
JAKARTA – Sekarang mudah bagi kita menemukan di luar sana yang membuat kita harus bilang “bacot, lu!”. Dari pengalaman atau hal seperti itulah, unit musik rock asal Batulicin, Kalimantan Selatan, Primitive Monkey Noose, terinspirasi merilis single terbaru berjudul Pandir Wara yang bekerja sama dengan perusahaan rekaman asal Jakarta, demajors.
Lirik Pandir Wara bermakna harfiah dan sarkas. Secara harfiah judul lagu ini hanya akan menjadi guyonan ala tongkrongan, tetapi secara filosofis ia akan menjadi semacam pengingat akan dampak dari sesuatu yang tidak konsisten. Sesuatu yang memperdayai, bahkan sesuatu yang penuh dengan kebohongan. Hal ini juga bagian dari respon kondisi sosial politik dan bermasyarakat hari ini.
Secara musikal, Pandir Wara adalah cross-over genre lintas disiplin, tanpa keluar dari karakter awal mereka, Tetap memegang peranan penting, namun kali ini menggunakan notasi nada yang lebih mudah diterima atau familiar.
Baca Selengkapnya: Elma Dae Rilis Single “Cinta Terindah” , Kisah Cinta Tragis yang Dibalut Orkestra dari Budapest
Artwork single ini dikerjakan oleh Reggy Dyanta, ilustrator asal Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Menurut Reggy, lagu Pandir Wara ini memiliki makna yang lebih luas.
“Lagu Pandir Wara menginspirasi visualisasi yang mengundang kita merenung: sampai sejauh mana kita berani bergerak, atau memilih tetap diam. Terinspirasi dari energi musik dari Primitive Monkey Noose, karya ini menjelmakan nilai dan kritik sosial terhadap beberapa masyarakat Banjar yang kerap terjebak dalam sikap pasif di tengah situasi yang membutuhkan pergerakan kolektif; yang enggan melangkah keluar dari zona nyaman,” ujar Reggy menjelaskan, dalam keterangan pers, Senin (27/10/2025).
Reggy menambahkan, di pusat komposisi ilustasi, seekor Bekantan (Nasalis larvatus) berjubah berdiri memunggung di atas ranting. Sebagai primata endemik Kalimantan yang hidup berkoloni, kehadirannya membawa simbol keterikatan dengan komunitas.
Pandangannya yang mengarah ke belakang seakan memuat keraguan atau mungkin kegelisahan seorang yang hendak memulai perjalanan panjang. Latar belakang menampilkan hutan dengan siluet pepohonan, bulan purnama yang membesar di langit, dan langit berliuk menciptakan suasana surealis.
Di satu sisi, hadir fragmen dramatis: bekantan dan ular besar saling bertatapan—sebuah konfrontasi yang tak terelakkan, simbol pertarungan antara diam dan perlawanan, antara pandir wara dan keputusan untuk bergerak, bertindak atau menyerah.
“Pandir Wara adalah ajakan untuk menengok kembali ke dalam diri, merenungi posisi kita: tetap bertahan bersama koloni yang pasif, atau berani melompat sendirian menuju pergerakan,” tambah Reggy.
Primitive Monkey Noose berisikan Richie Petroza (vokal), Oveck Arsya (gitar), Ridho (gitar), Wan Arif Fadly (panting), Denny Sumaryono (gitar bas), dan Juli Yusman (drum).
Single Pandir Wara sudah tersedia di berbagai platform streaming digital mulai 25 Oktober 2025.
Rasinesia


Pingback: Shabrina Leanor Mencoba Bangkit di Single Terbaru “Sembuh Kembali” – Rasinesia