Perjalanan Melintasi Ruang Hingga “Terjebak” Waktu Berulang dalam Film-film Bertema ‘Time Loop’

Poser Film Sore: Istri dari Masa Depan. Foto: Instagram/@cerita_films

 

JAKARTA – Film terbaru Indonesia berjudul “Sore: Istri dari Masa Depan” yang ditulis dan disutradarai oleh Yandy Laurens menjadi perbincangan di berbagai kalangan. Ulasan positif membanjiri film yang diproduksi oleh rumah produksi Cerita Films ini.

Pasalnya, kisah yang dikembangkan Yandy dari web series-nya ini menawarkan kisah cinta dan perjuangan Sore (Sheila Dara) demi menyelamatkan pasangannya, Jonathan (Dion Wiyoko) dari kematian di masa depan.

Film ini mengusung cara penceritaan yang tidak biasa di antara banyaknya film-film Indonesia yang sedang tayang di bioskop, mulai dari genre horor yang nyaris tak pernah kosong hingga komedi dan drama keluarga.

Hal ini tentu membuat posisinya punya daya tawar tersendiri di hati penonton. Sebelumnya, Yandy Laurens juga berani tampil beda memproduksi film dengan format hitam putih berjudul “Jatuh Cinta Seperti di Film-Film” (JESEDEF) dan berhasil meraih 651.074 penonton setelah 64 hari tayang di bioskop.

Per 14 Agustus 2025, melalui unggahan Instagram @cerita_films, film “Sore: Istri dari Masa Depan” telah berhasil meraih 3 juta penonton dan hingga hari ini, Jumat (15/8/2025) masih tayang di bioskop. Sebuah pencapaian tersendiri bagi Yandy di dalam perjalanan karirnya sebagai seorang sutradara muda potensial yang dimiliki Indonesia.

Secara garis besar, film “Sore: Istri dari Masa Depan” mengusung cara penceritaan dengan memanfaatkan konsep time loop. Time loop merupakan konsep naratif dalam film atau cerita di mana seorang tokoh atau sekelompok tokoh mengalami kejadian yang sama berulang kali, seolah-olah waktu kembali ke titik awal.

Meskipun tergolong genre yang relatif baru dalam perfilman Indonesia, beberapa film terdahulu telah mencoba mengeksplorasi tema ini. Beberapa contoh film Indonesia yang mengangkat tema time loop adalah “Sabar Ini Ujian”, “Kembang Api”, “Satu Hari dengan Ibu” dan “Sore: Istri dari Masa Depan”.

Film-film time loop sering kali mengeksplorasi berbagai hal, seperti:
  • Penebusan:
    Karakter harus menebus kesalahan mereka di masa lalu atau mengubah perilaku mereka untuk keluar dari putaran waktu.

  • Pilihan:
    Menyoroti pentingnya pilihan dan konsekuensi dari tindakan.

  • Kesempatan kedua:
    Perulangan waktu memberikan karakter kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahan mereka atau memperbaiki hubungan mereka.

  • Belajar dari kesalahan:
    Karakter harus belajar dari kesalahan mereka di masa lalu untuk keluar dari putaran waktu.

Jejak Time Loop: Dari Eksperimen Fiksi Ilmiah hingga Tren Populer

Ide tentang time loop atau seseorang yang terjebak dalam siklus waktu berulang, memiliki akar panjang dalam dunia sastra sebelum menjadi fenomena di layar lebar.

Menurut analisis yang dihimpun The New Yorker (2014), konsep ini sudah muncul dalam cerita seperti Strange Life of Ivan Osokin  yang ditulis P.D Ouspensky (1915) yang mengeksplorasi pengulangan hidup dari sudut pandang filosofis.

Namun, di dunia film, benih time loop mulai tumbuh secara nyata di era 80-an dan 90-an.

Era Eksperimen: 1980-an hingga Awal 1990-an

Pada akhir 80-an, beberapa film televisi mulai bermain dengan gagasan pengulangan waktu. Salah satu yang sering disebut pelopor adalah “12:01 PM (1989), film pendek adaptasi karya Richard Lupoff, yang kemudian diadaptasi ulang menjadi “12:01” (1993) dalam format film TV.

Menurut catatan dari Los Angeles Times (1993), film ini memanfaatkan unsur sains fiksi yang ketat, mengaitkan loop waktu dengan eksperimen teknologi.

Namun, momen yang benar-benar mempopulerkan konsep ini datang lewat film “Groundhog Day” (1993). Disutradarai Harold Ramis dan dibintangi Bill Murray, film ini memadukan komedi, romansa, dan refleksi eksistensial.

