
JAKARTA – Film berjudul Blonde yang disutradarai oleh Yuichiro Sakashita tayang perdana minggu ini di kompetisi utama Tokyo International Film Festival (TIFF). Sutradara muda berusia 38 tahun itu menyajikan satir tajam dan lantang tentang konformitas dalam sistem pendidikan Jepang.
Dilansir dari The Hollywoord Reporter, film ini berpusat pada seorang guru SMP yang penurut (penyanyi populer yang kini menjadi aktor Takanori Iwata) yang hidupnya berantakan ketika murid-muridnya menggelar “protes berambut pirang” terhadap aturan sekolah yang sangat ketat dan ketinggalan zaman. Media sosial dengan cepat mengubah pemberontakan sederhana itu menjadi tontonan nasional.
Memadukan komedi dan konflik sosial, Blonde melanjutkan karya Sakashita yang populer di tahun 2022, The Sunday Runoff , dengan menyoroti kesenjangan yang semakin lebar antara norma sosial generasi tertua dan termuda di Jepang, serta sikap apatis yang terlalu umum di kalangan milenial yang berada di antara keduanya.
Diproduksi oleh studio The Klockworx yang berbasis di Tokyo, film ini menandai karya Sakashita yang paling apik hingga saat ini. Menghadirkan apa yang ia sebut komedi “datangnya usia paruh baya”, sekaligus menangkap absurditas institusi yang dibangun untuk menjaga ketertiban tanpa mempedulikan konsekuensinya.
Dalam keterangan The Hollywood Reporter, Sakashita mengaku bahwa sekitar empat atau lima tahun yang lalu, para produser datang kepadanya dengan saran untuk mengerjakan sebuah proyek bersama.
“Saat itu, saya ingin membuat film tentang peraturan sekolah yang ketat dan absurd yang sering muncul di berita. Saat itu, ada banyak diskusi di Jepang tentang apa yang kami sebut “black kōsoku ” — peraturan sekolah yang keras dan ketinggalan zaman yang tidak sesuai dengan nilai-nilai kontemporer,” ungkap Sakashita.
Menurutnya, perdebatan berpusat pada sekolah menengah pertama dan atas yang masih memaksa siswa untuk mengikuti aturan kuno tentang gaya rambut dan penampilan.
Ada satu kasus yang menjadi topik pembicaraan utama, yaitu seorang siswa menggugat sekolahnya dan dewan pendidikan setempat karena memaksanya mengecat rambut alaminya yang berwarna terang menjadi hitam untuk mematuhi peraturan sekolah bahwa semua siswa harus berambut hitam.
“Saya pikir itu akan menjadi titik awal yang menarik untuk sebuah film,” katanya.
Sakashita membutuhkan beberapa perubahan dan belokan untuk sampai pada struktur akhir film dan tipe protagonis yang ingin digambarkan. Awalnya, ia membayangkan sebuah film ansambel yang berfokus pada orang dewasa: guru, dewan pendidikan, hingga kementerian. Semuanya berjuang menghadapi absurditas aturan sekolah ini ketika siswa mulai memberontak.
“Namun, ketika saya membagikan naskah itu, tanggapannya biasa saja. Dramanya tidak terlalu menarik. Jadi, saya menyusun ulang ceritanya di sekitar satu protagonis. Saat itulah ceritanya menjadi semacam “kisah dewasa” tentang seorang pria berusia 30 tahun yang dipaksa untuk tumbuh dewasa melalui interaksinya dengan aktivisme siswa. Evolusi karakternya terasa komedi, jadi kami condong ke nada itu.” jelas Sakashita.
Menurut Sakashita, biasanya kita akan mengharapkan para siswa menjadi protagonis dalam cerita semacam ini. Namun, pikirnya akan lebih menarik jika guru menjadi tokoh utama, seseorang yang harus menghadapi aturan-aturan yang tidak masuk akal tetapi tetap harus menegakkannya karena begitulah cara kerjanya di sekolah-sekolah Jepang. Ironisnya, para siswa sudah cukup dewasa dan gurulah yang harus dewasa.
“Saat saya mendalami karakternya, saya menyadari bahwa menginjak usia 30 tahun adalah momen penting di Jepang. Secara budaya, orang-orang di sini terobsesi dengan masa muda, sehingga bahkan sebagai orang dewasa, kita diam-diam berharap masih muda. Rasa tidak aman dan nostalgia itulah yang menjadi inti dari cara saya menggambarkannya.” jelas Sakashita.
