Tertindas Itu Wajib, Dilindas Itu Bonus: Kerasnya Hidup sebagai Driver Ojek Online

Ilustrasi Affan, driver ojol yang ditabrak mobil rantis Brimob Polri di Pejompongan, Kamis (28/8/2025). Foto: Instagram/@luthfihinelo

 

JAKARTA – Hidup sebagai driver ojek online (ojol) memang luar biasa istimewa: tertindas sudah jadi kewajiban, dilindas hanyalah bonus tambahan yang datang tanpa harus minta.

Mereka manisnya disebut “mitra”, padahal sejatinya lebih mirip pion murahan di papan catur digital. Digerakkan semaunya oleh aplikasi yang menetapkan tarif seharga sebungkus gorengan basi.

Ironi menohoknya, meski mereka jadi urat nadi mobilitas kota, nasibnya justru kerap digilas, entah oleh aturan, jalanan, atau roda kendaraan yang lebih besar dan lebih berkuasa.

Di balik senyum sopan saat mengetuk pintu mengantar pesanan, tersimpan realitas getir: seharian berkeliling hanya untuk saldo yang lebih cepat habis daripada isi tangki bensin.

Tragisnya lagi, risiko mereka bukan sekadar hujan, panas, atau razia jalanan, melainkan juga peluang menjadi “korban roda” kendaraan taktis yang memburu dengan gagah, tanpa sedikit pun peduli siapa yang hancur di bawahnya.

Maka, jadilah profesi ini bukan sekadar pekerjaan, melainkan arena gladiator jalanan modern: dipuja saat dibutuhkan, ditonton saat jatuh dan ditinggalkan saat tubuhnya tergilas.

Ekonomi Receh: Dibayar Receh, Tapi Bahaya Jalanan Justru Mahal

Menjadi driver ojol adalah profesi di mana keringat bisa ditukar dengan saldo recehan, tapi bahaya di jalan tetap harus dibayar mahal.

Seperti yang diungkap dalam penelitian Analisis Perbandingan Manajemen Keuangan Ojek Online dan Ojek Reguler di Duren Sawit, pendapatan rata-rata ojol sebesar Rp100 ribu per hari dengan jumlah rata-rata tabungan sebesar Rp11.000 hingga Rp21.000 per hari.

Bayangkan, setelah seharian menyusuri jalanan, yang tersisa hanyalah uang yang bahkan tidak cukup untuk secangkir kopi premium.

Ironi ini semakin diperparah dengan fakta yang dipaparkan Center of Economic and Law Studies (Celios) bahwa rata-rata pengemudi ojol bekerja 55 jam per minggu hanya untuk memperoleh pendapatan sekitar Rp2,84 juta per bulan, hampir setara pekerja formal 41 jam kerja.

Jadi jelas, mereka bukan sekadar ‘mitra’ teknologi, melainkan gladiator jalanan yang bertarung demi recehan, dengan risiko tubuh dilindas kapan saja.

Jadi, mari kita luruskan harapan: mereka bukan memilih kerja seperti ritual heroik. Mereka hanya berjuang dengan recehan di tangan, sambil selalu was-was. Siapa bilang “gladiator” selalu mendapat mahkota, padahal yang sering mereka dapatkan justru ban yang meremukkan tubuh?

Bonus Tragedi: Dari Order ke Aspal, dari Mitra ke Korban

Ternyata benar, jadi driver ojol bukan cuma soal “mengantarkan” makanan, tapi juga siap “dihantarkan” ke rumah sakit, atau lebih tragis lagi, ke liang lahat.

Di negeri yang selalu bangga dengan jargon “perlindungan rakyat kecil”, para ojol justru bisa dapat bonus berupa tubuh mereka yang dilindas kendaraan besar. Mungkin inilah makna sejati kata “mitra”: mitra kerja ketika sehat, mitra korban ketika tergeletak di jalan.

Penelitian internasional bahkan sudah lama memperingatkan. Christie & Ward dalam Journal of Transport & Health (2019) menemukan bahwa “42% pekerja gig pernah mengalami kecelakaan yang merusak kendaraan mereka dan 10% melaporkan cedera diri saat bekerja”.

Ironinya, ketika ojol benar-benar dilindas, yang menanggung beban bukan sistem besar, melainkan tulang, daging, dan darah ojol itu sendiri.

Jalanan menjadi arena yang tak kenal ampun, di mana pengemudi motor kecil harus berbagi ruang dengan kendaraan besar yang merasa berhak melintas tanpa kompromi.