Time Magazine (1993) mencatat bahwa “Groundhog Day” bukan sekadar hiburan, tapi juga metafora perjalanan hidup, sehingga menjadi tolok ukur bagi film-film time loop berikutnya.

Eksperimen Visual dan Narasi: Akhir 1990-an

Tahun 1998, sutradara Tom Tykwer merilis “Run Lola Run (Lola rennt)”, film Jerman yang membawa energi baru pada time loop.

Berbeda dari “Groundhog Day” yang fokus pada pengembangan karakter, “Run Lola Run memanfaatkan pengulangan sebagai struktur naratif penuh aksi.

Sebagaimana ditulis Variety (1999) bahwa film ini menjadi contoh bagaimana time loop bisa digunakan untuk membangun ketegangan visual dan emosional dalam waktu singkat.

Gelombang Baru Fiksi Ilmiah: 2010-an

Memasuki dekade 2010-an, konsep time loop berkembang lebih kompleks. “Source Code (2011), karya Duncan Jones, memadukan teori paralel dan alternate timelines dengan drama psikologis.

Kemudian film “Edge of Tomorrow” (2014), adaptasi dari novel Jepang All You Need Is Kill, menambahkan skala perang epik dan aksi berulang.

Bahkan, The Guardian (2014) memuji film ini sebagai “kombinasi sempurna antara narasi video gim dan sinema blockbuster”.

Di sisi horor, “Happy Death Day” (2017) membuktikan bahwa time loop bisa dipadukan dengan genre slasher. Christopher Landon, sang sutradara, menyatakan kepada Entertainment Weekly bahwa pengulangan waktu memberinya kesempatan untuk mengeksplorasi dinamika karakter dan komedi, sambil tetap menjaga ketegangan.

Eksplorasi Emosi: 2020-an

Dekade terbaru membawa time loop ke ranah komedi romantis dan eksistensial. “Palm Springs” (2020) mengajak penonton ke pesta pernikahan yang berulang tanpa akhir, namun dengan sentuhan humor segar dan dialog reflektif.

Sementara itu, “Boss Level” (2021) mengembalikan time loop ke jalur aksi intens, mirip dengan format video gim.

Seiring berkembangnya platform streaming, film dan serial time loop semakin bervariasi, dari drama introspektif hingga aksi penuh ledakan.

Menurut riset Screen Rant (2022), daya tarik time loop terletak pada kombinasi antara narasi yang memutar dan kepuasan melihat karakter menguasai situasi yang awalnya tak terkendali.

Film-film Time Loop Indonesia

Indonesia juga punya beberapa film yang mengusung tema time loop. Film komedi romantis garapan Anggy Umbara berjudul “Sabar Ini Ujian” (2020) mengisahkan Sabar (Vino G. Bastian) yang menghadiri pernikahan mantan kekasihnya, Astrid. Namun keesokan harinya, ia terbangun dan mendapati dirinya kembali ke hari yang sama, hari pernikahan Astrid secara berulang kali.

Ia harus mencari cara agar bisa keluar dari loop tersebut. Tema healing, penerimaan masa lalu, dan peluang kedua terasa kuat di sini.

Kemudian, ada film “Satu Hari dengan Ibu” (2023) yang menceritakan tentang Dewa (Chand Kelvin) terjebak dalam lingkaran waktu setelah bentakannya terhadap sang ibu, sesaat sebelum sang ibu meninggal.

Ia terulang terus dalam momen tersebut dan di setiap loop, berbeda respons yang ia hadapi. Hanya respon yang tepat yang akan membebaskannya dari siklus itu. Film ini mengeksplorasi pentingnya menghargai waktu bersama orang tua.

Adaptasi dari film Jepang “3ft Ball & Soulsberjudul “Kembang Api” bercerita tentang empat orang yang berniat bunuh diri bersama dengan meledakkan bola kembang api.

Anehnya, mereka justru selamat dan terjebak dalam situasi hidup yang terus diulang. Film ini menawarkan sudut pandang serius terhadap isu kesehatan mental, dibalut dengan elemen time loop.

Terakhir, film romansa fantasi berjudul “Sore: Istri dari Masa Depan” yang menceritakan sosok Jonathan dan Sore, dengan sudut pandang berbeda yang semakin memperkuat efek time loop.

Sore menemukan dirinya terjebak dalam pengulangan waktu saat momen emosional terjadi bersama Jonathan. Penggunaan sudut pandang multi-layer membentuk pengalaman emosional yang dalam.

Rasinesia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top