Mengenal Diplopia, Penyebab Penglihatan Ganda Hingga Pengobatannya

Ilustrasi diplopia. Foto: Alodokter

 

JAKARTA – Melihat satu benda seakan menjadi dua sering kali membuat seseorang cemas dan bertanya-tanya, apakah sekadar kelelahan mata atau tanda masalah serius. Dalam dunia medis, kondisi ini dikenal dengan istilah diplopia.

Diplopia adalah kondisi medis ketika seseorang melihat satu objek menjadi dua (penglihatan ganda). Penglihatan ganda ini bisa muncul secara horizontal (objek tampak berdampingan), vertikal (objek tampak bertumpuk), atau bahkan diagonal.

Dilansir dari laman Halodoc, diplopia bisa terjadi pada satu mata saja (monokular diplopia) atau pada kedua mata (binokular diplopia). Perbedaan ini penting karena penyebabnya bisa berbeda.

Monokular diplopia biasanya terkait dengan masalah langsung pada mata, seperti katarak, astigmatisme, atau kelainan kornea. Sedangkan, binokular diplopia umumnya terkait dengan masalah koordinasi otot mata atau gangguan saraf yang mengatur pergerakan mata.

Penyebab diplopia beragam, mulai dari gangguan ringan hingga kondisi serius. Beberapa penyebab yang paling umum antara lain seperti gangguan pada otot mata. Gangguan ini dapat berupa strabismus (juling) yang membuat kedua mata tidak sejajar atau miastenia gravis, penyakit autoimun yang melemahkan otot mata.

Penyebab lainnya bisa juga karena masalah saraf, seperti stroke yang merusak saraf pengatur otot mata, multiple sclerosis yang mengganggu sistem saraf pusat, hingga cedera kepala yang merusak jalur saraf mata.

Kelainan pada mata seperti katarak yang mengaburkan lensa mata, keratokonus atau perubahan bentuk kornea dan astigmatisme berat, juga bisa menjadi penyebab seseorang mengalami diplopia.

Kondisi lain juga dapat menjadi penyebab dari diplopia seperti diabetes yang merusak pembuluh darah mata, tumor otak yang menekan saraf penglihatan dan infeksi atau peradangan di sekitar mata.

Dikarenakan penyebab diplopia bisa sangat beragam, pemeriksaan medis menjadi penting untuk menentukan langkah pengobatan yang tepat.

Gejala diplopia yang perlu dikenali

Tanda utama diplopia adalah penglihatan ganda. Namun, ada beberapa gejala lain yang sering menyertai, di antaranya:

  • Sakit kepala atau rasa berat di sekitar mata.
  • Mual dan pusing karena otak kesulitan memproses gambar ganda.
  • Kesulitan membaca atau fokus pada teks.
  • Mata sering terasa lelah.
  • Menyipitkan satu mata untuk mengurangi penglihatan ganda.

Pada kasus yang lebih serius, diplopia bisa muncul bersamaan dengan gejala neurologis lain seperti kelemahan wajah, kesulitan bicara, atau kehilangan keseimbangan.

Cara diagnosis diplopia

Diagnosis diplopia dilakukan melalui pemeriksaan mata lengkap oleh dokter spesialis mata. Beberapa metode yang sering digunakan antara lain:

  1. Tes penglihatan standar untuk mengukur ketajaman mata.
  2. Cover test untuk melihat kesejajaran mata dan mendeteksi strabismus.
  3. Pemeriksaan slit lamp untuk memeriksa kornea, lensa, dan retina.
  4. Pencitraan (CT scan atau MRI) bila dicurigai ada masalah pada otak atau saraf.
  5. Tes darah untuk mengecek kemungkinan penyakit autoimun atau diabetes.

Dengan diagnosis yang tepat, dokter bisa menentukan apakah diplopia disebabkan oleh masalah mata atau kondisi neurologis yang lebih serius.

Pengobatan diplopia

Pilihan pengobatan diplopia tergantung penyebab utamanya. Beberapa metode pengobatan yang umum meliputi:

  • Kacamata khusus atau lensa prisma untuk mengoreksi arah cahaya yang masuk ke mata.
  • Operasi mata untuk memperbaiki otot mata yang tidak sejajar (misalnya pada strabismus).
  • Obat-obatan seperti kortikosteroid untuk mengurangi peradangan atau obat imunosupresif pada miastenia gravis.
  • Terapi penyakit dasar seperti kontrol gula darah pada diabetes atau pengobatan tumor jika ada.
  • Penutup mata (eye patch) sementara untuk mengurangi penglihatan ganda.

Konsultasi dengan dokter mata dan, bila perlu, dokter saraf sangat penting agar terapi bisa sesuai dengan kondisi spesifik kamu.

Tips Hidup Sehat bagi Penderita Diplopia

Selain pengobatan medis, kamu bisa melakukan beberapa langkah sederhana agar kondisi diplopia lebih terkendali seperti menggunakan penerangan yang baik saat membaca atau bekerja. Hindari aktivitas berisiko tinggi seperti menyetir saat diplopia belum tertangani.

Kamu juga bisa lakukan latihan mata sesuai saran dokter untuk memperkuat koordinasi otot mata. Jangan lupa mengonsumsi makanan sehat kaya vitamin A, lutein, dan omega-3 untuk menjaga kesehatan mata.

Rutinlah mengontrol kesehatan terutama jika kamu punya penyakit kronis seperti diabetes atau hipertensi. Dengan pola hidup sehat, risiko komplikasi bisa ditekan, meskipun diplopia tetap perlu penanganan medis.

Gejala diplopia tidak hanya mengganggu aktivitas, tapi juga bisa menjadi tanda kondisi medis serius. Diagnosis yang cepat dan akurat sangat penting untuk menentukan pengobatan yang tepat, baik melalui kacamata khusus, obat, atau operasi.

Selain itu, menjaga gaya hidup sehat juga bisa membantu mengurangi risiko perburukan. Kalau kamu mengalami gejala diplopia, jangan tunda untuk memeriksakan diri.

Kamu bisa langsung bicarakan keluhanmu dengan dokter spesialis mata agar mendapatkan penanganan yang tepat dan cepat.

Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top