
JAKARTA – Narsisme sehari-hari sering disalahpahami sebagai sekadar tingkah “sombong” atau suka pamer. Namun gangguan kepribadian narsistik (Narcissistic Personality Disorder atau NPD) adalah kondisi psikologis yang bertahan lama dan mengganggu fungsi sosial serta pekerjaan.
Dilansir dari halodoc, gejalanya melibatkan pola grandiositas, kebutuhan pujian yang berlebihan, dan kesulitan empati. Tetapi, banyak manifestasinya halus sehingga sulit dikenali, bahkan oleh orang yang bersangkutan.
Berikut lima tanda NPD yang kerap terlewatkan dengan diperkuat temuan klinis.
1. Merasa “layak istimewa”
Orang dengan NPD percaya mereka pantas mendapat perlakuan khusus: kesempatan, pujian, atau status. Di permukaan hal ini terlihat percaya diri. Di baliknya sering ada kebutuhan terus-menerus untuk divalidasi.
Ketika pengakuan itu tidak datang, reaksi si NPD bisa beragam, mulai dari marah, merendahkan orang lain, hingga merasa kehilangan kendali diri. Penelitian klinis menegaskan bahwa grandiositas yang tampak seringkali disertai kerentanan emosional yang besar.
2. Sulit menerima kritik
NPD bukan hanya soal rasa percaya diri berlebih. Banyak penderitanya sangat defensif terhadap penilaian negatif.
Kritik kecil bisa dipersepsi sebagai ancaman terhadap citra diri, sehingga mereka membalas dengan kemarahan, pembelaan ekstrem, atau balik menuduh.
Studi kasus dan ulasan klinis menunjukkan pola ini menghambat hubungan terapeutik dan menyebabkan banyak pasien nir-konsisten datang ke terapi kecuali punya gangguan komorbid lain.
3. Memperlakukan relasi sebagai sumber manfaat
Dalam hubungan interpersonal, tanda halus NPD adalah kecenderungan melihat orang lain sebagai alat untuk mendapatkan status, dukungan, atau kekaguman. Pujian yang tulus pun bisa jadi dihitung sebagai “investasi” jika orang tersebut berguna.
Ketika manfaatnya habis, hubungan bisa cepat dingin atau diputus tanpa empati. Ulasan epidemiologi menemukan bahwa keluhan interpersonal adalah alasan umum munculnya konflik keluarga dan gangguan fungsi sosial pada pasien NPD.
4. Kekurangan empati nyaris tak terlihat
Kurang empati bukan selalu berupa ketidakpedulian secara terang-terangan. Perilaku ini sering hadir sebagai kegagalan menanggapi emosi halus orang lain, kesulitan membaca kebutuhan pasangan, atau minimnya tanggung jawab emosional ketika orang lain terluka.
Riset neurobiologi dan studi pencitraan otak menunjukkan variasi jaringan empatik pada beberapa pasien NPD, mendukung temuan klinis bahwa empati mereka seringkali terganggu atau selektif.
5. Fantasi tentang kekuasaan, sukses, atau kekaguman
Banyak penderita menghabiskan energi mental merancang masa depan di mana mereka dikagumi, berkuasa, atau sangat sukses. Fantasi ini memperkuat perilaku pencarian pengakuan tetapi juga bisa menjauhkan mereka dari realitas hubungan sehat.
Ulasan literatur modern menyatakan adanya dua “wajah” narsisme: grandiose (terbuka) dan vulnerable (lebih sensitif dan tertekan). Keduanya menyulitkan fungsi sosial dengan cara berbeda.
Baca Selengkapnya: Waspada! Kenali Risiko Kesehatan Rimming Saat Berhubungan Dengan Pasangan
Penelitian epidemiologis menunjukkan angka yang bervariasi. Studi nasional AS (NESARC, 2008) melaporkan prevalensi lifetime sekitar 6,2% dan ulasan-ulasan lain menemukan median sekitar 1–2% tergantung metode studi dan definisi diagnostik.
Artinya, NPD bukan sangat jarang dan sering ditemukan bersamaan dengan gangguan mood, kecanduan, atau gangguan kepribadian lain.
Penyebab dan mekanisme
Tidak ada satu penyebab tunggal. Model saat ini melihat interaksi faktor genetik, perkembangan (pengalaman masa kecil seperti pengabaian, trauma, atau sebaliknya overprotection/overvaluation), serta dinamika keluarga.
Beberapa studi neurobiologis menunjukkan perbedaan struktur otak dan aturan pemrosesan emosi pada sebagian pasien, tetapi bukti tersebut masih berkembang.
Tidak ada obat khusus untuk “menyembuhkan” NPD. Psikoterapi adalah pendekatan utama yang dapat digunakan. Terapi yang mendapat dukungan bukti termasuk pendekatan psikodinamik seperti transference-focused therapy, terapi skema, dan teknik kognitif-perilaku yang disesuaikan untuk rasa harga-diri dan empati.
Namun, pasien NPD sering jarang mencari bantuan khusus untuk narsisme nya sendiri. Mereka lebih umum datang karena depresi, kecemasan, atau masalah hubungan.
Ulasan ilmiah menunjukkan kemajuan dalam pemahaman serta pendekatan terapi selama dekade terakhir, tetapi masih diperlukan penelitian intervensi yang lebih besar.
Jika kamu atau orang terdekat memiliki tanda-tanda ini, pastikan untuk:
– Pertimbangkan evaluasi profesional bila pola perilaku konsisten dan mengganggu pekerjaan/relasi.
– Terapi dapat mengurangi konflik interpersonal, membantu regulasi emosi, dan membangun empati, tetapi perubahan memerlukan waktu dan komitmen.
– Bagi yang menjadi korban atau hidup bersama orang dengan ciri narsistik, kamu harus menjaga batas sehat, mencari dukungan (terapi keluarga atau dukungan korban), dan prioritas keselamatan emosional adalah penting.
Gangguan kepribadian narsistik jauh lebih kompleks daripada stereotip “sombong”.
Dengan pemahaman klinis yang tepat berdasarkan kriteria diagnostik, bukti epidemiologi, dan penelitian terapi, kita bisa mengenali tanda-tanda halus, menolong orang yang membutuhkan, dan membatasi dampak negatif pada keluarga serta lingkungan.
Rasinesia

