[ULASAN] Membaca Kedekatan Perantau dengan Puisi “7.4” dalam Himpunan Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar Putra

Buku Himpunan Puisi “Hantu Padang” Karya Esha Tegar Putra. Foto: Rasinesia/Kurnia Maesaroh

JAKARTA Hantu Padang merupakan buku himpunan puisi karya Esha Tegar Putra yang berhasil meraih penghargaan sebagai pemenang kusala sastra khatulistiwa 2025 kategori puisi. Esha Tegar Putra seorang penyair indonesia asal Solok, Sumatera Barat.

Esha Tegar Putra menyelesaikan sarjana di Jurusan Sastra Indonesia, Universitas andalas dan magister di Departemen Ilmu Susastra, Universitas Indonesia. Dalam buku himpunan puisi Hantu Padang, salah satu puisinya berjudul 7.4

7.4 

        Setelah hutan demi hutan 

        Kembali ke dalam buaian kain sarung 

        Perang 

                       Serupa tingam 

                                       Merusak kedalam 

         Dan kalian adalah inti segala obat pelerai demam 

Dalam puisi 7.4 karya Esha Tegar Putra, pada bait, Dan kalian adalah inti segala obat pelerai demam, penandaan ‘kalian’ dapat diartikan sebagai “seseorang” yang dapat digambarkan sebagai si ‘Aku’ yang bercerita tentang beberapa orang yang ia anggap sebagai ‘obat pelerai demam’.

Pada bait pertama terdapat kata ‘hutan’. Hutan adalah hamparan lahan luas yang sebagian besar lahannya ditumbuhi pepohonan yang lebat, suasana ketika melewati hutan terasa tenang, mencekam. Dalam bait pertama digambarkan seseorang menempuh perjalanan panjang yang melewati hutan berkepanjangan sebab terdapat penekanan melalui kata ‘demi’ yang artinya hutan yang dilalui tak hanya sekali tapi berkali-kali.

Baca Selengkapnya: Seminar Sehari Bersama Esha Tegar Putra: “Hantu Padang” di Antara Jalan Panjang Hingga Perantauan Ulang-Alik

Hutan dalam puisi 7.4 dapat dimaknai sebagai pesan yang ingin disampaikan bahwa sejauh apapun perjalanan yang ditempuh dan betapa lelahnya atas perjalanan panjang, seseorang akan tetap kembali pada kenyamanan yang diberi oleh rumah dan mereka yang menjadi “rumah”. 

Kembali ke dalam buaian kain sarung

Buaian kain sarung adalah sebuah ayunan tradisional yang terbuat dari kain sarung ataupun kain panjang yang diikatkan pada pasak pintu atau pasak kuda-kuda rumah. Dibuat untuk mempermudah orang tua dalam menidurkan/menenangkan anak-anak mereka. Buaian kain sarung dibuat untuk menggantikan ayunan rotan sebab menghemat biaya jika harus membeli ayunan dari rotan.

Bait ini dapat dimaknai sebagai “pulang ke rumah”, sebab buaian kain sarung biasanya hanya ada di rumah yang dihuni orang tua, bukan rumah kost-an yang dihuni di tanah perantauan seorang diri. Buaian kain sarung terasa sangat nyaman ketika diayun oleh ibu, sehingga diri yang di dalamnya mudah untuk terlelap.

Hal ini juga diperkuat dengan kata “kembali” yang dapat dimaknai pulang ke tempat di mana ada buaian kain sarung. “Buaian kain sarung” menyimbolkan “kenyamanan” yang hanya ada di rumah yang ada di tanah kelahiran,  digantung pada pasak kuda-kuda rumah, diayun penuh kasih oleh ibu sehingga diri yang ada di buaian kain sarung itu menemui rasa nyaman, tenang. 

Perang

Serupa tingam 

Merusak kedalam

Perang dapat diartikan sebagai konflik antara diri sendiri, antara kelompok, antar negara pada bait ini, menyimpan makna adanya perang dengan diri sendiri seperti pertentangan antara pemikiran diri sendiri dan pengalaman buruk yang pernah didapati dalam perjalanan sebagai perantau.

Setiap pengalaman buruk terlebih trauma tentunya takkan hilang seutuhnya dan meninggalkan sisa, digambarkan pada bait “Serupa tinggam”. Menurut KBBI, kata tinggam berarti batang kayu yang tersisa setelah pohon ditebang, tapi dalam puisi 7.4 tinggam dapat di maknai memori indah ataupun buruk sehingga ketika memori itu kembali teringat, terbayang dalam diam, memori itu tak pernah hilang ataupun benar-benar sembuh dari trauma maupun kejadian buruk yang pernah dialami.

Segala kejadian yang pernah dialami tak pernah benar-benar hilang. ‘merusak ke dalam’ bait ini dapat diartikan bahwa kejadian buruk dan trauma mempengaruhi diri yang mengalami, akan selalu merasa diikuti oleh bayang-bayang masa lalu, trauma masa lalu yang merusak perasaan yakin sebab takut, kejadian dan trauma yang tak sepenuhnya hilang, selesai sehingga terus merasakan sesak sebab ‘merusak ke dalam’ 

Dan kalian adalah inti segala obat pelerai demam 

Baris ini dapat dimaknai ketika si seseorang sampai di rumah. Memori dan pengalaman buruk itu berhasil diobati dengan segala kasih keluarga yang ada di rumah. “Demam” penyakit yang sering kali melanda ketika merindukan keluarga dengan rindu yang teramat dan ‘kalian’ dalam bait ini merujuk pada keluarga yang menjadi obat dari kerinduan yang teramat sehingga terungkap menjadi demam. Demam yang dialami sembuh bukan karena obat dokter, tapi ketika si seseorang sampai di rumah dan bertemu keluarga setelah perjalanan panjang selama di tanah rantau.

Kurnia Maesaroh

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top