
JAKARTA – Pencapaian 10 juta lebih penonton film animasi “Jumbo” karya Ryan Adriandhy tentu menjadi standar yang tinggi dan “beban berat” bagi film animasi setelahnya. Film animasi yang dikerjakan dengan penuh dedikasi selama kurang lebih 5 tahun itu menguras tenaga, pikiran dan materi yang tidak sedikit dari orang-orang di balik layar.
Ditambah lagi, kemajuan industri animasi di Indonesia juga sudah mendapat perhatian dari banyak kalangan. Berbagai cerita yang diangkat berdasarkan mitos, cerita rakyat, dongeng, sejarah, hingga superhero lokal, turut serta dalam mengembangkan industri film animasi di Indonesia.
Nah, jika pencapaian Jumbo telah berada di tahap “masa depan cerah” bagi animasi Indonesia, animasi-animasi setelahnya secara tidak langsung tentu dituntut, baik dari segi produksi hingga ekspektasi penonton, untuk lebih baik lagi dari yang sebelumnya.
Menilik hal itu, belakangan warganet atau netizen di sosial media turut serta memberikan perhatian pada salah satu animasi Indonesia. Film animasi berjudul “Merah Putih: One For All” yang akan tayang di bioskop pada tanggal 14 Agustus 2026 (berdasarkan jadwal di Cinema XXI). Film animasi ini diproduksi oleh Perfiki Kreasindo dan disutradarai oleh Endiarto.
Sinopsis Merah Putih: One For All
Animasi ini bercerita tentang sebuah desa yang tenang dalam semangat menyambut Hari Kemerdekaan Indonesia. Sekelompok anak terpilih menjadi “Tim Merah Putih” untuk menjaga bendera pusaka yaitu bendera yang selalu dikibarkan pada setiap upacara 17 Agustus tiap tahunnya.
Namun 3 hari sebelum upacara, bendera itu hilang. Delapan anak dari berbagai latar belakang budaya — Betawi, Papua, Medan, Tegal, Jawa Tengah, Makassar, Manado, dan Tionghoa — bersatu dalam misi heroik: menyelamatkan bendera merah putih pusaka yang hilang secara misterius.
Mereka harus mengatasi perbedaan, menembus sungai, hutan dan badai, bahkan meredam ego masing-masing demi satu tujuan mulia: mengibarkan bendera di Hari Kemerdekaan.
Dengan keberanian, kerja sama, dan cinta tanah air, mereka menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah halangan, melainkan kekuatan. Mereka memulai petualangan mencari Bendera, menelusuri hutan, sungai, dan menghadapi konflik batin.
Film ini penuh dengan momen lucu, menegangkan, emosional, dan menggugah jiwa, sarat nilai persatuan, persahabatan, dan semangat cinta nasionalisme anak-anak Indonesia masa kini.
Kritik Tajam Merah Putih: One For All
Sinopsis cerita dari animasi ini cukup menggugah rasa nasionalisme. Tetapi, alih-alih mendapatkan sambutan yang hangat saat peluncuran trailer, film animasi “Merah Putih One For All” yang akan tayang ini justru mendapatkan kritikan tajam.
Banyak yang menganggap bahwa kualitas visual dari film ini buruk dan tidak rapi dalam segi eksekusi.
Meski mengembang tugas mulia lagi berat dari segi judul dan sinopsisnya, ada juga netizen yang beranggapan bahwa animasi ini dikerjakan secara terburu-buru. Bahkan, ada juga yang menilai bahwa film ini seperti projek yang dikerjakan oleh anak SMA.
Kehadiran film animasi ini kemudian disandingkan dengan pencapaian visual yang disuguhkan “Jumbo” kepada penonton. Tentu ini pukulan telak bagi tim produksi, mengingat ekspektasi penonton di Indonesia cukup tinggi dan kritis dalam memberikan komentar terhadap film apapun yang sudah dirilis ke publik.
Ditambah lagi, animasi ini disandingkan dengan animasi yang meraih penonton bioskop sebanyak 10 juta. Artinya, standar animasi Indonesia sudah tinggi dan animasi “Merah Putih: One For All” dianggap belum bisa mencapai standar itu dan berada jauh di bawah standar tersebut.
Dalam menyambut hari kemerdekaan Indonesia yang ke-80 tahun, kehadiran tontonan untuk anak-anak yang mampu meningkatkan rasa cinta tanah air tentu menjadi sebuah oase di tengah krisis identitas yang dialami generasi muda Indonesia saat ini. Banyaknya invasi budaya dari luar perlahan semakin menggerus identitas anak bangsa.
Animasi Indonesia Punya Potensi Lebih Besar
Artinya, disaat film animasi “Merah Putih: One For All” mendapatkan kritikan tajam bahkan sebelum filmnya tayang, ini bisa jadi sebuah alarm peringatan bagi para kreator animasi, bahwa Indonesia mampu memproduksi animasi yang jauh lebih bagus lagi dari film animasi ini.
Lagi-lagi, “Jumbo” menjadi bukti bahwa dedikasi, kerja keras, kecintaan, dan mengerjakan semuanya dengan hati, akan jauh lebih memberikan manfaat dan kebahagiaan bagi banyak orang.
Indonesia kaya akan budaya, tradisi, cerita rakyat, hingga superhero lokal yang dapat dikembangkan sebagai potensi yang besar. Tentunya, dukungan semua pihak, termasuk pemerintah, perlu mencarikan solusi agar potensi industri animasi lebih berkembang lagi.
Misalkan, memberikan pelatihan yang lebih rutin dan terstruktur secara jadwal, pemberian materi yang berbobot dari para profesional, penyediaan perangkat yang lebih baik, beasiswa sekolah animasi, hingga mendirikan ruang-ruang untuk berkreativitas bagi para kreatornya.
Hal itu tentu juga menjadi yang paling fundamental dalam membangun dan mengembangkan industri ini. Nah, terlepas dari bagaimana hasil yang didapatkan oleh film animasi “Merah Putih: One For All” setelah tayang di bioskop nantinya, masyarakat tetap perlu mendukung kemajuan industri ini. Tetapi, tetap dengan memberikan kritikan yang objektif demi kemajuan bersama di masa mendatang.
Rasinesia