
JAKARTA – Gugup dan demam panggung menjadi perasaan yang tepat bagi seseorang yang pertama kali mencoba membuat loncatan besar dalam perjalanan kariernya, terlebih bagi mereka yang berdiri di depan panggung untuk tujuan melucu dan menghibur hati banyak orang. Siapapun tak peduli pada apa yang ia rasakan di belakang panggung, penonton hanya butuh hiburan dan gelak tawa atas harga sebuah pertunjukan yang mereka bayar.
Barangkali, rasa ketidaksiapan atau takut gagal di percobaan pertama pada momen penting tentunya juga dirasakan oleh Komika asal Padang yang dikenal dengan nama Aulia Ambon. Namun, semua itu akhirnya berhasil ia patahkan dengan sorak sorai dan riuh tepuk tangan penonton yang standing ovation mengiringi penutupan penampilan stand up comedy nya.
Aulia Maulana Putra, Komika asal Padang yang lebih akrab dipanggil Aulia Ambon sukses memecah tawa penonton dalam show bertajuk “KELUARGA (L)AWAK” pada Sabtu, 15 Desember 2025 di Le-Lucon Space, Padang.
Show ini menjadi show pertama bagi Ambon yang juga dikenal sebagai entrepreneur muda dan konten kreator kelahiran Padang, sekaligus menjadi show stand up comedy ketiga yang pernah diselenggarakan oleh Komika dari Stand Up Indo Padang setelah Praz Teguh dan Rin Hermana yang saat ini sudah malang melintang berkarier di nasional.
Sebagaimana tajuk show-nya, Ambon “membongkar” isi dapur keluarga yang selama ini belum pernah ia ceritakan di depan penonton. Menceritakan tentang suka duka perjalanan hidupnya sebelum berkeluarga, masa-masa merintis hidup dari bawah, hingga sukses seperti sekarang dengan berbagai cabang usaha mie yang ia tekuni sejak beberapa tahun terakhir di Kota Padang.
Ambon memasuki panggung dengan setelan menggunakan jas dan tampil rapi. Meski secara tampak luaran sedikit kurang cocok dengan perawakannya yang beringasan, rambut keriting tebal dan panjang, dan wajah yang malam itu seperti ingin menerkam semua penonton. Tapi, itulah Aulia Ambon yang sekarang, yang tampil tidak apa adanya seperti dulu.
Dalam suasana Le-Lucon Space yang sudah dihadiri lebih dari seratus orang pada malam itu (sold out), Ambon membuka materi stand up nya dengan menceritakan pengalamannya sebelum meraih sukses seperti sekarang.
Ia memulai karier dan menceritakan kisahnya sebagai seorang pengantar galon. Membuka tabir penolakan atas kisah percintaannya di depan mama crush-nya yang seringkali sinis dan menyindirnya saat ia bertamu ke rumah. Direndahkan, dianggap hina, bahkan dicaci maki sudah menjadi hal yang biasa bagi Ambon kala itu. Tetapi, lewat peristiwa itulah ia bertekad untuk menjadi sukses di kemudian hari dan “membeli” semua omongan orang-orang yang pernah merendahkannya.
Dalam seisi ruangan yang dipenuhi tawa penonton, beberapa kali Ambon melakukan act out yang menghentak panggung untuk mendukung materinya dan memancing keriuhan penonton. Nyaris seluruh teknik dalam stand up comedy ia gunakan untuk mendukung pertunjukannya pada malam itu.
Aksi lucu dan tingkah polah di atas panggung dengan menghadirkan mimik wajah “orang susah” yang mendukung dari perawakannya itu, membuat Ambon semakin percaya diri dan membunuh rasa gugupnya di momen penting show nya.
Titik balik
Pada momen ini, Ambon berhasil menarik atensi penonton untuk fokus menyaksikan pertunjukan, membuatnya semakin yakin untuk melangkah ke materi berikutnya. Rasa gugup di awal, meskipun ia tampak lihai menyembunyikannya, perlahan-lahan berhasil ia bunuh.
Seiring tawa penonton yang mereda untuk beberapa saat sembari ia menyeka keringat, minum beberapa tegukan, dan transisi ke premis selanjutnya, Ambon melanjutkan pembahasannya pada persoalan perkenalan dengan sang istri yang semula hanyalah teman main biasa.
Bagaimana perbedaan atas penerimaan 180 derajat yang ia rasakan dari keluarga teman (baca: istri) dengan crush yang sebelumnya, membuat Ambon merasa bahwa masih ada keluarga teman yang melihat dirinya tanpa memandang status dan tampilan luar. Walau dulu tak bisa dibanggakan, ia bersyukur bisa diterima di keluarga “temannya” itu.
Singkat cerita setelah perjuangan yang panjang, perjalanan hidupnya berubah pasca ia membuka usaha kuliner mie bersama kerabatnya. Di momen inilah kehidupan Ambon berubah. Cerita ini pun tak luput dari materi show nya. Usahanya yang viral di Kota Padang kala itu sebagai pelopor usaha mie, membuat orang-orang berbondong penasaran dan kembali lagi mencoba mie nya. Kesuksesan itu tentu bukan jalan pintas. Ada usaha, air mata dan “jalur langit” yang kuat di baliknya.
Sejak saat itu, orang-orang melihatnya tak lagi seperti Ambon yang dulu: susah, tukang antar galon, miskin, dan tak punya apa-apa, dan sering diremehkan. Semua perjuangan dan rasa sakit itu ia tumpahkan dalam show nya yang menyentuh hati, meski tingkah konyolnya tetap saja membuat penonton tertawa dalam sedikit perasaan “bersalah”: ikut menertawakan kesusahannya.