Dan ketika tragedi itu terjadi, bentuk ungkapan negara berduka selalu saja lewat sebatas kalimat formal. Sedangkan, respon publik sekadar menjadikannya headline, lalu melupakannya seperti lalu lintas yang kembali padat.

Pada akhirnya, driver ojol seolah ditakdirkan menjadi “asuransi jalanan” gratis menanggung risiko agar yang lain bisa tetap merasa aman di balik kemudi.

Pelindung yang Melindas: Ironi Seragam di Atas Aspal

Polisi, katanya, adalah “pengayom dan pelindung masyarakat”. Tapi apa jadinya jika pelindung justru berubah jadi roda yang melindas?

Seragam yang semestinya jadi simbol rasa aman malah jadi bayangan yang membuat orang bergidik di jalan raya. Maka, ketika driver ojol tergilas bukan oleh nasib, melainkan oleh kendaraan taktis aparat, satir ini menulis dirinya sendiri: siapa sebenarnya yang harus ditakuti, pelanggar hukum atau mereka yang membawa lambang hukum itu sendiri?

Ada pepatah lama: “hukum tumpul ke atas, tajam ke bawah.” Nyatanya, di aspal tanggal 28 Agustus 2025, pepatah itu bertransformasi jadi nyata.

Ojol yang setiap hari bergulat dengan panas, hujan, dan risiko jalanan, ternyata masih harus siap menghadapi bonus tak tertulis: ban mobil aparat yang melintas tanpa rasa bersalah.

Apa bedanya tragedi ini dengan kecelakaan biasa? Bedanya, di sini yang melindas adalah pihak yang seharusnya melindungi. Itu seperti dokter yang sengaja menyebarkan penyakit, atau guru yang dengan sadar menghapus papan tulis masa depan muridnya.

Lebih getir lagi, peristiwa itu justru diperlakukan seolah insiden semata, bukan cermin dari kekacauan lebih besar. Padahal, kalau aparat bisa seenaknya menggilas rakyat kecil, maka hukum bukan lagi panglima, melainkan ban cadangan: dikeluarkan hanya ketika menguntungkan, lalu disimpan kembali begitu merepotkan.

Satirnya jelas: di negeri ini, nyawa ojol bisa ditukar dengan permintaan maaf singkat, mungkin juga janji penyelidikan yang akhirnya lenyap bersama waktu.

Jadi, jika polisi disebut pelindung, mungkin harus ditambahkan catatan kaki: pelindung selama kamu tidak berada di bawah rodanya.

Gladiator Jalanan yang Tak Pernah Dimenangkan

Hidup sebagai driver ojol pada akhirnya bukan sekadar mencari nafkah. Ini adalah pertunjukan tragis yang terus berulang di jalanan.

Mereka disebut mitra, tapi diperlakukan bagai pion murahan di papan catur. Mereka disebut tulang punggung mobilitas kota, tapi nyawa mereka bisa patah kapan saja, bahkan oleh roda kendaraan taktis aparat yang mestinya menjaga mereka.

Ironi besar negeri ini adalah rakyat kecil harus bekerja sampai jungkir balik demi receh, lalu masih harus siap jadi korban entah oleh nasib, aturan, atau ban mobil yang tak peduli siapa yang ada di bawahnya.

Dan setelah itu? Mungkin headline sehari, trending sesaat, lalu lenyap. Tak ada sistem yang berubah, tak ada pelindung yang benar-benar melindungi.

Maka, jika gladiator Romawi dulu berjuang demi tepuk tangan penonton, gladiator jalanan bernama ojol hanya berjuang demi saldo digital dan secuil harapan pulang dengan tubuh utuh.

Tragisnya, di arena ini tidak ada pemenang. Hanya ada penonton yang lupa dan penguasa yang pura-pura peduli.

Pada akhirnya, driver ojol di negeri ini bukan cuma tertindas oleh tarif murah, tapi juga siap dilindas oleh ban besar milik aparat negara.

Jadi kalau ditanya siapa sebenarnya yang memberi rasa aman di jalan? Jawabannya sederhana: bukan seragam, tapi doa agar hari ini tidak bertemu “ban” yang salah.

Selamat beristirahat dalam tenang kawan kita semua, Affan Kurniawan, drivel ojol yang berpulang karena dilindas mobil rantis Brimob Polri di Pejompongan, di tengah kekisruhan demo yang terjadi.

Sebagaimana kami tutup tulisan ini dengan kutipan lirik lagu dari .Feast berjudul Berita Kehilangan:

“Kau telah menjadi abadi

Di hati

Di sejarah kami”.

Selamat jalan, Affan, sang “mitra” perjuangan!

A.C.A.(K)B!

Yogi Pranditia

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top