Baca Selengkapnya: Film “Mishima: A Life in Four Chapters” Karya Paul Schrader Akhirnya Akan Tayang di Jepang Setelah 40 Tahun Dilarang Secara De Facto
Karakter itu menurut Sakashita muncul dari rasa takut yang ia sadari dalam dirinya. Sekitar waktu ia mulai mengembangkan proyek ini, istilah lain sedang tren di Jepang: rōgai — yang secara harfiah berarti “masalah yang disebabkan oleh pria tua yang toksik”.
Istilah ini merujuk pada pria paruh baya atau lebih tua yang mengatakan hal-hal yang ketinggalan zaman atau tidak peka di depan umum atau daring, tanpa menyadari bagaimana hal itu terdengar bagi generasi muda. Mereka sering terkejut ketika dikritik karena mereka benar-benar merasa bahwa mereka mengatakan sesuatu yang mengagumkan.
Kurangnya kesadaran diri itu dan ketakutan bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi seperti itu—menjadi akar dari sang protagonis.
“Sehati-hati apa pun kita, mudah sekali terjebak dalam pola pikir itu. Kita semua bertambah tua dan masyarakat terus berubah. Jadi, ia adalah karakter yang didorong oleh rasa takut. Ia tidak tahu harus berpihak pada siapa: ia meromantisasi dukungan terhadap generasi muda, tetapi setiap kali ia mencoba, mereka menganggapnya memalukan. Ketegangan itulah yang benar-benar mendefinisikan dirinya,” ujar Sakashita.
Film Sakashita sebelumnya, The Sunday Runoff , juga menggunakan satir ringan untuk mengkritik birokrasi. Ia jarang melihat satir sosial yang berani dalam film-film Jepang akhir-akhir ini. Ia memilih genre tersebut dan melibatkan satir politik yang belakangan “langka” dalam sinema Jepang kontemporer yang mana dulunya satir politik cukup umum.
Sakashita mengaku menikmati banyak genre berbeda dalam kariernya, tetapi sebagai seorang pembuat film, ia harus memikirkan cara untuk menonjol dan cara membangun suara yang unik.
“Jadi, sejujurnya, mengeksplorasi satir politik dan sosial merupakan pilihan yang strategis, karena sangat sedikit sutradara di Jepang yang melakukannya. Jika saya mencoba membuat kisah cinta, bidang itu akan sangat ramai,” jelasnya.
Tapi, pilihan itu juga berasal dari selera pribadinya. Sakashita menyukai komedi. Ia berujar bahwa tumbuh besar dengan menonton film-film komersial dan menyerap kekayaan budaya humor Jepang.
“Saya selalu condong ke sisi komersial dalam pembuatan film, alih-alih sinema seni murni. Menggabungkan kepekaan itu dengan komentar sosial terasa pas dan sesuatu yang tidak banyak dilakukan orang lain,” kata Sakashita.
Film Blonde ini pada akhirnya bertransisi menuju alur perkembangan dan penyelesaian emosional yang lebih tradisional dan jelas. Itulah kisah yang ingin disampaikan Sakashita. Tetapi pertanyaan besarnya adalah apakah Sakashita berpikir bahwa ia bisa “lolos” dengan membuat film yang lebih gelap dan lebih agresif dalam sistem Jepang saat ini? Apakah studio dan produser akan mengizinkannya?
Mengenai pertanyaan itu, Sakashita menjawab bahwa kalau Anda seorang sutradara mapan dengan reputasi besar, mungkin iya.
“Tapi bagi saya yang masih muda, itu akan sangat sulit. Meski begitu, saya rasa ada ruang untuk kedua jenis cerita: cerita di mana protagonisnya akhirnya menjadi simpatik dan cerita di mana ia tidak, untuk menyampaikan pesan yang lebih dalam. Keduanya bisa sangat kuat dengan cara yang berbeda,” ungkap Sakashita.
Mengenai rambut pirang atau blonde, bagi Sakashita, di sekolah-sekolah Jepang—terutama SMP—sudah lama menjadi standar bahwa siswa harus berambut hitam. Setiap penyimpangan dari itu, entah pirang atau bahkan cokelat, langsung menandai seseorang di cap sebagai anak nakal.
Jadi, bukan warna pirang itu sendiri yang berarti sesuatu, melainkan tindakan tidak berambut hitamlah yang memicu reaksi. Hal itu memicu semacam penolakan spontan dari orang dewasa dan pihak berwenang.
“Alasan lain saya memilih rambut pirang karena warna itu memicu reaksi paling ekstrem yang mungkin terjadi dalam konteks itu dan terlihat sangat mencolok di kamera.” tutup Sakashita.
Rasinesia


Pingback: “Ridiculousness” Dibatalkan di MTV Setelah 46 Musim – Rasinesia