Pagpag, Simbol Perjuangan dan Seni Bertahan Hidup dari Pinggiran Filipina

Seorang ibu sedang berjualan Pagpag. Foto: Project PEARLS

 

JAKARTA – Di pinggiran kota besar Negara Filipina, kita dapat menjumpai satu nama makanan yang terdengar unik dan lengkap dengan kisah menarik di baliknya—yaitu pagpag.

Pagpag ini lazim ditemui pada wilayah sub-urban atau pinggiran Kota Manila, terutama di daerah kumuh seperti Tondo.

Dalam Bahasa Tagalog, sebenarnya pagpag sendiri memiliki arti “membersihkan debu”. Tetapi konteks kali ini, pagpag memiliki makna yang jauh lebih spesifik lagi: mengambil sampah makanan sisa restoran cepat saji, mengumpulkan, dan mengolahnya kembali untuk kemudian dikonsumsi dan dijual dengan harga murah.

Praktik ini dimulai pada akhir abad ke-20 dan masih berlangsung hingga sekarang di beberapa komunitas miskin. Pagpag muncul dari getir kenyataan pahit kemiskinan yang ekstrem di sudut negara yang dijuluki Lumbung Padi Asia Tenggara ini.

Bagi mereka, daging ayam segar seakan menjelma barang mewah yang cukup sulit untuk diperoleh karena kondisi perekonomian serba pas-pasan di wilayah tersebut.

Kondisi ekstrem ini tentu mendorong sebagian orang untuk mencari cara lain agar tetap bisa bertahan hidup juga mengisi perut. Lokasi pembuangan sampah restoran junk-food merupakan lokasi ideal untuk mengais bahan baku utama pagpag.

Mengolah Sampah Restoran Jadi Makanan Murah Meriah

Makanan ini tidak langsung disantap mentah-mentah dari tempat pengumpulan awal, tetapi diseleksi dari sampah lain dan dikumpulkan terlebih dahulu.

Sisa daging di tempat sampah yang tidak termakan tersebut dipisahkan dari tulang, dibersihkan, kemudian dimasak kembali dengan bumbu khas oleh si pengolah.

Saat sudah jadi, pagpag biasanya disantap atau dijual kembali dengan harga yang pastinya ditujukan untuk kaum tidak mampu.

Awalnya, pagpag hanya jadi penyelamat perut buat orang yang sudah benar-benar tidak punya pilihan untuk bertahan hidup. Tapi makin kesini, praktik ini berubah jadi semacam usaha kecil.

Sampai-sampai ada orang yang khusus mengumpulkan sisa-sisa makanan dalam jumlah banyak, masak ulang pakai bumbu bawang, kecap, atau racikan khas Filipina supaya aromanya wangi dan rasanya tetap gurih. Potongan daging dari restoran mewah yang telah diolah kembali itu, kemudian dijual dengan harga murah.

Dengan ini, bukan hanya pembeli yang kenyang, tapi si penjual juga dapat penghasilan. Seolah-olah ini adalah nafas dari roda pergerakan ekonomi di pinggiran kota besar Filipina. 

Untuk orang luar yang tidak terbiasa dengan situasi kesulitan mencari makanan, apalagi yang hidup di kota dengan pilihan makanan melimpah, barangkali ide untuk mengolah kembali makanan bekas dari tempat sampah terdengar menjijikkan.

Tapi di banyak komunitas tidak mampu, pagpag sudah menjadi simbol bertahan hidup. Anak-anak yang tumbuh besar dengan pagpag tidak pernah merasa bahwa itu adalah hal yang aneh. Mereka hanya tahu kalau itu enak dan bikin perut terisi. 

Pagpag mulai dikenal dunia setelah media dalam dan luar Filipina, film dokumenter, hingga video perjalanan seseorang yang berkunjung, mengangkat kisah ini. Reaksi orang beragam—ada yang kaget dan prihatin, ada juga yang melihatnya sebagai bukti ketangguhan manusia untuk bertahan hidup di situasi ekstrem.

Bagi sebagian orang Filipina, pagpag bukan soal rasa atau tren, tapi soal pilihan hidup yang tak bisa diajak kompromi.

Sampai sekarang, pagpag tetap hidup di pinggiran Manila. Dia tidak akan muncul di menu restoran atau festival kuliner. Tapi ia hadir di gang-gang sempit dan dapur seadanya.

Pagpag tetap dimasak setiap hari. Untuk sebagian orang, itu mungkin hanyalah kisah dari negeri lain. Tapi untuk mereka yang terbiasa hidup dengan pagpag, makanan ini adalah bukti nyata bahwa rasa lapar bisa mengalahkan rasa jijik.

Fenomena ini juga menegaskan fakta bahwa di tengah segala keterbatasan, manusia akan selalu menemukan cara untuk bertahan, walaupun terlihat sangat memprihatinkan.

Rega Maulana

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top