
JAKARTA – Apakah berbuat baik untuk orang lain selalu berdampak positif bagi diri sendiri? Misalnya, seorang sukarelawan yang rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan sumber daya pribadi demi membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan.
Seorang sukarelawan sering kali disebut sebagai seorang altruis atau orang yang memiliki sikap altruisme. Sikap altruisme ini berlandaskan pada kepedulian tulus terhadap kesejahteraan orang lain, bukan pada keuntungan pribadi.
Altruisme adalah paham atau sikap yang lebih memperhatikan dan mengutamakan kepentingan orang lain. Pada dasarnya, ini merupakan kebalikan dari egoisme.
Dikutip dari laman American Psychological Association, altruisme artinya perilaku yang menguntungkan orang lain dengan mengorbankan diri sendiri.
Tindakan yang dilakukan oleh seorang altruis ini didasarkan keinginan untuk membantu, bukan karena kewajiban terhadap perkerjaan atau alasan apa pun.
Dalam beberapa kasus, tindakan altruistik dapat membuat seseorang mempersulit dan bahkan membahayakan diri sendiri demi membantu orang lain.
Oleh sebab itu, paham altruisme bisa berdampak baik sekaligus buruk bagi penganutnya.
Jenis-jenis altruisme
Para pakar psikologi telah membedakan perilaku altruistik ke dalam beberapa jenis:
Altruisme genetik
Sesuai dengan namanya, altruisme genetik (genetic altruism) merupakan perilaku membantu atau berkorban untuk individu lain yang masih memiliki hubungan kekerabatan atau kesamaan gen, dengan tujuan meningkatkan peluang gen tersebut untuk bertahan dan diwariskan ke generasi berikutnya.
Sebagai contoh, orangtua yang berusaha untuk menyekolahkan anak, memberi makan, dan memenuhi kebutuhan lain tanpa meminta imbalan.
Di dalam dunia hewan, misalnya, seekor lebah pekerja rela mempertaruhkan nyawanya untuk melindungi sarang karena koloni tersebut berisi saudara-saudaranya yang memiliki banyak kesamaan gen.
Altruisme timbal balik
Altruisme timbal balik (reciprocal altruism) didasari simbiosis mutualisme alias hubungan yang sama-sama saling menguntungkan.
Sikap menolong orang lain dengan harapan bahwa bantuan tersebut akan dibalas di masa depan, baik oleh orang yang sama maupun oleh pihak lain.
Konsep ini sering muncul dalam hubungan sosial, di mana kerja sama saling menguntungkan membantu kedua pihak bertahan.
Misalnya, seseorang membantu tetangganya memperbaiki atap rumah, dengan keyakinan bahwa suatu hari tetangga itu akan membantunya saat ia membutuhkan bantuan.
Altruisme yang dipilih kelompok
Tindakan yang dilakukan dalam altruisme yang dipilih kelompok (group-selected altruism) akan melibatkan keterlibatan orang-orang yang memiliki keterikatan tertentu.
Perilaku menolong atau berkorban yang dilakukan demi kepentingan kelompok sendiri, biasanya untuk meningkatkan kelangsungan hidup dan kekuatan kelompok tersebut dibanding kelompok lain.
Dalam konsep ini, seseorang rela mengorbankan kepentingan pribadi demi kemajuan kelompok, meski tidak semua anggota kelompok adalah kerabat dekat.
Contohnya bisa terlihat pada pasukan militer yang mempertaruhkan nyawa demi melindungi negaranya, atau anggota komunitas yang bekerja keras menjaga sumber daya bersama agar kelompoknya tetap bertahan.
Altruisme murni
Altruisme murni (pure altruism) merupakan sikap menolong yang dilakukan sepenuhnya demi kepentingan orang lain, tanpa motif tersembunyi, harapan balasan atau keuntungan pribadi, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam altruisme murni, kepuasan yang dirasakan bukan berasal dari imbalan atau pengakuan, tetapi dari kenyataan bahwa orang lain terbantu.
Misalnya, menyumbang secara anonim kepada korban bencana, di mana pemberi bantuan bahkan tidak dikenal oleh penerima bantuan.
Contoh altruisme dalam kehidupan sehari-hari
Tanpa disadari, Anda mungkin telah melakukan tindakan altruistik dalam kehidupan sehari-hari. Tindakan kecil ini dapat berupa menahan tombol saat ada orang yang masuk-keluar lift ataupun memberikan sedikit uang kepada orang lain yang membutuhkan.
Dalam buku Encyclopedia of Geropsychology (2015) disebutkan bahwa altruisme adalah salah satu aspek dari sesuatu yang dikenal sebagai perilaku prososial (prosocial behavior).
Perilaku prososial dilakukan secara sukarela dan sengaja dengan maksud memberikan manfaat kepada orang lain. Alhasil, segala tindakan yang mengacu pada altruisme harus dilakukan untuk membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan dalam bentuk apa pun.
Sebenarnya, perilaku altruistik tidak hanya memberikan manfaat kepada orang lain yang mendapatkan bantuan. Anda sebagai orang yang melakukan kebaikan juga akan merasakannya.
Bahkan, sejumlah penelitian juga telah menghubungkan manfaat perilaku baik ini dengan kesehatan fisik dan mental seperti berikut.
1. Meningkatkan rasa bahagia
Mengikuti kegiatan amal dan memberikan donasi ternyata bisa mengaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan perasaan senang dan puas.
Selain itu, kebaikan yang Anda lakukan juga dipercaya dapat membantu meningkatkan pelepasan endorfin pada otak sehingga mengurangi stres dan rasa cemas.
2. Mendukung kesehatan fisik dan mental
Seorang altruis biasanya memiliki kesehatan fisik yang lebih baik dibandingkan dengan mereka yang tidak. Sebagai contoh, sukarelawan yang aktif pada kegiatan kemanusiaan.
American Public Health Association juga menyebutkan efek rasa senang saat membantu orang lain dapat mengurangi risiko kematian, khususnya pada lansia.
Bahkan, aktif melakukan kebaikan juga dapat meningkatkan kesehatan pada pengidap penyakit kronis, seperti HIV dan multiple sclerosis, penyakit autoimun kronis yang menyerang sistem saraf pusat, terutama otak dan sumsum tulang belakang dengan merusak mielin, yaitu lapisan pelindung di sekitar serabut saraf.
3. Meningkatkan kualitas hubungan
Memiliki kepedulian tinggi terhadap orang lain ternyata dapat meningkatkan kualitas hubungan Anda dengan pasangan.
Sebuah penelitian dalam Journal of Personality (2019) menyatakan bahwa kebaikan merupakan salah satu kualitas paling penting yang dicari-cari orang saat memilih pasangan.
Maka dari itu, peduli dan berbuat baik kepada orang lain bisa meningkatkan ketertarikan lawan jenis kepada diri Anda.
Namun, jangan sampai sengaja berbuat baik hanya untuk mencari pasangan. Lakukan dengan tulus semata-mata hanya untuk memberikan bantuan kepada orang lain.
Rasinesia