
JAKARTA – Hari ini, tomat mudah kita temukan di mana saja: di dapur rumah, restoran mewah, hingga salad dalam kemasan. Tapi, pernahkah kamu kepikiran dari mana sih tomat itu berasal?
Ternyata, buah kecil berwarna merah ini punya sejarah panjang yang melintasi benua dan budaya lho.
Bahkan, tomat awalnya sempat dianggap tanaman beracun saat pertama kali dibawa ke Eropa, sebelum akhirnya populer di Italia dan menyebar ke seluruh dunia sebagai bahan makanan penting.
Bagaimana awal sejarah panjang tomat yang ada di dapur mama kamu itu?
Tomat Berasal dari Amerika Latin
Tomat berasal dari wilayah Amerika Latin, terutama Meksiko dan Peru, di mana tanaman ini sudah dibudidayakan oleh suku Aztek dan suku Inca. Tomat dimakan oleh suku Aztec sejak tahun 700 Masehi.
Kata “tomat” sendiri berasal dari bahasa Nahuatl (bahasa Aztek) yaitu “tomatl”, yang berarti buah berair.
Bagi suku Aztek, tomat bukan hanya makanan, tapi juga bahan penting dalam pengobatan tradisional. Mereka menggunakan tomat dalam berbagai masakan, mulai dari saus hingga minuman herbal.
Dibawa ke Eropa
Pada awal abad ke-16, penjajah Spanyol yang kembali dari ekspedisi Mesoamerika diperkirakan pertama kali memperkenalkan tomat di Eropa selatan. Beberapa peneliti memuji Cortez dengan membawa benih ke Eropa pada tahun 1519 untuk tanaman hias.
Di dalam catatan sejarah menunjukkan bahwa tomat baru ditanam di Inggris sekitar 1590-an. Hingga akhir tahun 1800-an di iklim yang lebih sejuk, tomat hanya ditanam untuk keperluan mempercantik kebun alih-alih untuk dimakan.
Dilansir dari laman National Geographic, sejarah mencatat, sekitar tahun 1880, dengan penemuan pizza di Naples, tomat semakin populer di Eropa. Tapi ada sedikit cerita di balik ketidakpopuleran buah yang disalahpahami di Inggris dan Amerika. Ini dijelaskan Andrew F. Smith dalam The Tomato in America: Early History, Culture, and Cookery.
Sebelum penemuan pizza, para bangsawan di Inggris dan Amerika jatuh sakit dan mati setelah mengonsumsi tomat yang menggiurkan. Kenyataannya, orang Eropa kaya menggunakan piring timah, yang kandungan timbalnya tinggi.
Karena tomat sangat tinggi keasamannya, saat diletakkan di atas peralatan makan khusus ini, buahnya akan melepaskan timbal dari piring. Ini mengakibatkan banyak kematian akibat keracunan timbal.
Namun di masa lalu, tidak ada yang memperhatikan hubungan antara piring dan racun pada saat itu. Maka, tomat lah yang menjadi “kambing hitam”.
Salah satu referensi Eropa paling awal untuk makanan tersebut dibuat oleh herbalis Italia, Pietro Andrae Matthioli. Ia pertama kali mengklasifikasikan tomat sebagai nightshade (tanaman yang memang punya anggota beracun, Solanaceae) dan mandrake, kategori makanan yang dikenal sebagai afrodisiak.
Mandrake memiliki sejarah yang berasal dari Alkitab Perjanjian Lama, yang secara kasar diterjemahkan menjadi apel cinta. Dalam Kitab Kejadian, mandrake digunakan sebagai ramuan cinta.
Menurut Smith, sebagian besar informasi soal tomat tidak benar. Misalnya, publikasi tentang tomat oleh Gerard di Herball. Gerard menganggap seluruh tanaman tomat berbau busuk dan bau. Sementara daun dan tangkai tanaman tomat beracun, sedangkan buahnya tidak.
Pendapat Gerard tentang tomat, meskipun didasarkan pada kekeliruan, berlaku di Inggris dan koloni Inggris di Amerika Utara. Informasi yang sesat ini dipercaya selama lebih dari 200 tahun.
Sekitar waktu itu juga dipercaya bahwa tomat paling baik dimakan di negara-negara yang lebih panas.
“Seperti tempat asal buah ini di Mesoamerika,” tulis K. Annabelle Smith di laman Smithsonian Magazines.
Namun seiring waktu, masyarakat Mediterania mulai berani mencobanya sebagai bahan makanan. Di Italia, tomat akhirnya menjadi bahan utama dalam berbagai resep ikonik seperti saus pasta dan pizza— menjadikannya bagian tak terpisahkan dari identitas kuliner mereka.
Tomat Menyebar ke Seluruh Dunia
Dari Italia, tomat menyebar ke seluruh Eropa, lalu ke Timur Tengah, Asia, dan akhirnya menjadi bagian dari hampir semua masakan dunia.
Kini, tomat hadir dalam berbagai bentuk: mentah, dimasak, dikeringkan, dijus, bahkan difermentasi.
Setiap negara mengadopsi tomat sesuai selera dan tradisinya. Di Indonesia sendiri, tomat sering digunakan dalam sambal, sayur asem, sop, hingga jus.
Evolusi Modern: Dari Kebun ke Teknologi
Di masa kini, pertanian tomat terus berkembang. Tak hanya soal hasil panen, tapi juga kualitas rasa, nutrisi, dan keberlanjutan lingkungan. Inilah yang mendorong lahirnya inovasi tomat seperti Cherry Tomato Stevia.
Berbeda dari tomat biasa, Cherry Tomato Stevia memiliki rasa manis alami yang berasal dari stevia, bukan tambahan gula.
Varietas ini merupakan hasil perpaduan teknologi pertanian Korea dan kesuburan tanah Indonesia. Teksturnya renyah, rasanya segar, dan cocok jadi camilan sehat yang dinikmati siapa saja.
Dari Masa Lalu ke Masa Depan
Perjalanan tomat dari suku Aztek hingga ke piring salad modern menunjukkan satu hal: makanan punya kekuatan untuk melintasi budaya dan waktu. Dan dengan inovasi, tomat bukan hanya sekadar bahan makanan, tapi juga simbol dari gaya hidup sehat yang cerdas.
Rasinesia