Bagaimana ia pasca menikah menjadi seorang suami, kemudian disusul dengan kelahiran anaknya yang penuh drama dan perjuangan antara hidup dan mati sang anak, serta pola asuh anak yang coba ia ubah dari cara-cara lama, juga tak luput dari pembahasan Ambon. Pembuktiannya menjadi seorang suami sekaligus ayah diuji pada fase ini.
Pada momen menjelang akhir show nya, Ambon menghadirkan refleksi perihal bagaimana seorang bapak yang sering bermenung di teras rumah berteman kopi pahit dan isapan rokok yang dalam: token listrik yang berbunyi, biaya susu anak, dan kebutuhan rumah tangga lainnya, yang kadang sukar diceritakan oleh sosok seorang ayah kepada siapapun.
Kilas balik yang coba ia hadirkan dalam materinya dari sosok sang ayah yang sering bermenung dengan mengenakan singlet dan kain sarung pada malam hari di teras rumah, membuat banyak penonton merasa relate pada apa yang dipertunjukan Ambon.
Baca Selengkapnya: Drama Religi Hingga Komedi Horor, 4 Film Indonesia Tayang Serentak di Bioskop 13 November 2025
Di posisinya yang sekarang, ia akhirnya sadar kenapa ayahnya dulu sering di teras rumah seorang diri saat kondisi ekonomi nya masih pas-pasan. Momen ayahnya dulu adalah dirinya hari ini yang ia wakilkan di atas panggung. Ungkapan “laki-laki tidak bercerita” itu bagi Ambon adalah sosok ayah yang duduk di teras rumah.
Pada materi penghujung akhir ini, penonton merasakan roller coaster emosi yang bercampur aduk: sedih, bahagia, tawa, suka, duka, hingga ada yang meneteskan air mata. Apakah benar orang yang paling keras tertawanya adalah orang yang menyimpan luka paling dalam? Show Ambon yang diselenggarakan dalam kondisi langit malam yang gerimis selepas hujan menjawab itu semua.
Pada bagian akhir show nya, Ambon berpesan kepada sang anak untuk tumbuh lebih baik daripada dirinya. Ia merasa bahwa dirinya belum mampu menjadi ayah yang baik bagi sang anak, meski ia sudah mencoba memberikan segalanya apa yang ia punya. Lonjakan emosi penonton pada momen ini berubah menjadi haru biru. Rasa simpati terhadap perjuangan Ambon berubah menjadi empati yang mendalam.
Dengan segala kekurangan fisik yang ia terima, ia tak ingin anaknya merasakan hal yang sama dengan dirinya. Berbekal ketidaktahuan dalam mendidik anak dan memilih jalan pola asuh dengan caranya sendiri, inilah yang menjadi trigger bagi penonton untuk menaruh standing ovation kepada Ambon, di luar dari materinya yang rapat, padat, dengan kedalaman pembahasan dan riset, hingga patahan komedi yang mampu memantik tawa sepanjang pertunjukan.
Ambon menutup pertunjukan dengan turut serta membawa keluarganya ke atas panggung, berterima kasih kepada penonton yang telah hadir, dan merasa bersyukur dikelilingi banyak orang yang supportif dalam mendukung perjalanan kariernya yang terjal.
Sebagai seorang Komika yang belum menginjakkan kaki di nasional, show ini adalah suatu kebanggaan baginya. Ia merasa bahwa siapapun bisa menjadi siapapun, begitupun dengan Komika yang ada di Kota Padang.
“Terima kasih kepada penonton yang sudah hadir. Saya tidak jadi menjual Pajero saya untuk pertunjukan ini. Semoga setelah ini nanti ada lagi show-show dari Komika Padang. Kita tunggu saja,” kelakar Ambon dalam penutupannya.
Sekilas KELUARGA (L)AWAK
Keluarga (L)awak yang diusung Ambon dalam show pertamanya ini menjadi momen krusial dengan desisi yang cukup matang. Ini pilihan tema yang dirasa tepat dalam membuka show. Menjadikan keluarga sebagai tema besar dalam pertunjukan, ditambah bagaimana kebanyakan penonton mengenal Ambon sebagai sosok perintis, membuat pertunjukan ini semakin menarik dan mengundang penonton untuk menertawakan kesusahannya bersama-sama di masa lalu dan masa sekarang.
Keluarga (L)awak yang jika dibaca “Keluarga Lawak” tentunya memiliki makna yang cukup personal bagi Ambon. “Keluarga lawak” dapat diartikan sebagai keluarga yang lawak (lucu), keluarga yang penuh tawa, atau keluarga yang menghibur, sebagaimana citra yang ia bangun bersama keluarganya di media sosial. Sedangkan, Keluarga (L)awak yang jika dibaca “Keluarga Awak”, berarti keluarga saya. Bagaimana kebanggaan Ambon dalam membangun keluarga kecilnya yang dipenuhi rasa cinta dan kasih sayang.
Semua itu ditumpahkan di dalam show “KELUARGA (L)AWAK” yang berdurasi lebih kurang 2 jam bersamaan dengan 3 Komika opener dari Stand Up Indo Padang yang mampu menghangatkan suasana membuka penampilan spesial Ambon: Yufi, Adit, Diwa. Banyolan Wahyu dan Dival Arsya selaku MC juga berhasil mengocok perut penonton dengan stelan baju tidur dan lawakan spontan mereka yang random serta absurd.
Show ini sekaligus menjadi pertanda bahwa iklim perkomedian di Kota Padang juga terus bertumbuh, semakin memantapkan diri dan menjadi ruang bagi siapa saja untuk dapat berproses, berbagi tawa dan cerita. Oleh karena itu, tertawalah sebelum tertawa itu dilarang!
Rasinesia


Pingback: Indonesia AIDS Coalition Gelar Kampanye Anti Stigma #TenangAdaGue – Rasinesia