ini.

Rasinesia

1 komentar untuk “Menelisik Sisi Gelap Legenda Natal yang Terlupakan”

  1. Pingback: Kemegahan Kristal di Kota Es, Mengulik Sejarah dan Transformasi Festival Es Harbin – Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top